Upload file TXT klaim, dapatkan insight dalam hitungan menit. Deteksi pending klaim, undercoding, dan peluang revenue yang terlewat.
Tanpa tools analisis yang tepat, rumah sakit kehilangan miliaran rupiah setiap tahun.
Klaim ditolak atau di-pending karena ketidaksesuaian diagnosa, prosedur, atau kelengkapan berkas. Proses KMKB (Kendali Mutu Kendali Biaya) dan verifikasi TKMKB semakin ketat.
Severity level tidak optimal menyebabkan tarif INA-CBG lebih rendah dari seharusnya. Undercoding bisa menyebabkan revenue gap 5-15% per kasus yang seharusnya bisa dioptimalkan.
Peluang top-up (ventilator, ICU, NICU, prosedur khusus) terlewat karena review manual tidak mampu menangkap semua anomali dari ribuan klaim.
3 langkah sederhana. Dari file TXT mentah menjadi insight yang actionable.
Upload file TXT klaim dari aplikasi INA-CBG atau INADRG. Mendukung format standar Kemenkes.
Algoritma AI memindai setiap klaim: mendeteksi anomali, mengevaluasi severity level, dan mengidentifikasi peluang top-up.
Dashboard visual dengan rekomendasi prioritas: klaim mana yang harus direvisi, peluang top-up, dan estimasi revenue recovery.
Bukan sekadar audit klaim — ini command center untuk keputusan strategis rumah sakit Anda.
Deteksi undercoding, missing charges, dan revenue leakage per kasus, per DPJP, per diagnosis.
Revenue BPJS vs Hospital charges, cost efficiency, top performing specialties.
Overall CMI score, trend, CMI per spesialisasi, dan benchmark comparison.
Produktivitas, avg LOS, revenue contribution, dan quality indicators per dokter.
Distribusi LOS per diagnosis, outlier detection, comorbidity analysis, seasonal patterns.
Bed Occupancy Rate, occupancy trends, peak periods, underutilized wards.
Distribusi grouping, revenue per group, case complexity, dan grouping accuracy.
Frekuensi prosedur, compliance with diagnosis, deteksi missing procedures.
Demografi pasien, pola kepulangan, pendapatan per poli, cara masuk, dan analisis discharge.
Deteksi kasus yang seharusnya pakai 1 kode kombinasi, bukan beberapa kode terpisah.
Validasi urutan kode diagnosis (primary vs secondary, Code First, Dagger/Asterisk).
Deteksi kode yang tidak boleh digunakan bersamaan (Excludes1 & Excludes2).
Deteksi readmission yang berisiko ditolak BPJS. Readmission rate dan top penyebab.
Multiple kunjungan terpisah untuk kondisi sama yang seharusnya 1 episode perawatan.
LOS tinggi + severity ringan, atau LOS rendah + severity berat. Deteksi inefficiency.
ICU, PRB, KNS, rawat inap sehari, same-day visits, delay rajal-ranap, kontrol post-ranap, dan lainnya.
Breakdown klaim: alkes/implant, ambulance, pelayanan darah, obat kronis (PRB), obat kemoterapi.
Trend keuangan, volume kasus, diagnosis & prosedur, dan metrik operasional lintas bulan.
Analisis mendalam: kanker, kardiovaskular, dialisis, obstetri, TB/HIV, pneumonia, PPOK, anemia, GEA, GERD, dan 23 kondisi lainnya.
Dari RS tipe C hingga tipe A, BPJScan membantu tim casemix bekerja lebih efisien dan memaksimalkan revenue klaim.
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RSUP Dr. Mohammad Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
SMC RS Telogorejo
RS Roemani Muhammadiyah
RS Universitas Andalas
RST Bhakti Wira Tamtama
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RSUP Dr. Mohammad Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
SMC RS Telogorejo
RS Roemani Muhammadiyah
RS Universitas Andalas
RST Bhakti Wira Tamtama"Sebelum BPJScan, kami review klaim secara manual dan sering terlewat. Sekarang pending rate turun drastis dan kami bisa fokus ke kasus-kasus yang benar-benar butuh perhatian."
Artikel terkait dari blog MedMinutes
Cara memastikan data kepesertaan pasien terverifikasi benar sebelum pelayanan untuk mencegah klaim pending.
Mengapa tim casemix sering harus klarifikasi ke DPJP dan bagaimana mengatasinya.
Pendekatan data-driven untuk memantau lama rawat pasien dan dampaknya pada klaim INA-CBG.
Jadwalkan demo 30 menit dengan tim kami. Bawa file TXT klaim Anda, dan kami tunjukkan langsung insight yang bisa didapat.
+62 821 6650 4618 · Respon cepat via WhatsApp