7 Langkah Optimasi Severity Level INA-CBG untuk Meningkatkan Pendapatan RS

Choirunnisa Hapsari · · 3 menit baca
7 Langkah Optimasi Severity Level INA-CBG untuk Meningkatkan Pendapatan RS

Ringkasan Eksplisit

Severity level INA-CBG adalah salah satu faktor penentu besaran tarif klaim yang diterima rumah sakit dari BPJS Kesehatan. Semakin akurat severity level yang tercatat, semakin sesuai tarif klaim dengan beban pelayanan yang diberikan.

Banyak rumah sakit kehilangan potensi pendapatan karena severity level tidak ter-capture dengan benar — bukan karena melakukan upcoding, melainkan karena dokumentasi klinis dan proses coding yang belum optimal. Artikel ini membahas 7 langkah konkret untuk mengoptimasi severity level secara etis dan sesuai regulasi.

Memahami Severity Level INA-CBG

Dalam sistem INA-CBG (Indonesia Case Base Groups), setiap episode perawatan diklasifikasikan ke dalam kelompok tarif berdasarkan diagnosis dan prosedur. Severity level dibagi menjadi 3 tingkat:

Severity LevelKeteranganDampak Tarif
Level I (Ringan)Kasus tanpa komplikasi dan komorbiditas signifikanTarif dasar
Level II (Sedang)Kasus dengan komplikasi atau komorbiditas ringan-sedangTarif lebih tinggi
Level III (Berat)Kasus dengan komplikasi atau komorbiditas beratTarif tertinggi

Langkah 1: Optimalkan Dokumentasi Klinis oleh DPJP

Severity level ditentukan oleh kode diagnosis sekunder yang mencerminkan komplikasi dan komorbiditas. Jika dokter tidak mendokumentasikan kondisi penyerta secara lengkap, coder tidak memiliki dasar untuk meng-coding-nya.

Langkah 2: Tingkatkan Akurasi Coding ICD-10

Coder harus mampu menerjemahkan narasi klinis menjadi kode ICD-10 yang spesifik dan akurat. Penggunaan kode unspecified ketika informasi klinis sudah tersedia akan menurunkan severity level.

Langkah 3: Capture Komorbiditas Secara Lengkap

Komorbiditas (penyakit penyerta yang sudah ada sebelum masuk RS) sering luput dari pencatatan. Padahal, komorbiditas adalah faktor utama yang menaikkan severity level.

Komorbiditas yang Sering Terlewat

Langkah 4: Dokumentasikan Komplikasi yang Terjadi Selama Perawatan

Komplikasi yang timbul selama perawatan juga mempengaruhi severity level. Komplikasi harus didokumentasikan oleh dokter di dalam catatan medis dan di-coding sebagai diagnosis sekunder.

Langkah 5: Lakukan Clinical Coder Review Rutin

Adakan sesi review coding antara coder dan klinisi secara berkala untuk membahas kasus-kasus yang severity level-nya terasa tidak sesuai dengan kompleksitas perawatan.

Langkah 6: Manfaatkan Tools Analisis Klaim

Gunakan software analisis klaim untuk mendeteksi potensi under-coding dan anomali severity level. Tools seperti BPJScan dapat menganalisis file TXT klaim dan memberikan rekomendasi optimasi coding.

Langkah 7: Bangun Budaya Dokumentasi Berbasis Tim

Optimasi severity level bukan hanya tugas coder. Ini membutuhkan kolaborasi antara dokter, perawat, dan tim casemix. Bangun budaya dimana setiap tenaga medis memahami pentingnya dokumentasi yang lengkap.

FAQ

Apakah optimasi severity level termasuk upcoding?

Tidak, selama optimasi dilakukan berdasarkan dokumentasi klinis yang valid. Upcoding adalah menaikkan kode secara tidak jujur tanpa dasar klinis. Optimasi severity level berarti memastikan semua kondisi klinis yang memang ada tercatat dan ter-coding dengan benar.

Bagaimana cara mengetahui apakah RS kita under-coding?

Bandingkan distribusi severity level RS Anda dengan data nasional. Jika lebih dari 70% kasus berada di severity level I, kemungkinan besar ada under-coding atau under-documentation. Analisis juga kasus dengan LOS panjang tapi severity rendah.

Berapa potensi peningkatan pendapatan dari optimasi severity level?

Berdasarkan pengalaman di lapangan, rumah sakit yang mengoptimasi dokumentasi dan coding dapat meningkatkan case mix index sebesar 10-25%, yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dari klaim BPJS.

Sumber

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru