Transisi INA-CBG ke iDRG 2026: Apa yang Berubah, Status Implementasi, dan Persiapan Rumah Sakit
Transisi INA-CBG ke iDRG 2026: Apa yang Berubah, Status Implementasi, dan Persiapan Rumah Sakit
Ringkasan: iDRG (Indonesian Diagnosis-Related Groups) adalah generasi penerus INA-CBG sebagai sistem casemix dasar tarif Jaminan Kesehatan Nasional. Perubahan utamanya adalah severity level yang bertambah dari 3 menjadi 5, granularitas DRG yang lebih tinggi, dan tuntutan dokumentasi clinical complication-comorbidity (CC) dan major complication-comorbidity (MCC) yang lebih detail. Per April 2026, iDRG masih dalam fase transisi bertahap — belum ada tanggal go-live nasional yang resmi diumumkan. Artikel ini menjelaskan perbedaan struktural antara INA-CBG dan iDRG, dampak ke tarif RS, status implementasi terkini, dan persiapan operasional yang dapat dilakukan rumah sakit tanpa menunggu deadline pasti.
Mengapa Transisi INA-CBG ke iDRG Penting Dipahami
Sistem casemix adalah pondasi cara BPJS Kesehatan membayar rumah sakit untuk pelayanan rawat inap. INA-CBG yang berlaku sejak 2014 telah memberi keseragaman tarif lintas RS, namun memiliki keterbatasan struktural yang menyebabkan ketidakadilan tarif untuk kasus kompleks. iDRG dirancang untuk mengatasi keterbatasan ini.
Bagi RS, perubahan ini bukan sekadar perubahan tabel tarif. Ia menuntut perubahan dalam:
- Cara DPJP mendokumentasikan SOAP — severity dan komplikasi harus eksplisit
- Cara koder memilih kode ICD-10 — granularitas akan menentukan tarif lebih tajam
- Cara tim casemix melakukan audit — pre-submit audit menjadi lebih kritis
- Cara RS menyiapkan klaim untuk dispute — dokumentasi pendukung harus terstruktur
RS yang tidak mempersiapkan diri akan kehilangan tarif yang seharusnya didapat — bukan karena kasus klinisnya kurang kompleks, melainkan karena dokumentasinya tidak menangkap kompleksitas tersebut.
Perbedaan Struktural INA-CBG vs iDRG
Severity Level
INA-CBG memiliki 3 tingkat severity:
- I — Tanpa komplikasi
- II — Dengan komplikasi atau komorbiditas
- III — Dengan komplikasi mayor
iDRG akan memiliki 5 tingkat severity dengan granularitas lebih tinggi. Implikasinya: kasus yang sebelumnya dikodekan sebagai severity II di INA-CBG dapat dipisahkan menjadi 2–3 tingkat berbeda di iDRG, dengan tarif yang berbeda pula.
Granularitas DRG
INA-CBG memiliki sekitar 1.077 grup DRG. iDRG akan memiliki granularitas lebih tinggi — angka pastinya tergantung versi final yang akan dirilis. Granularitas yang lebih tinggi berarti kasus klinis yang sebelumnya digabungkan menjadi satu DRG dapat dipisahkan, dengan tarif yang lebih sesuai dengan kompleksitas.
Complication-Comorbidity (CC) dan Major Complication-Comorbidity (MCC)
iDRG menggunakan klasifikasi CC dan MCC yang lebih detail. Setiap diagnosa sekunder akan diklasifikasikan apakah:
- Bukan CC (no impact ke tarif)
- CC (impact moderate)
- MCC (impact major)
Klasifikasi ini menentukan severity DRG akhir. Implikasinya: dokumentasi diagnosa sekunder yang sebelumnya "cukup" di INA-CBG akan menjadi sangat penting di iDRG.
Pengaruh ke Tarif
Pengaruh severity ke tarif akan menjadi non-linear di iDRG. Perbedaan severity 1 tingkat dapat berdampak 30–80% terhadap tarif, tergantung DRG-nya. Sebagai perbandingan, di INA-CBG perbedaan severity I ke III biasanya 50–100%.
Konsekuensi: kesalahan dalam mengkode severity di iDRG akan berdampak finansial lebih besar daripada di INA-CBG.
Status Implementasi Per April 2026
Per data publik yang tersedia, transisi INA-CBG ke iDRG masih dalam fase transisi bertahap:
- Persiapan teknis — pengembangan grouper dan tabel tarif iDRG sedang berjalan oleh tim Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan
- Pilot regional — beberapa wilayah pilot sedang menjalankan uji coba
- Sosialisasi RS — workshop dan training untuk koder dan tim casemix di beberapa daerah
- Tanggal go-live nasional — belum ada tanggal resmi yang diumumkan
RS sebaiknya tidak mengasumsikan deadline tertentu (misal "iDRG live Oktober 2025" atau "iDRG live 2026") karena belum ada konfirmasi resmi. Yang dapat dipastikan: transisi sedang berjalan, dan akan datang. RS yang menunggu kejelasan deadline cenderung terlambat dalam persiapan.
Persiapan Operasional yang Dapat Dilakukan Sekarang
Tanpa menunggu tanggal go-live pasti, RS dapat memulai persiapan di area-area yang akan dibutuhkan baik di INA-CBG maupun iDRG:
Area 1: Akurasi Koding ICD-10 Utama dan Sekunder
Akurasi koding sudah penting di INA-CBG; di iDRG akan lebih penting. Audit baseline:
- Concordance koding antar koder di RS Anda — target >75%
- Akurasi koding diagnosa sekunder — target >70%
- Coverage diagnosa CC dan MCC — apakah koder mengidentifikasi semua yang relevan?
Bila baseline rendah, mulai investasi training koder dan implementasi tools audit (CDSS dengan rekomendasi ICD-10) sebelum iDRG dirilis.
Area 2: Kelengkapan Dokumentasi DPJP
Dokumentasi yang tidak menyebutkan komplikasi atau komorbiditas tidak dapat dikode sebagai CC/MCC. Audit:
- Apakah DPJP secara konsisten mendokumentasikan komplikasi yang muncul selama rawat inap?
- Apakah resume medis pulang lengkap untuk semua diagnosa sekunder?
- Apakah ada gap antara apa yang DPJP ucapkan dan apa yang tertulis di SOAP?
Tools yang dapat membantu: AI Medical Scribe untuk mengangkat kelengkapan SOAP secara real-time tanpa menambah beban DPJP.
Area 3: Pre-Submit Audit Klaim
Di iDRG, koreksi setelah submit lebih sulit karena severity langsung dampak ke tarif. Implementasikan:
- Audit pre-submit untuk klaim severity tinggi (II/III di INA-CBG)
- Validasi konsistensi antara SOAP, koding, dan tindakan
- Cross-check dengan pedoman verifikasi BPJS
Area 4: Sertifikasi dan Sustainability Tim Casemix
Standar profesi koder dan casemix officer dipertegas di UU Kesehatan 2023. Rencanakan:
- Jadwal sertifikasi ulang untuk koder
- Workshop berkala tentang perubahan koding
- Career path internal untuk retensi talent
Area 5: Sistem Pendukung yang Adaptif
Sistem RME, SIMRS, dan tools casemix yang akan dipakai di iDRG harus:
- Mendukung struktur DRG yang akan berubah
- Memiliki mapping otomatis ICD-10 ke kode DRG
- Menyediakan reporting untuk audit internal dan eksternal
Vendor yang siap untuk iDRG akan transparan tentang roadmap mereka. Vendor yang tidak punya rencana update sebaiknya tidak dipilih sebagai partner jangka panjang.
Implikasi Finansial: Skenario Dampak ke Cash Flow RS
Estimasi kasar dampak transisi ke iDRG di skenario sederhana:
Skenario 1: RS yang dokumentasinya sudah lengkap dan koder akurat
- Akurasi severity meningkat dari INA-CBG → iDRG
- Tarif rata-rata berpotensi naik karena kompleksitas sebelumnya kurang ter-capture
- Cash flow stabil atau meningkat
Skenario 2: RS yang dokumentasinya tidak lengkap dan koder kurang akurat
- Severity yang seharusnya tinggi dikode rendah karena dokumentasi tidak mendukung
- Tarif akan turun signifikan karena severity miss
- Cash flow tertekan, terutama 3–6 bulan pertama transisi
Skenario 3: RS yang campur (sebagian baik, sebagian kurang)
- Variabilitas tarif tinggi tergantung departemen dan koder
- Audit internal menjadi kritis untuk identifikasi gap
Tidak ada cara untuk memprediksi pasti — tetapi RS yang investasi di akurasi koding dan kelengkapan dokumentasi sebelum iDRG akan berada di posisi yang lebih baik di skenario manapun.
Tantangan Implementasi yang Diantisipasi
Berdasarkan pengalaman transisi sistem casemix di negara lain (USA, Singapura, Thailand), beberapa tantangan yang umum:
- Resistance koder senior — yang sudah terbiasa dengan INA-CBG akan butuh waktu adaptasi
- Software lag — vendor SIMRS/RME yang lambat update akan membuat RS terjebak dengan sistem yang tidak compatible
- Backlog klaim — pada awal transisi, koreksi dan dispute klaim akan meningkat
- Variabilitas regional — implementasi yang tidak serentak akan menyebabkan ketidakadilan antar RS
- Training gap — workshop yang tidak merata akan menciptakan disparitas akurasi koding
RS yang memiliki tim casemix yang matang, sistem pendukung yang adaptif, dan budaya audit internal akan menghadapi tantangan ini dengan lebih baik.
Bagaimana Tools Digital Membantu Persiapan iDRG
Beberapa kategori tools yang dapat mempercepat persiapan:
- CDSS dengan rekomendasi ICD-10 — membantu konsistensi koding antar koder
- AI Medical Scribe — meningkatkan kelengkapan SOAP secara real-time
- Audit klaim pre-submit — identifikasi gap dokumentasi sebelum submit
- Dashboard concordance — monitoring akurasi koding antar koder
Beberapa platform yang dirancang untuk konteks RS Indonesia — termasuk MedMinutes — menyediakan kapabilitas dalam beberapa kategori ini. RS perlu melakukan due diligence terhadap setiap vendor sesuai roadmap iDRG mereka.
FAQ
Kapan iDRG resmi go-live nasional?
Per April 2026, belum ada tanggal go-live nasional yang resmi diumumkan. Sistem masih dalam fase transisi bertahap dengan persiapan teknis dan pilot regional. RS sebaiknya tidak mengandalkan rumor tanggal tertentu, melainkan memantau pengumuman resmi dari Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan.
Apakah INA-CBG akan langsung dihapus saat iDRG dirilis?
Pola transisi sistem casemix biasanya bertahap, bukan cut-off. Skenario yang umum: dual-running selama 6–12 bulan, di mana RS menggunakan kedua sistem secara paralel sebelum INA-CBG sepenuhnya dipensiunkan. Detail transisi akan diatur dalam Permenkes pelaksana.
Apa yang harus dilakukan koder untuk persiapan iDRG?
Tiga area: (1) refresh akurasi koding ICD-10 utama dan sekunder, (2) pelajari klasifikasi CC/MCC yang akan diadopsi, dan (3) ikuti workshop dan sertifikasi yang diselenggarakan PERSI dan organisasi profesi casemix. Pengetahuan tentang severity dan komorbiditas akan menjadi kunci.
Apakah dokter (DPJP) perlu mengubah cara mendokumentasikan?
Tidak secara fundamental, tetapi DPJP perlu lebih konsisten mendokumentasikan: (1) semua komplikasi yang muncul selama rawat inap, (2) komorbiditas yang signifikan secara klinis, (3) severity yang spesifik (mild/moderate/severe), dan (4) tindakan yang sudah dilakukan. Dokumentasi yang lengkap sudah dituntut MRMIK 2026 — iDRG hanya menambah urgensi.
Bagaimana tim casemix mempersiapkan diri?
Empat hal: (1) review baseline akurasi koding dan severity assignment, (2) implementasi tools audit yang dapat dipakai untuk INA-CBG dan iDRG, (3) jadwal training berkala, dan (4) komunikasi dengan vendor SIMRS/CDSS untuk roadmap iDRG.
Apakah tarif iDRG sudah dipublikasikan?
Tarif final iDRG belum dipublikasikan secara resmi per April 2026. Beberapa simulasi tarif sudah ada untuk pilot, tetapi tabel final akan dirilis bersama dengan Permenkes pelaksana saat go-live. RS sebaiknya tidak menyusun proyeksi cash flow berdasarkan rumor tarif.
Apa risiko terbesar bagi RS saat iDRG dirilis?
Risiko terbesar adalah dokumentasi tidak lengkap yang menyebabkan severity miss. Karena severity dampak ke tarif lebih besar di iDRG, kasus yang dokumentasinya tidak menangkap komplikasi/komorbiditas akan dikode pada severity yang lebih rendah dari yang seharusnya — kehilangan tarif yang substantial.
Apakah RS swasta dan pemerintah punya transisi berbeda?
Pola dasar transisi sama. Yang berbeda adalah kesiapan operasional: RS swasta dengan tim casemix yang lebih kecil mungkin lebih lambat adaptasi, sementara RS pemerintah dengan birokrasi yang lebih besar mungkin lebih lambat dalam pengadaan tools. Kedua kelompok perlu strategi persiapan yang disesuaikan.
Referensi
- Permenkes No. 26 Tahun 2021 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan
- Permenkes No. 76 Tahun 2016 tentang Pedoman INA-CBG
- UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
- UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
- Materi Sosialisasi iDRG — Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan (berbagai)
- Indonesian Hospital Association (PERSI) — Materi Workshop Casemix
- Hsiao WC et al. (2008). "International experiences with payment reforms." Health Affairs 27(2).
- Schreyögg J et al. (2006). "Methods to Determine Reimbursement Rates for DRGs." Health Care Management Science 9(3).
- Yip W & Hsiao WC (2008). "The Chinese health system at a crossroads." Health Affairs 27(2).
- Standar Akreditasi Rumah Sakit MRMIK Edisi 1.1 — KARS
Vera adalah Healthcare Content Strategist MedMinutes, fokus pada riset regulatory dan implementasi sistem digital health di rumah sakit Indonesia.
Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi











