4 Peran Perawat dalam SOAP: Pahami Bagaimana Catatan Meningkatkan Kualitas Perawatan!

Thesar MedMinutes, Content & Marketing MedMinutes · · 13 menit baca
4 Peran Perawat dalam SOAP: Pahami Bagaimana Catatan Meningkatkan Kualitas Perawatan!
SOAP

Pendahuluan

Dalam dunia medis, kualitas perawatan pasien sangat bergantung pada catatan yang akurat dan terstruktur. Salah satu metode paling efektif untuk pencatatan adalah SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan). Bagi manajemen rumah sakit, memahami dan mengimplementasikan SOAP tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan tetapi juga memastikan keamanan pasien melalui dokumentasi yang terstruktur dan efisien.

Apa itu SOAP?

Pengertian SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan)

SOAP adalah metode pencatatan medis yang memungkinkan perawat dan tenaga medis lainnya untuk mendokumentasikan kondisi pasien dengan cara yang terstruktur dan mudah dipahami. SOAP terdiri dari empat komponen utama:

Sejarah dan Asal-usul SOAP dalam Dunia Medis

Metode SOAP pertama kali dikenalkan oleh Dr. Lawrence Weed pada tahun 1960-an sebagai bagian dari sistem pencatatan medis yang terstruktur untuk memudahkan perawatan dan mengurangi kesalahan medik.

Mengapa SOAP Penting untuk Kualitas Perawatan?

Kualitas Dokumentasi dan Keamanan Pasien

Dengan SOAP, perawat dapat mencatat informasi penting secara sistematis, sehingga mengurangi risiko informasi penting terlewatkan yang bisa berakibat fatal bagi pasien.

Manfaat SOAP dalam Peningkatan Efisiensi Perawatan

SOAP memungkinkan perawat dan tim medis lain untuk memahami kondisi pasien secara menyeluruh dan cepat, sehingga mempercepat proses diagnosa dan pengobatan.

Peran Perawat dalam Setiap Komponen SOAP

Akreditasi Klinik Pratama

Subjective: Mengumpulkan Informasi dari Pasien

Pada tahap Subjective, perawat berfokus pada informasi subjektif yang diberikan oleh pasien terkait kondisinya. Ini mencakup keluhan utama pasien, riwayat kesehatan sebelumnya, serta faktor lain yang mungkin memengaruhi kesehatannya, seperti gaya hidup atau keadaan emosional.

  1. Mendengar Aktif: Perawat menggunakan teknik mendengar aktif untuk memahami perspektif pasien dengan lebih baik. Dengan bertanya secara terbuka, seperti “Bagaimana perasaan Anda hari ini?” atau “Apa yang Anda rasakan sejak gejala muncul?”, perawat dapat menggali informasi penting yang tidak selalu terukur dengan alat medis.
  2. Pengumpulan Riwayat Kesehatan: Informasi subjektif juga mencakup riwayat penyakit keluarga, alergi, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, serta aspek sosial yang dapat memengaruhi kesehatan pasien, seperti tingkat stres atau kebiasaan merokok. Semua ini membantu dalam membentuk dasar penilaian yang lebih holistik terhadap kondisi pasien.
  3. Empati dan Kepekaan: Perawat perlu menunjukkan empati, menghargai perasaan pasien, dan menciptakan suasana yang nyaman agar pasien merasa aman untuk berbagi informasi pribadi atau sensitif yang relevan dengan kondisinya.

Objective: Pengumpulan Data Klinis oleh Perawat

Pada tahap Objective, perawat mengumpulkan data fisik yang dapat diukur atau diamati langsung. Tahap ini berfokus pada data konkret yang memberikan gambaran objektif mengenai kondisi kesehatan pasien.

  1. Pengukuran Tanda Vital: Data objektif seperti tekanan darah, suhu tubuh, denyut jantung, dan laju pernapasan merupakan komponen utama pada tahap ini. Perawat melakukan pengukuran ini secara cermat untuk mendeteksi tanda-tanda awal yang mungkin membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.
  2. Observasi Klinis: Selain data tanda vital, perawat melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi fisik pasien, seperti warna kulit, pembengkakan, atau adanya luka. Perawat juga dapat mengamati cara pasien bergerak, pola pernapasan, dan reaksi terhadap rasa sakit.
  3. Dokumentasi yang Akurat dan Sistematis: Perawat mendokumentasikan semua data objektif dengan teliti agar tim medis lainnya dapat menilai perkembangan kondisi pasien secara konsisten. Kesalahan pada tahap ini bisa mengakibatkan misdiagnosis, sehingga akurasi sangat penting.

Assessment: Analisis Data Klinis oleh Perawat

Pada tahap Assessment, perawat memadukan data subjektif dan objektif yang telah dikumpulkan untuk menganalisis kondisi pasien. Ini adalah tahap evaluasi di mana perawat mencoba menentukan masalah utama atau kebutuhan pasien berdasarkan informasi yang ada.

  1. Identifikasi Masalah Kesehatan: Berdasarkan data yang terkumpul, perawat membuat analisis untuk mengidentifikasi gejala, pola, atau potensi masalah yang membutuhkan intervensi. Misalnya, jika seorang pasien mengalami nyeri dada dengan tekanan darah tinggi, perawat dapat mencatat kemungkinan adanya masalah pada jantung.
  2. Prioritas Perawatan: Perawat mempertimbangkan prioritas dalam rencana perawatan dengan menganalisis risiko yang mungkin muncul. Analisis ini penting untuk merancang rencana tindakan selanjutnya dan memastikan bahwa kebutuhan pasien yang paling mendesak mendapat perhatian.
  3. Kolaborasi dalam Penentuan Diagnosis: Meskipun diagnosis akhir dibuat oleh dokter, analisis yang dilakukan perawat memainkan peran penting dalam memberikan gambaran yang komprehensif. Hasil assessment ini memudahkan dokter dalam menentukan diagnosis dan intervensi yang tepat.

Plan: Rencana Tindak Lanjut Perawatan oleh Perawat

Tahap Plan merupakan langkah perawat dalam menyusun rencana perawatan atau tindakan yang akan diambil berdasarkan penilaian yang telah dilakukan. Pada tahap ini, perawat berperan dalam menyusun langkah-langkah perawatan yang terfokus pada kebutuhan pasien.

Memberikan Edukasi kepada Pasien: Bagian dari perencanaan adalah memberikan edukasi kepada pasien mengenai langkah-langkah perawatan yang diambil dan cara merawat diri sendiri setelah perawatan. Misalnya, pada pasien dengan diabetes, perawat bisa mengedukasi pasien tentang cara mengatur pola makan dan penggunaan obat secara tepat.

Perencanaan Intervensi: Perawat menetapkan rencana tindakan spesifik, seperti pemberian obat, pemantauan tanda vital berkala, atau terapi lain yang sesuai. Rencana ini harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi pasien, dengan mempertimbangkan kemampuan fisik dan emosional mereka.

Koordinasi dengan Tim Medis: Perawat mengomunikasikan rencana tindakan dengan dokter dan tim medis lainnya untuk memastikan semua tindakan yang akan diambil sesuai dengan kebutuhan medis pasien. Kolaborasi ini penting untuk menjaga agar perawatan pasien berjalan dengan efektif dan tepat sasaran.

Evaluasi Berkelanjutan dan Penyesuaian Rencana: Dalam beberapa kasus, kondisi pasien bisa berubah dengan cepat. Oleh karena itu, perawat perlu terus memantau kondisi pasien, mengevaluasi respons terhadap rencana perawatan yang telah dibuat, dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.

Dengan menjalankan setiap tahap SOAP secara cermat dan menyeluruh, perawat tidak hanya meningkatkan kualitas perawatan tetapi juga berkontribusi pada terciptanya dokumentasi yang berkualitas dan terstruktur, yang sangat penting untuk keberlangsungan perawatan serta keamanan pasien di rumah sakit.

Manfaat SOAP dalam Pekerjaan Perawat

Akreditasi Klinik Pratama

Metode SOAP membawa banyak manfaat bagi perawat dalam mencatat dan merencanakan perawatan pasien. Sistem ini bukan hanya tentang pencatatan medis yang rapi, tetapi juga mempermudah perawat dalam memberikan perawatan yang lebih efisien dan berkualitas. Berikut beberapa manfaat SOAP dalam pekerjaan sehari-hari perawat:

  1. Pencatatan yang Lebih Terstruktur dan Efisien
    Metode SOAP membantu perawat mencatat informasi medis pasien secara terstruktur, sehingga semua informasi penting terekam dengan jelas dalam catatan medis. Dengan adanya alur yang teratur – mulai dari informasi subjektif, objektif, assessment, hingga rencana perawatan – perawat dapat dengan cepat menemukan informasi yang diperlukan tanpa harus mencari di banyak tempat. Ini juga menghemat waktu, terutama saat melakukan handover atau serah terima pasien antar shift.
  2. Memudahkan Komunikasi Antar Tim Medis
    Dalam lingkungan rumah sakit, kerja sama tim medis yang solid sangatlah penting. SOAP memungkinkan perawat untuk menyampaikan informasi kondisi pasien secara jelas kepada dokter atau tim kesehatan lainnya. Dengan begitu, setiap anggota tim memiliki pemahaman yang sama tentang kondisi pasien, sehingga pengambilan keputusan dan tindakan medis dapat dilakukan secara tepat dan cepat.
  3. Meminimalkan Kesalahan dalam Perawatan
    Struktur SOAP yang sistematis mengurangi risiko kesalahan dalam perawatan, karena semua informasi pasien dicatat secara lengkap dan rinci. Ketika data subjektif dan objektif sudah terdokumentasi dengan baik, perawat dapat melakukan assessment dan perencanaan tindakan dengan lebih percaya diri dan akurat. Hal ini mengurangi potensi kesalahan yang bisa membahayakan pasien, seperti pemberian obat yang salah atau prosedur yang tidak sesuai.
  4. Meningkatkan Kualitas Pengambilan Keputusan Klinis
    Pencatatan dengan SOAP memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi pasien yang dapat mendukung perawat dalam pengambilan keputusan. Dengan memiliki data yang terstruktur dan terintegrasi, perawat dapat melihat perkembangan atau penurunan kondisi pasien secara jelas, sehingga keputusan klinis yang diambil pun lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
  5. Mendukung Evaluasi Berkelanjutan dan Perawatan Berkelanjutan
    SOAP memungkinkan perawat untuk terus melakukan evaluasi kondisi pasien dari waktu ke waktu. Karena semua catatan terdokumentasi dengan baik, perawat dapat memantau perubahan kondisi pasien dengan lebih mudah dan cepat, memastikan bahwa setiap perkembangan tercatat. Ini mempermudah perawat dalam melakukan tindak lanjut, baik saat pasien masih dalam perawatan di rumah sakit maupun setelah mereka pulang dan melanjutkan perawatan di rumah.
  6. Memperkuat Profesionalisme dan Akuntabilitas Perawat
    Dengan menggunakan metode SOAP, perawat tidak hanya menunjukkan profesionalisme dalam pencatatan medis tetapi juga meningkatkan akuntabilitas mereka terhadap kualitas perawatan yang diberikan. Catatan yang terstruktur dan informatif menunjukkan dedikasi perawat dalam menyediakan perawatan terbaik dan memastikan keamanan pasien. Hal ini juga berguna dalam kasus pengkajian ulang atau audit medis, di mana catatan SOAP yang lengkap dapat dijadikan bukti dan rujukan penting.
  7. Mempermudah Pelatihan dan Pembelajaran bagi Perawat Baru
    Penerapan metode SOAP juga bermanfaat dalam pendidikan dan pelatihan perawat baru. Dengan mempelajari pola SOAP dalam pencatatan medis, perawat baru dapat memahami cara mendokumentasikan kondisi pasien secara efektif dan mendalam. Ini mempercepat proses adaptasi mereka dalam lingkungan kerja, serta membantu mereka membangun kompetensi klinis yang kuat.
  8. Mendukung Penelitian dan Pengembangan Klinis
    Dalam jangka panjang, pencatatan yang terstruktur seperti SOAP juga dapat digunakan sebagai data untuk penelitian dan pengembangan layanan klinis. Informasi yang tercatat secara konsisten membantu rumah sakit dalam menganalisis pola penyakit, tingkat keberhasilan pengobatan, serta efektivitas intervensi perawatan tertentu. Bagi manajemen rumah sakit, ini merupakan aset berharga untuk meningkatkan mutu layanan dan menyusun kebijakan berbasis data.

Dengan berbagai manfaat tersebut, penggunaan metode SOAP dalam pekerjaan sehari-hari perawat menjadi langkah yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan keamanan perawatan pasien, serta mendorong profesionalisme dalam praktik keperawatan.

Baca juga: 9 Teknologi dalam SOAP: Ubah Cara Anda Mencatat Medis Sekarang!

Hubungan SOAP dan Standar Akreditasi Rumah Sakit

Dalam konteks akreditasi rumah sakit, pencatatan SOAP memainkan peran penting sebagai bagian dari standar yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas layanan yang aman dan efektif. Metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) tidak hanya membantu perawat dalam mencatat informasi medis pasien dengan jelas, tetapi juga mendukung standar akreditasi yang menekankan pada dokumentasi yang komprehensif, akurat, dan terstruktur.

  1. Mendukung Ketepatan dan Keamanan Dokumentasi Pasien
    Akreditasi rumah sakit menetapkan bahwa dokumentasi harus mencakup informasi medis yang lengkap dan tepat waktu untuk mencegah kesalahan dalam perawatan pasien. Dengan pencatatan SOAP, setiap elemen informasi—baik subjektif dari pasien, hasil pengamatan objektif, penilaian kondisi, maupun rencana tindakan—diurutkan dan disimpan dengan rapi, memudahkan semua anggota tim medis dalam meninjau kondisi pasien secara menyeluruh.
  2. Memenuhi Kriteria Evaluasi Standar Layanan
    Standar akreditasi umumnya mencakup kriteria yang mengharuskan perawat dan tenaga medis mendokumentasikan proses perawatan sesuai prosedur baku yang konsisten. SOAP memenuhi kriteria ini karena strukturnya yang sistematis, sehingga setiap penilaian dan rencana tindakan selalu didasarkan pada data yang jelas dan teratur, baik dalam hal pengumpulan informasi maupun implementasi rencana perawatan.
  3. Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas
    Salah satu tujuan utama dari akreditasi rumah sakit adalah meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelayanan kesehatan. SOAP memfasilitasi hal ini dengan menyediakan catatan yang bisa diverifikasi dan ditelusuri, mulai dari keluhan awal pasien hingga tindakan yang diambil. Setiap anggota tim medis dapat memahami riwayat perawatan pasien, sehingga jika diperlukan evaluasi, seluruh proses dapat dilacak dengan jelas.
  4. Mendukung Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan
    Akreditasi juga mengharuskan adanya pemantauan dan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas layanan. Metode pencatatan medis membantu mencatat perkembangan kondisi pasien secara terstruktur, yang memungkinkan evaluasi rutin terhadap efektivitas perawatan. Dengan catatan medis yang lengkap, tim akreditasi dapat menilai apakah intervensi medis yang dilakukan sudah sesuai atau perlu penyesuaian.

Tantangan dalam Implementasi SOAP bagi Perawat

Implementasi metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) dalam pencatatan medis sering menemui beberapa kendala di lapangan. Berikut adalah tantangan utama yang dihadapi perawat:

  1. Keterbatasan Waktu
    Beban kerja yang tinggi dan jumlah pasien yang banyak dapat membuat perawat kesulitan mencatat informasi medis secara lengkap dan akurat.
  2. Kurangnya Pemahaman Teknis
    Tidak semua perawat memiliki pemahaman mendalam tentang metode pencatatan medis, sehingga risiko kesalahan dalam pencatatan meningkat.
  3. Resistensi terhadap Perubahan
    Beberapa perawat mungkin merasa terbiasa dengan metode pencatatan lama dan enggan untuk beradaptasi dengan sistem catatan medis.
  4. Kesulitan dalam Menyelaraskan Data Antar Tim
    Kurangnya koordinasi antar tim medis dapat menghambat konsistensi data dan interpretasi informasi dalam catatan medis.

Cara Mengatasi Tantangan dalam Penerapan SOAP

Untuk mengoptimalkan penerapan SOAP di rumah sakit, berikut adalah solusi singkat yang dapat diimplementasikan:

  1. Penyediaan Pelatihan Berkala
    Pelatihan rutin tentang metode pencatatan medis bagi perawat membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan pencatatan yang akurat.
  2. Adopsi Teknologi Digital
    Menggunakan aplikasi pencatatan medis berbasis digital dapat mempercepat proses pencatatan, mengurangi risiko kesalahan, dan memudahkan akses informasi.
  3. Budaya Dokumentasi yang Kuat
    Mendorong budaya dokumentasi di rumah sakit membuat perawat lebih konsisten dan teliti dalam mencatat data medis.
  4. Evaluasi dan Umpan Balik Rutin
    Memberikan evaluasi berkala terhadap catatan medis membantu perawat mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dan memperkuat kualitas pencatatan.
  5. Pengaturan Beban Kerja yang Efisien
    Manajemen beban kerja yang efektif memastikan perawat memiliki cukup waktu untuk pencatatan medis yang teliti dan berkualitas.

Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini, penerapan metode SOAP dapat dilakukan lebih efektif, sehingga mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Baca juga: 10 Alasan Pentingnya Konsistensi dalam SOAP Rekam Medis untuk Manajemen Rumah Sakit

Langkah-langkah Penerapan SOAP yang Efektif bagi Perawat

Akreditasi Klinik Pratama

Agar pencatatan SOAP memberikan manfaat maksimal dalam pelayanan kesehatan, penting bagi perawat untuk memahami langkah-langkah penerapan metode ini secara efektif. Dengan menerapkan setiap komponen pencacatan medis secara konsisten dan tepat, perawat dapat memastikan bahwa informasi yang didokumentasikan akurat, relevan, dan mudah dipahami oleh tim medis lainnya. Berikut langkah-langkah yang dapat diikuti untuk mencapai hasil yang optimal:

  1. Kumpulkan Informasi Subjektif secara Menyeluruh
    Langkah pertama dalam penerapan SOAP adalah mengumpulkan informasi subjektif dari pasien, yaitu keluhan atau gejala yang dirasakan. Pada tahap ini, perawat sebaiknya melakukan wawancara dengan pendekatan empatik, mendengarkan secara aktif, dan mencatat semua keluhan yang diungkapkan oleh pasien. Informasi ini meliputi rasa sakit, ketidaknyamanan, dan pengalaman pribadi lainnya yang tidak dapat diukur secara langsung tetapi sangat relevan bagi perawatan.
  2. Lakukan Pengukuran dan Pengamatan Objektif
    Setelah informasi subjektif terkumpul, tahap selanjutnya adalah melakukan pengamatan objektif. Langkah ini meliputi pemeriksaan fisik, pengukuran vital signs, dan pengumpulan data lain yang dapat diukur, seperti suhu tubuh, tekanan darah, atau hasil tes laboratorium. Pengamatan objektif memberikan gambaran faktual tentang kondisi pasien, sehingga membantu memperjelas diagnosis dan tindakan perawatan.
  3. Analisis dan Buat Assessment yang Akurat
    Berdasarkan informasi subjektif dan objektif yang terkumpul, langkah ketiga adalah melakukan penilaian atau assessment. Di sini, perawat perlu menganalisis data yang ada untuk mengidentifikasi masalah atau kondisi kesehatan yang sedang dialami pasien. Assessment yang akurat penting agar rencana perawatan yang disusun sesuai dengan kebutuhan pasien dan berdasarkan kondisi medis terkini.
  4. Rancang Rencana Perawatan yang Spesifik dan Terukur
    Tahap terakhir dalam SOAP adalah membuat rencana perawatan (plan) yang spesifik, terukur, dan dapat diterapkan. Pada tahap ini, perawat harus menyusun langkah-langkah yang akan diambil, baik untuk mengatasi masalah yang teridentifikasi maupun untuk mendukung pemulihan pasien. Rencana perawatan bisa mencakup tindakan yang perlu diambil oleh perawat, jadwal pemeriksaan lanjutan, serta instruksi yang harus diikuti oleh pasien.
  5. Evaluasi dan Revisi Catatan Secara Berkala
    Penerapan SOAP yang efektif juga memerlukan evaluasi berkala terhadap catatan yang telah dibuat. Setiap kali ada perubahan dalam kondisi pasien atau penyesuaian rencana perawatan, perawat perlu memperbarui catatan SOAP untuk memastikan bahwa setiap anggota tim medis memiliki informasi terkini. Evaluasi ini juga menjadi sarana untuk mengidentifikasi bagian dari catatan yang perlu diperbaiki atau diperjelas.
  6. Kolaborasi dengan Tim Medis untuk Verifikasi dan Konsistensi
    Pencatatan SOAP yang efektif memerlukan kolaborasi dengan tim medis lainnya. Dalam praktik sehari-hari, penting bagi perawat untuk berdiskusi dengan dokter atau tenaga medis lain terkait hasil assessment dan rencana perawatan yang telah disusun. Dengan verifikasi dari berbagai pihak, catatan SOAP menjadi lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.
  7. Gunakan Alat Bantu Digital untuk Mendukung Ketepatan Pencatatan
    Di era digital, penggunaan alat bantu seperti aplikasi pencatatan medis dapat meningkatkan efektivitas penerapan SOAP. Alat digital memudahkan perawat dalam mencatat informasi dengan cepat dan akurat, mengurangi risiko hilangnya data, serta mempercepat proses pencatatan dan pemantauan kondisi pasien. Jika tersedia, perawat sebaiknya memanfaatkan alat ini agar pencatatan SOAP tetap akurat dan mudah diakses.
  8. Fokus pada Detail yang Relevan untuk Meningkatkan Efektivitas Pencatatan
    Dalam setiap langkah SOAP, penting bagi perawat untuk fokus pada detail yang relevan dan menghindari informasi yang kurang penting. Dengan mencatat data yang benar-benar berhubungan dengan kondisi pasien, perawat memastikan bahwa catatan SOAP ringkas namun informatif, memudahkan anggota tim medis lainnya dalam memahami kondisi dan kebutuhan pasien.

Kesimpulan

SOAP adalah metode pencatatan yang membantu perawat dan tenaga medis lainnya dalam memberikan perawatan berkualitas dan meningkatkan keamanan pasien. Dukungan manajemen dalam penerapan SOAP sangat penting untuk menjamin keberhasilan metode ini dalam meningkatkan kualitas layanan di rumah sakit.

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru