Software Audit Klaim BPJS untuk Rumah Sakit 2026: Panduan Lengkap Pilihan Tool & ROI
Ringkasan
Audit klaim BPJS adalah salah satu fungsi paling strategis di rumah sakit Indonesia 2026 — bukan sekadar pekerjaan administrasi Tim Casemix. Volume klaim INA-CBG yang besar, tekanan tarif yang ketat, dan persyaratan dokumentasi MRMIK 2026 membuat keputusan tentang software audit klaim BPJS menjadi keputusan tingkat direksi. Pendekatan tradisional — audit manual oleh Tim Casemix dengan bantuan Excel — masih menjadi praktik mayoritas, tetapi kapasitasnya terbatas: hanya 5–15% klaim yang sempat di-review sebelum submission. Artikel ini menyusun empat tier pendekatan audit (manual, Excel, modul SIMRS bridging, dan AI audit tool), kerangka evaluasi 6 kriteria untuk Direktur Keuangan dan Direktur Medis, ROI framework 90 hari, serta pertimbangan integrasi dengan SIMRS yang sudah berjalan seperti SIMRS Khanza dan SIMGOS.
Mengapa Audit Klaim BPJS Strategis di RS 2026
Tiga tekanan strategis yang mengubah audit klaim BPJS dari pekerjaan back-office menjadi prioritas direksi:
- Pending rate yang menggerus cash flow. Pending rate INA-CBG di atas 10% bukan kasus istimewa — banyak RS dengan volume klaim besar mengalami pola ini. Setiap minggu klaim tertahan adalah cash flow yang tertunda. Bagi Tim Casemix, audit manual sebelum submission adalah cara paling efektif menekan pending rate, tetapi kapasitasnya tidak memungkinkan untuk semua klaim.
- Risiko downcoding INA-CBG / iDRG. Era iDRG menuntut detail severity, komplikasi, dan kondisi sekunder yang sering tidak terdokumentasi lengkap di SOAP. Tanpa screening sistematis, potensi optimasi tarif (case-mix index yang tepat) sulit terdeteksi sebelum klaim disubmit. Tim coder Anda sering sudah tahu polanya — yang missing adalah kapasitas untuk men-screen volume tinggi.
- MRMIK 2026 dan tata kelola dokumentasi. Standar Akreditasi Rumah Sakit MRMIK Edisi 1.1 menuntut audit trail dokumentasi yang dapat di-trace, termasuk justifikasi koding dan jejak verifikasi pre-submission. Tool audit yang baik memberikan audit trail yang langsung pakai untuk visitasi akreditasi.
4 Tier Pendekatan Audit Klaim BPJS
Untuk memudahkan evaluasi, pendekatan audit klaim BPJS di RS Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat tier — bukan urutan ranking, tetapi pilihan ekosistem yang berbeda dengan trade-off masing-masing.
Tier 1: Audit Manual oleh Tim Casemix (Baseline)
Praktik mayoritas RS Indonesia. Tim Casemix (atau coder/verifikator) membaca rekam medis, memvalidasi koding ICD-10, dan men-cross-check dengan tarif INA-CBG sebelum klaim disubmit ke BPJS Kesehatan. Pendekatan ini memberikan judgment klinis yang tidak bisa digantikan, tetapi terkendala kapasitas:
- Tim Casemix tipikal 2–5 orang untuk RS Tipe B/C; satu coder biasanya bisa men-review 30–50 klaim per hari secara mendalam.
- Untuk RS dengan 1.000+ klaim per bulan, hanya 5–15% klaim yang sempat di-review pre-submission; sisanya disubmit "as is" karena keterbatasan kapasitas.
- Klaim yang pending baru di-review post-hoc — saat sudah ada feedback dari verifikator BPJS — yang artinya cash flow sudah tertunda.
Cocok untuk RS: klinik utama atau RS Tipe D dengan volume klaim <500 per bulan dan tim Casemix yang memadai. Tidak memadai untuk RS Tipe B/A dengan volume tinggi.
Tier 2: Excel/Spreadsheet Manual
Variasi dari Tier 1 — Tim Casemix membangun spreadsheet sendiri untuk track pending claim, summary per DPJP, atau dashboard sederhana. Berguna untuk RS yang sudah punya tim Casemix kuat tetapi belum berinvestasi di software khusus.
- Biaya software nol — hanya butuh Microsoft Excel atau Google Sheets.
- Sangat fleksibel — Tim Casemix bisa custom kolom dan rumus sesuai kebutuhan.
- Trade-off: tidak skalabel, rentan human error pada formula, sulit untuk audit trail MRMIK, dan setiap update membutuhkan jam kerja staf.
Cocok untuk RS: tahap awal pembangunan praktik audit, atau sebagai pelengkap untuk Tier 1. Tidak cocok sebagai pendekatan tunggal untuk RS dengan volume tinggi atau persiapan akreditasi.
Tier 3: Modul BPJS Bridging di SIMRS (Khanza, SIMGOS)
Banyak RS Indonesia menggunakan SIMRS open source atau pemerintah yang memiliki modul bridging BPJS — generator file TXT INA-CBG yang siap di-submit ke aplikasi BPJS Kesehatan.
- SIMRS Khanza — open source dari Yayasan SIMRS Khanza Indonesia, sudah dipakai di 1.500+ rumah sakit Indonesia. Memiliki modul bridging BPJS, generator file TXT INA-CBG, dan modul billing yang terintegrasi.
- SIMGOS / SIMRSGOS v2 — sistem informasi RS yang dikembangkan Kemenkes RI (BPFK), gratis untuk RSUD dan RS Pemerintah, dengan modul bridging BPJS terstandar.
Penting: bridging adalah bridging — bukan audit. Modul BPJS di Khanza dan SIMGOS menghasilkan file TXT yang siap submit, tetapi tidak menjalankan analisis pola pending rate, screening downcoding, atau optimasi koding di tingkat batch. Untuk RS yang sudah pakai Khanza atau SIMGOS, tool audit dapat dijalankan sebagai layer terpisah yang menganalisis file TXT sebelum submit.
Tier 4: AI Audit Tool (MedMinutes BPJScan)
Software khusus yang menganalisis file TXT klaim INA-CBG melalui serangkaian filter audit — mendeteksi pola yang berisiko pending, potensi optimasi koding, ketidaksesuaian dokumentasi, dan kelainan pola DPJP. Dirancang untuk membantu Tim Casemix menjangkau 100% klaim, bukan menggantikan judgment klinis.
- MedMinutes BPJScan. 78 filter audit untuk klaim INA-CBG, processing per batch dalam ~5 menit (vs ~3 jam manual, 60–80% lebih cepat). Dipakai di 50+ RS di 8+ provinsi. Rekam jejak implementasi: optimasi hingga Rp 3 miliar+ di 1 RS Pemerintah dalam 6 bulan. Integrasi file-based — kompatibel dengan output SIMRS Khanza, SIMGOS, atau SIMRS komersial. Pricing langganan indikatif Rp 2 juta per bulan untuk RS dengan volume standar.
Cocok untuk RS: RS Tipe A/B dengan volume klaim BPJS >1.000 per bulan, atau RS Tipe C dengan target percepatan submission dan pengurangan pending rate. Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
Tabel Komparasi 4 Pendekatan Audit Klaim BPJS
Komparasi pada dimensi yang relevan untuk Direktur Keuangan dan Direktur Medis. Asumsi RS dengan volume klaim 1.000+ per bulan (Tipe B/A); fit untuk RS lain dapat berbeda.
| Pendekatan | Kapabilitas | Akurasi | Kapasitas | Biaya | Fit untuk RS Indonesia |
|---|---|---|---|---|---|
| Manual oleh Tim Casemix | Tier 1 | Tinggi (judgment klinis) | 5–15% klaim/bulan | Jam kerja Tim Casemix | Klinik / RS Tipe D |
| Excel / Spreadsheet | Tier 2 | Sedang (rentan formula) | 10–25% klaim/bulan | Free + jam kerja staf | Pelengkap, bukan tunggal |
| SIMRS Khanza / SIMGOS (bridging, bukan audit) | Tier 3 | — | Tidak ada modul audit | Free (open source / pemerintah) | 1.500+ RS pakai sebagai SIMRS dasar |
| MedMinutes BPJScan | Tier 4 — AI Audit | 78 filter audit | 100% klaim per batch | ~Rp 2 jt/bln (langganan) | 50+ RS di 8+ provinsi |
Catatan: SIMRS Khanza dan SIMGOS bukan tool audit klaim — keduanya adalah SIMRS dasar dengan modul BPJS bridging. AI audit tool dapat dijalankan sebagai layer terpisah pada output file TXT INA-CBG yang dihasilkan SIMRS tersebut.
6 Kriteria Evaluasi untuk Direktur Keuangan & Direktur Medis
Sebelum memilih pendekatan, evaluasi pada 6 kriteria berikut. Bobot masing-masing kriteria akan berbeda antar RS — RS dengan volume klaim besar akan lebih memprioritaskan kapasitas processing, sementara RS dengan target akreditasi MRMIK 2026 akan memprioritaskan audit trail.
1. Kapasitas Processing (Volume Klaim per Bulan)
Hitung volume klaim BPJS RS Anda per bulan. Audit manual realistis menjangkau 5–15% klaim untuk RS Tipe B/A. Jika target adalah audit 100% klaim sebelum submission, AI audit tool adalah satu-satunya pendekatan yang scalable. Untuk RS dengan volume <500 per bulan, manual + Excel sudah memadai.
2. Granularitas Filter (Detail vs Aggregate)
Audit yang baik tidak hanya menghitung total tagihan — tetapi mengidentifikasi pola pada level INA-CBG code, DPJP, length of stay, atau cluster diagnosa. Tool yang relevan harus menyediakan drill-down per filter (misalnya: "klaim DPJP X dengan ICD-10 Y dan LOS <3 hari yang berisiko pending"). Tim coder Anda akan mengapresiasi tool yang membantu mereka mengidentifikasi pola yang mereka sudah curigai tetapi tidak sempat verifikasi sistematis.
3. Integrasi dengan SIMRS yang Sudah Ada
RS Anda sudah jalan dengan SIMRS — entah Khanza, SIMGOS, atau SIMRS komersial. Tool audit yang membutuhkan migrasi data atau modifikasi backend SIMRS akan ditolak Tim IT. Pola yang lazim dan paling tidak disruptif adalah file-based integration: file TXT INA-CBG yang dihasilkan SIMRS diunggah ke audit tool sebelum submit ke BPJS Kesehatan. Pola ini tidak membutuhkan modifikasi SIMRS dan dapat di-pilot di 1 unit dulu.
4. Real-Time vs Batch Processing
Pertimbangkan ritme submission RS Anda. Jika submission per minggu, batch processing per minggu cukup. Jika RS Anda submission harian dan butuh feedback langsung di hari yang sama, tool dengan processing <10 menit per batch menjadi keuntungan operasional. Audit tool yang processing >1 jam akan menggeser ritme kerja Tim Casemix.
5. Kepatuhan Tata Kelola Dokumentasi (MRMIK 2026)
Akreditasi MRMIK 2026 menuntut audit trail dokumentasi. Tool audit yang baik menyimpan log siapa-melakukan-apa-kapan, justifikasi flagging, dan history perubahan koding. Cek apakah vendor menyediakan audit log yang bisa di-export untuk visitasi akreditasi. Tool yang tidak transparan tentang audit trail akan menjadi liability saat audit eksternal.
6. Total Cost of Ownership (TCO)
TCO mencakup tiga komponen, bukan hanya harga langganan:
- Licensing — biaya langganan bulanan/tahunan.
- Implementation — training Tim Casemix, konfigurasi integrasi file TXT, customisasi filter sesuai pola RS.
- Support — response time, akses ke ahli koding, update filter saat tarif INA-CBG berubah.
Vendor yang transparan tentang ketiga komponen TCO patut diprioritaskan dibanding vendor yang hanya menampilkan harga langganan tanpa breakdown.
Kerangka ROI 90 Hari: Berapa yang Sebenarnya Dihemat?
Sebelum menandatangani kontrak, susun business case ROI 90 hari yang dapat dipertanggungjawabkan ke direksi. Kerangka berikut memisahkan tiga sumber dampak terukur dan satu pengurang.
Komponen 1: Penghematan Jam Kerja Tim Casemix (Rework Manual)
Audit manual yang membutuhkan 3 jam per batch dapat selesai dalam ~5 menit dengan AI audit tool. Hitung jam kerja yang dialihkan dari screening repetitif ke verifikasi mendalam:
- Misal Tim Casemix 3 orang × 8 jam batch/minggu × 4 minggu = 96 jam/bulan untuk screening manual.
- Dengan AI audit tool, screening selesai <2 jam total per bulan; sisa 94 jam dialihkan ke review klaim flagged dan kasus kompleks.
- Penghematan tidak diukur sebagai "PHK staf" — ini adalah realokasi kapasitas Tim Casemix Anda dari pekerjaan repetitif ke judgment klinis.
Komponen 2: Recovery Klaim BPJS dari Optimasi Koding
Klaim yang sebelumnya tidak sempat di-audit adalah klaim dengan potensi optimasi yang tidak ter-screen. AI audit tool men-screen 100% klaim, sehingga pola downcoding (misalnya severity level yang kurang detail, kondisi sekunder yang tidak tercantum) terdeteksi sebelum submission. Rekam jejak implementasi MedMinutes BPJScan menunjukkan optimasi hingga Rp 3 miliar+ di 1 RS Pemerintah dalam 6 bulan. Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
Komponen 3: Percepatan Cash Flow dari Pengurangan Pending Rate
Pengalaman implementasi menunjukkan AI audit tool dapat menurunkan pending rate INA-CBG sebesar 15–25%, tergantung baseline. Untuk RS dengan submission Rp 5 miliar/bulan dan pending rate baseline 12%, penurunan ke 9% (–25% relatif) berarti percepatan cash flow Rp 150 juta/bulan. Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
Komponen 4 (Pengurang): Total Cost of Ownership 12 Bulan
Untuk RS dengan volume standar, TCO 12 bulan AI audit tool (langganan + implementation + support) tipikal Rp 24–30 juta. Hasil bersih = (Komponen 1 + 2 + 3) − Komponen 4. Payback period tipikal untuk implementasi MedMinutes BPJScan adalah 4 bulan.
Catatan: angka di atas adalah kerangka, bukan janji hasil. Setiap RS punya volume, pola klaim, dan baseline pending rate yang berbeda — business case yang tepat selalu disusun dengan data aktual RS Anda.
Implikasi bagi Direksi Rumah Sakit
Pilihan software audit klaim BPJS bukan keputusan IT — ini keputusan strategis yang menyentuh cash flow, akreditasi, dan kepuasan tim klinis sekaligus. Beberapa pola yang lazim:
- RS dengan volume klaim BPJS substansial akan melihat ROI signifikan dari kombinasi pengurangan pending rate + optimasi koding. AI audit tool seperti MedMinutes BPJScan layak dipertimbangkan sebagai investasi tier-1.
- RS yang sedang persiapan akreditasi MRMIK 2026 akan mendapat manfaat dari audit trail terstruktur — bukan sekadar dampak finansial, tetapi juga compliance posture.
- RS yang menggunakan SIMRS Khanza atau SIMGOS tidak perlu mengganti SIMRS — tool audit dapat berjalan parallel sebagai layer terpisah dengan integrasi file-based.
- RS dengan Tim Casemix yang masih berkembang sebaiknya membangun fondasi praktik audit manual dulu (Tier 1 + 2) sebelum mengadopsi AI audit tool — AI memperkuat tim yang sudah punya disiplin koding, bukan menggantikan tim yang belum terbentuk.
- RS yang mengintegrasikan dengan modul CDSS dan dokumentasi klinis akan melihat dampak compounding: CDSS untuk validasi ICD-10 di tingkat dokumentasi, Medical Scribe untuk kelengkapan SOAP, dan BPJScan untuk audit pre-submission — ketiganya membentuk pipeline kualitas dokumentasi-koding-klaim yang konsisten.
Use Case: RS Pemerintah dengan Volume Tinggi
Pola implementasi yang dijumpai di salah satu RS Pemerintah dengan volume klaim BPJS substansial:
- Baseline: Tim Casemix 4 orang, audit manual menjangkau 8% klaim per bulan; pending rate INA-CBG di kisaran 10–14%.
- Implementasi: File TXT klaim INA-CBG yang dihasilkan SIMRS diunggah ke MedMinutes BPJScan di akhir setiap siklus submission. 78 filter audit menjalankan screening dalam ~5 menit per batch.
- Hasil setelah 6 bulan: Optimasi recovery klaim kumulatif Rp 3 miliar+ di 1 RS tersebut. Pending rate turun di kisaran yang lebih sehat. Tim Casemix yang sebelumnya hanya sempat audit 8% klaim, kini dapat fokus review 100% klaim flagged dan kasus kompleks.
Anonymized berdasarkan kerangka kontrak. Hasil bervariasi tergantung volume, baseline, dan pola klaim masing-masing RS.
Takeaway
Audit klaim BPJS di RS Indonesia 2026 sudah melewati tahap "pekerjaan back-office" — sekarang adalah keputusan tingkat direksi dengan dampak langsung pada cash flow, kepatuhan MRMIK, dan kapasitas Tim Casemix. Empat tier pendekatan yang tersedia (manual, Excel, modul SIMRS bridging, AI audit tool) bukan ranking — ini pilihan ekosistem dengan trade-off yang berbeda tergantung volume klaim, struktur tim, dan SIMRS yang berjalan.
Untuk RS Tipe B/A dengan volume klaim BPJS substansial, AI audit tool seperti MedMinutes BPJScan memberikan kapasitas processing yang tidak bisa dicapai audit manual oleh Tim Casemix. Untuk RS yang menggunakan SIMRS Khanza atau SIMGOS, tool audit dapat dijalankan parallel sebagai layer file-based — tanpa modifikasi SIMRS. Validasi melalui pilot dengan data klaim aktual sebelum kontrak multi-tahun, dengan business case ROI 90 hari yang memisahkan penghematan jam kerja, recovery klaim, dan percepatan cash flow dari TCO.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa software audit klaim BPJS terbaik untuk rumah sakit Indonesia 2026?
Tidak ada satu software yang otomatis "terbaik" untuk semua RS. Pilihan tergantung empat faktor: (1) volume klaim per bulan (RS Tipe A/B/C dengan 1.000+ klaim per bulan punya kebutuhan berbeda dari klinik utama), (2) ketersediaan tim Casemix internal, (3) SIMRS yang sedang berjalan (Khanza, SIMGOS, atau SIMRS komersial), dan (4) target dampak — apakah fokus pada percepatan submission, pengurangan pending rate, atau optimasi tarif INA-CBG. Untuk RS dengan volume klaim BPJS substansial, AI audit tool seperti MedMinutes BPJScan memberikan kapasitas processing yang tidak bisa dicapai audit manual oleh Tim Casemix.
2. Apa beda audit klaim BPJS manual dengan AI audit tool?
Audit manual oleh Tim Casemix (atau dengan bantuan Excel) bergantung pada kapasitas dan jam kerja staf — biasanya hanya 5–15% klaim yang sempat di-review per bulan. AI audit tool seperti MedMinutes BPJScan memproses 100% file TXT klaim INA-CBG melalui 78 filter audit yang mendeteksi pola pending rate, downcoding, ketidaksesuaian dokumentasi, dan potensi optimasi koding. Audit yang manual membutuhkan 3 jam per batch dapat selesai dalam 5 menit (60–80% lebih cepat). Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
3. Apakah SIMRS Khanza atau SIMGOS sudah bisa audit klaim BPJS?
Tidak — SIMRS Khanza (Yayasan SIMRS Khanza Indonesia, yaski.or.id, dipakai 1.500+ RS) dan SIMGOS / SIMRSGOS v2 (Kemenkes, docs.simgos2.simpel.web.id) keduanya menyediakan modul bridging BPJS dan generator file TXT INA-CBG, tetapi keduanya tidak memiliki modul audit pre-submission yang menganalisis pola pending rate, downcoding, atau optimasi koding di tingkat batch. Untuk RS yang menggunakan Khanza atau SIMGOS, AI audit tool dapat dijalankan sebagai layer terpisah — file TXT yang dihasilkan SIMRS dianalisis sebelum di-submit ke BPJS.
4. Berapa biaya software audit klaim BPJS untuk RS?
Biaya bervariasi: pendekatan manual oleh Tim Casemix internal pada dasarnya tidak ada biaya software tetapi berbiaya kapasitas (jam kerja staf + risiko klaim yang tidak sempat di-review); software AI audit seperti MedMinutes BPJScan menggunakan model langganan dengan harga indikatif Rp 2 juta per bulan untuk RS dengan volume standar. TCO 12 bulan untuk AI audit tool tipikal Rp 24–30 juta sudah termasuk implementasi, training, dan support. Lihat detail di halaman harga. Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
5. Berapa lama payback period investasi tool audit klaim BPJS?
Untuk AI audit tool seperti MedMinutes BPJScan, payback period tipikal 4 bulan untuk RS dengan volume klaim BPJS substansial. Perhitungan didasarkan pada kombinasi: (1) penghematan jam kerja Tim Casemix dari otomasi screening, (2) potensi optimasi recovery klaim yang sebelumnya tidak sempat di-audit, dan (3) percepatan cash flow dari pengurangan pending rate 15–25%. Rekam jejak implementasi MedMinutes BPJScan menunjukkan optimasi hingga Rp 3 miliar+ di 1 RS Pemerintah dalam 6 bulan. Hasil bervariasi tergantung volume dan pola klaim RS.
6. Bagaimana software audit BPJS terintegrasi dengan SIMRS yang ada?
Tiga pola integrasi umum: (1) File-based — file TXT INA-CBG yang dihasilkan SIMRS (Khanza, SIMGOS, atau SIMRS komersial) diunggah ke audit tool sebelum submit ke BPJS, ini pola paling lazim dan tidak butuh modifikasi SIMRS; (2) Web app standalone — Tim Casemix mengakses dashboard audit terpisah, hasil di-cross-check ke SIMRS; (3) API integration — untuk RS yang mau audit otomatis di pipeline submission. Pola file-based biasanya cukup untuk pilot dan deployment awal.
7. Apakah AI audit klaim BPJS bisa menggantikan tim Casemix?
Tidak. AI audit tool dirancang untuk membantu tim Casemix Anda — bukan menggantikan. Tim Casemix tetap memegang otoritas klinis untuk verifikasi rekam medis, justifikasi koding, dan komunikasi dengan DPJP saat klarifikasi dibutuhkan. AI audit tool mengambil alih pekerjaan repetitif: screening volume tinggi, deteksi pola pending rate, flagging ketidaksesuaian dokumentasi-koding, dan ringkasan dashboard. Pola yang lazim: Tim Casemix yang sebelumnya hanya sempat audit 5–15% klaim, dengan AI audit tool dapat fokus pada review 100% klaim flagged dan kasus kompleks yang butuh judgment klinis.
8. Apakah software audit klaim BPJS wajib mematuhi UU PDP dan SatuSehat?
Ya. File TXT klaim INA-CBG mengandung data pribadi pasien (nama, no MR, diagnosa) yang tunduk pada UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi dan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Software audit yang relevan untuk RS Indonesia harus: (1) memproses data dengan jurisdiksi yang jelas, (2) memiliki audit trail untuk MRMIK 2026, (3) tidak menyimpan data lebih lama dari yang dibutuhkan untuk audit, dan (4) menyediakan kontrol akses peran (Tim Casemix vs Direktur Keuangan vs Manajemen).
Rujukan
- Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis Elektronik
- UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
- UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
- Standar Akreditasi Rumah Sakit MRMIK Edisi 1.1 — Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)
- BPJS Kesehatan — Panduan Verifikasi Klaim INA-CBG, Direktorat Pelayanan Peserta
- SATUSEHAT Platform Documentation — satusehat.kemkes.go.id
- Yayasan SIMRS Khanza Indonesia — yaski.or.id
- SIMGOS / SIMRSGOS v2 — Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI; docs.simgos2.simpel.web.id
- Peraturan Menteri Kesehatan No. 26 Tahun 2021 tentang Pedoman INA-CBG dalam Pelaksanaan JKN