Apa Itu SIMRS? Panduan Lengkap untuk Rumah Sakit di Indonesia (2026)

Vera, Healthcare Content Strategist · · 19 menit baca
Apa Itu SIMRS? Panduan Lengkap untuk Rumah Sakit di Indonesia (2026)

SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) adalah sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan rumah sakit — dari pendaftaran pasien, pelayanan klinis, pengelolaan obat, hingga penagihan klaim asuransi — dalam satu platform digital terpadu.

Di Indonesia, SIMRS bukan sekadar alat bantu digital. Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Permenkes No. 82 Tahun 2013, setiap rumah sakit di Indonesia wajib menyelenggarakan SIMRS. Kewajiban ini diperkuat dengan mandat integrasi SatuSehat (platform interoperabilitas data kesehatan nasional) dan implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) melalui Permenkes No. 24 Tahun 2022.

Artikel ini membahas secara komprehensif apa itu SIMRS, dasar hukumnya, modul-modul yang wajib ada, tantangan implementasi yang dihadapi rumah sakit, serta tren terbaru yang membentuk masa depan SIMRS di Indonesia.


Dasar Hukum SIMRS di Indonesia

SIMRS memiliki landasan regulasi yang kuat dan berlapis. Memahami kerangka hukum ini penting agar rumah sakit tidak sekadar "punya SIMRS" tetapi benar-benar compliant.

UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Pasal 52 ayat (1) menyatakan:

"Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit."

Undang-undang ini menjadi fondasi hukum tertinggi yang mewajibkan SIMRS. Pasal 11 ayat (1) juga menyebutkan bahwa sistem informasi dan komunikasi merupakan bagian dari prasarana wajib rumah sakit.

Permenkes No. 82 Tahun 2013

Regulasi teknis utama tentang SIMRS, yang mengatur:

Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis

Regulasi ini mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME), dengan ketentuan:

KMK No. 1423 Tahun 2022

Memperkuat standar konten RME dan SIMRS, termasuk persyaratan minimum data yang harus direkam dalam sistem informasi rumah sakit.

Tumpukan Regulasi SIMRS (Ringkasan)

Secara hierarkis, kerangka regulasi SIMRS di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. UU 44/2009 → Kewajiban dasar SIMRS
  2. Permenkes 82/2013 → Standar teknis dan modul wajib SIMRS
  3. KMK 1423/2022 → Konten RME dalam SIMRS
  4. Permenkes 24/2022 → RME wajib untuk semua fasyankes
  5. SE SATUSEHAT → Integrasi data nasional berbasis FHIR HL7
  6. SNARS → SIMRS sebagai bukti kepatuhan akreditasi
  7. BPJS Bridging → Integrasi klaim (VClaim, eClaim, Antrol, Aplicares, iCare)

Modul-Modul Wajib dalam SIMRS

Berdasarkan Permenkes 82/2013, SIMRS harus mencakup modul-modul yang mengintegrasikan seluruh lini pelayanan rumah sakit. Berikut penjelasan setiap kategori modul beserta fungsinya.

Front Office (Pelayanan Utama)

Modul yang berinteraksi langsung dengan alur pelayanan pasien:

Modul Fungsi
Registrasi Pendaftaran pasien rawat jalan, rawat inap, dan IGD. Termasuk verifikasi kepesertaan BPJS
Rekam Medis Pencatatan data klinis pasien — asesmen, CPPT, resume medis, informed consent
Billing Perhitungan biaya layanan — tarif RS, tarif INA-CBG/iDRG, asuransi, umum
Kasir Transaksi pembayaran, cetak kuitansi, integrasi payment gateway
Apotek/Farmasi Manajemen resep, dispensing obat, stok farmasi, formularium RS

Pelayanan Penunjang

Modul Fungsi
Laboratorium Order pemeriksaan, input hasil lab, integrasi alat analizer, validasi hasil
Radiologi Order radiologi, RIS/PACS, pelaporan hasil, distribusi gambar DICOM
Kamar Operasi Jadwal operasi, catatan operasi, konsumsi bahan medis habis pakai
Gizi Manajemen diet pasien, asesmen gizi (ADIME), logistik makanan
Gudang/Logistik Inventory barang medis dan non-medis, pengadaan, distribusi ke unit

Back Office (Administrasi & Manajemen)

Modul Fungsi
Akuntansi/Keuangan Pencatatan keuangan, laporan laba rugi, neraca, arus kas
Kepegawaian & Penggajian Data karyawan, absensi, penggajian, remunerasi, jaspel
Pelaporan Laporan RL 1-5 ke Kemenkes, laporan manajerial, dashboard eksekutif
Rekam Medik Pusat Pengelolaan berkas RM, coding ICD-10/ICD-9-CM, indexing

Modul Integrasi Eksternal (Wajib Pasca-2013)

Seiring perkembangan regulasi, beberapa modul integrasi menjadi wajib meskipun tidak ada di Permenkes 82/2013:

Modul Fungsi Dasar Regulasi
Bridging VClaim BPJS Verifikasi peserta, penerbitan SEP, rujukan, surat kontrol Wajib untuk RS JKN
Bridging eClaim Pengajuan dan grouping klaim INA-CBG/iDRG ke BPJS Wajib untuk RS JKN
Antrol (Mobile JKN) Integrasi antrean online pasien JKN Wajib untuk RS JKN
Aplicares Informasi ketersediaan tempat tidur RS Wajib untuk RS JKN
iCare Monitoring klaim dan pelayanan BPJS Opsional tapi sangat direkomendasikan
SatuSehat (FHIR HL7) Pengiriman data klinis ke platform nasional Wajib sejak 2024

Integrasi Wajib: SatuSehat, BPJS, dan iDRG

Tiga ekosistem digital yang harus terintegrasi dengan SIMRS saat ini.

SatuSehat — Platform Interoperabilitas Nasional

SatuSehat adalah platform data kesehatan nasional dari Kementerian Kesehatan, berbasis standar HL7 FHIR R4 dengan terminologi ICD-10, ICD-9-CM, LOINC, dan SNOMED-CT.

Timeline kewajiban dan sanksi (berdasarkan SE HK.02.01/MENKES/1030/2023):

Batas Waktu Kewajiban Sanksi Jika Tidak Comply
31 Des 2023 Registrasi di portal SatuSehat + implementasi RME Teguran tertulis
31 Mar 2024 Integrasi SIMRS dengan SatuSehat Rekomendasi penyesuaian akreditasi
31 Jul 2024 Kirim minimal 50% data kunjungan pasien Penyesuaian akreditasi; jika belum RME: pencabutan akreditasi
31 Des 2024 Kirim 100% data kunjungan pasien Rekomendasi pencabutan izin operasional

Data wajib yang harus dikirim ke SatuSehat mencakup:

Realita di lapangan: Per Oktober 2024, baru sekitar 58% fasyankes memenuhi threshold 50% pengiriman data. Banyak RS, terutama di daerah, masih kesulitan karena keterbatasan infrastruktur IT dan SDM yang kompeten.

BPJS Bridging — 6 Sistem yang Harus Terintegrasi

Klaim BPJS adalah sumber pendapatan utama bagi mayoritas RS di Indonesia. SIMRS harus terintegrasi dengan sistem-sistem BPJS berikut:

Sistem Fungsi Level
VClaim Verifikasi peserta, penerbitan SEP, surat kontrol, perintah rawat, rujukan Wajib (FKRTL)
eClaim (INA-CBG/iDRG) Grouping klaim, penentuan tarif Wajib (FKRTL)
Antrol Integrasi antrean online dengan Mobile JKN Wajib (FKRTL & FKTP)
Aplicares Transparansi ketersediaan tempat tidur RS Wajib (FKRTL)
iCare Monitoring klaim dan pelayanan Sangat direkomendasikan
PCare Registrasi, terapi, lab, diagnosis di FKTP Wajib (FKTP)

Proses integrasi bridging BPJS:

  1. Kirim surat permohonan bridging ke BPJS Cabang
  2. BPJS memberikan Consumer ID, Secret Key, User Key (environment Dev)
  3. Whitelist URL/Domain/IP SIMRS
  4. Prasyarat: SIMRS aktif minimal 1 bulan + minimal 30 RME aktif dalam sebulan terakhir
  5. Lakukan UAT (User Acceptance Test)
  6. Setelah lulus UAT → kredensial Production

Transisi INA-CBG ke iDRG

Indonesia sedang bertransisi dari sistem tarif INA-CBG ke iDRG (Indonesia Diagnosis Related Groups), yang mulai diimplementasikan sejak pertengahan 2025.

Perbedaan utama:

Aspek INA-CBG iDRG
Basis tarif Kelas RS + kelas rawat Klinis + kompetensi fasilitas
Severity level 3 level 5 level
Jumlah DRG groups ~1.077 ~1.318
Fokus Administratif Kesetaraan tarif berbasis klinis

Dampak pada SIMRS:

Simulasi dari salah satu implementasi awal menunjukkan bahwa waktu pemrosesan klaim turun 76% (dari rata-rata 2 jam 27 menit per klaim menjadi 35 menit) setelah transisi ke sistem iDRG yang terintegrasi.


Tantangan Implementasi SIMRS di Indonesia

Implementasi SIMRS bukan sekadar instalasi software. Berbagai penelitian akademik dan audit pemerintah mengungkap tantangan sistemik yang dihadapi rumah sakit.

1. Infrastruktur IT yang Belum Memadai

Data Kementerian Kesehatan (2020) menunjukkan bahwa sekitar 60% rumah sakit di Indonesia kekurangan infrastruktur IT yang memadai untuk mendukung SIMRS secara optimal. Masalah utama:

2. Kekurangan SDM IT Kesehatan

Tidak cukup memiliki infrastruktur — RS juga membutuhkan SDM yang kompeten:

3. Resistensi Terhadap Perubahan

Penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo dan RS Dr. Sardjito menemukan:

4. Masalah Kualitas Data

Riset dari beberapa universitas (UB, Undip, UGM) mengidentifikasi:

5. Masalah Integrasi Antar-Sistem

6. Anggaran yang Tidak Memadai


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda — langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

Dampak SIMRS Terhadap Klaim BPJS: Data dan Fakta

Implementasi SIMRS yang tepat memiliki dampak langsung terhadap pendapatan rumah sakit melalui optimasi klaim BPJS. Sebaliknya, SIMRS yang buruk berkontribusi pada revenue leakage yang masif.

Kondisi Klaim BPJS Saat Ini (Audit BPK, Maret 2026)

Metrik Nilai
Total biaya klaim BPJS 2024 Rp175,1 triliun
Klaim pending (Oktober 2024) 1.972.046 kasus
Nilai klaim pending Rp4,8 triliun
Pending sebagai % total ~3%
Klaim dispute belum selesai (2018-2024) 46.248 kasus (Rp218,8 miliar)
Kebocoran klaim temuan BPK Rp1,45 triliun

Tren klaim pending sempat membaik — dari 1.076.615 kasus (Januari 2023) turun ke 521.970 (Januari 2024). Namun, angka ini melonjak drastis ke hampir 2 juta kasus pada Oktober 2024 setelah BPJS mengubah KPI dari "penyelesaian pending" menjadi "efektivitas verifikasi."

Penyebab Utama Klaim Pending

Dari analisis berbagai jurnal akademik (Undip, Urindo, UIMedan):

  1. Kesalahan koding diagnosis/prosedur — 68,18% dari kasus pending dalam satu studi disebabkan oleh error koding (code errors, code reselection, kode duplikat)
  2. Penempatan diagnosis tidak tepat — 21,9% kasus (1.190 dari sampel) pending karena diagnosis primer/sekunder tertukar di resume medis
  3. Diagnosis tidak sesuai indikasi medis — 72% dari pending sisi medis disebabkan oleh ketidakcocokan diagnosis dengan tindakan
  4. Berkas tidak lengkap — dokumen pendukung seperti hasil lab, radiologi, atau informed consent tidak terlampir
  5. Kurangnya pemeriksaan penunjang dan eviden terapi yang memadai

Peran SIMRS dalam Mencegah Revenue Leakage

SIMRS yang terintegrasi dengan baik dapat mengurangi pending rate melalui:

RS yang menggunakan SIMRS terintegrasi dengan fitur analisis klaim biasanya melihat penurunan pending rate signifikan dalam 3-6 bulan pertama implementasi.

Catatan penting: Untuk RS yang belum siap mengganti SIMRS tetapi ingin segera mengoptimasi revenue klaim, tersedia solusi standalone seperti BPJScan — tool analisis klaim AI yang bekerja dengan file TXT dari E-Klaim, tanpa perlu mengganti SIMRS yang sudah berjalan. Setup hanya 24 jam.


Jenis SIMRS yang Tersedia di Indonesia

Di Indonesia, SIMRS dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama berdasarkan model pengembangan dan distribusinya.

1. SIMRS Komersial

SIMRS yang dikembangkan oleh perusahaan swasta dengan model bisnis berbasis langganan atau lisensi.

Karakteristik umum:

Cocok untuk: RS yang membutuhkan fitur lengkap, support profesional, dan compliance regulasi terbaru — terutama RS swasta menengah-besar.

Pertimbangan: Evaluasi Track Record vendor, minta demo live (bukan presentasi), kunjungi RS referensi, dan hitung Total Cost of Ownership 3-5 tahun.

2. SIMRS Open Source — Contoh: SIMRS Khanza

SIMRS yang dikembangkan komunitas dan dibagikan secara gratis dengan source code terbuka.

SIMRS Khanza adalah contoh paling dikenal — dikembangkan oleh Windiarto Nugroho dan komunitas YASKI (Yayasan Administrasi Sistem Kesehatan Indonesia) sejak 2010. Khanza digunakan di lebih dari seribu rumah sakit di Indonesia dan tersedia gratis di GitHub.

Kelebihan Khanza:

Keterbatasan Khanza:

Cocok untuk: RS dengan tim IT internal yang kompeten, anggaran terbatas, dan kemampuan memelihara serta mengembangkan sistem secara mandiri.

3. SIMRS Pemerintah — Contoh: SIMGOS

SIMRS yang dikembangkan dan disediakan oleh instansi pemerintah untuk fasilitas kesehatan milik pemerintah.

SIMGOS (Sistem Informasi Manajemen Generik Open Source) dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI (melalui BPFK — Balai Pengembangan Fasilitas Kesehatan). SIMGOS dirancang khusus untuk RS pemerintah yang belum memiliki SIMRS.

Kelebihan SIMGOS:

Keterbatasan SIMGOS:

Cocok untuk: RSUD dan RS pemerintah yang membutuhkan sistem standar sesuai tata kelola pemerintah, dengan anggaran terbatas.

Ringkasan Perbandingan

Aspek Komersial Open Source (Khanza) Pemerintah (SIMGOS)
Biaya Subscription/lisensi Gratis Gratis (RS pemerintah)
SatuSehat FHIR Umumnya built-in Belum built-in Dalam pengembangan
BPJS VClaim Ya Ya Ya
Fitur AI Tergantung vendor Tidak Tidak
Platform Web-based / Cloud Desktop (Java) Web-based
Support Profesional (SLA) Komunitas BPFK regional
Kustomisasi Modular Source code Terbatas
Cocok untuk RS swasta & pemerintah RS dgn tim IT kuat RS pemerintah

SIMRS dan Akreditasi RS (SNARS/KARS)

SIMRS memiliki peran krusial dalam pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit), yang diterbitkan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit), menjadi tolok ukur tertinggi mutu dan keselamatan pasien di Indonesia.

SIMRS mendukung pemenuhan SNARS melalui:

Hubungan langsung SATUSEHAT dan akreditasi: Fasyankes yang tidak terkoneksi SatuSehat berisiko penyesuaian atau pencabutan status akreditasi. SIMRS yang terintegrasi SatuSehat menjadi bukti langsung kepatuhan.


Keamanan Data dalam SIMRS

Data medis adalah data paling sensitif yang dikelola oleh rumah sakit. Keamanan SIMRS bukan hanya soal teknologi, tetapi juga kepatuhan hukum.

Insiden yang Pernah Terjadi

Standar Keamanan yang Harus Dipenuhi

SIMRS yang aman harus memenuhi:

Standar Keterangan
UU PDP Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi — mengatur pengelolaan data pasien
PSE Komdigi Terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (wajib hukum)
ISO 27001 Standar internasional manajemen keamanan informasi
Enkripsi Data at rest dan in transit harus terenkripsi
RBAC Role-based access control — pembatasan akses berdasarkan peran
Audit trail Pencatatan setiap aktivitas untuk keperluan medikolegal
Backup & DR Prosedur backup berkala dan disaster recovery plan

Tren SIMRS di Indonesia: 2026 dan Seterusnya

1. Cloud-Based SIMRS

Pangsa pasar platform cloud-based mencapai 64,9% dari pasar healthcare IT Indonesia. Keunggulan utama: biaya awal lebih rendah, maintenance oleh vendor, scalable sesuai kebutuhan, dan aksesibilitas dari mana saja.

2. AI dalam Pelayanan RS

Penerapan AI di rumah sakit Indonesia mulai meningkat, terutama untuk:

Sejak Agustus 2025, AI mulai digunakan secara intensif untuk mendukung konsistensi koding dalam transisi iDRG.

3. Interoperabilitas Sebagai Standar

SatuSehat mendorong adopsi standar HL7 FHIR R4 secara masif. RS yang sudah mengimplementasikan FHIR akan memiliki keunggulan dalam interoperabilitas — data klinis dapat mengalir antar-fasyankes tanpa hambatan format.

4. Market Size yang Berkembang

Metrik Nilai
Indonesia Smart Hospitals Market USD 227 juta
Digital Health Market (2025) USD 1,92 miliar (projected)
Connected Healthcare CAGR 28,18% (2025-2033)
Total RS di Indonesia (2024) 3.052

Dengan 3.052 RS dan adopsi digital yang terus meningkat, pasar SIMRS Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.


FAQ: Pertanyaan Umum Seputar SIMRS

Apa itu SIMRS?

SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) adalah sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan rumah sakit — dari pendaftaran pasien, rekam medis, pelayanan klinis, farmasi, laboratorium, radiologi, billing, hingga pelaporan ke regulator. Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009 dan Permenkes No. 82 Tahun 2013, setiap rumah sakit di Indonesia wajib menyelenggarakan SIMRS.

Apakah SIMRS wajib untuk semua rumah sakit?

Ya. Pasal 52 ayat (1) UU No. 44 Tahun 2009 mewajibkan setiap rumah sakit melakukan pencatatan dan pelaporan dalam bentuk SIMRS. Permenkes No. 82 Tahun 2013 mempertegas kewajiban ini dengan standar teknis. Tidak ada pengecualian berdasarkan tipe atau ukuran RS.

Apa saja modul wajib dalam SIMRS?

Berdasarkan Permenkes 82/2013, modul wajib SIMRS meliputi: (1) Front office — registrasi, rekam medis, billing, kasir, farmasi; (2) Pelayanan penunjang — laboratorium, radiologi, kamar operasi, gizi; (3) Back office — akuntansi, kepegawaian, pelaporan; (4) Integrasi eksternal — bridging BPJS VClaim, eClaim, Antrol, Aplicares, dan integrasi SatuSehat.

Berapa biaya implementasi SIMRS?

Sangat bervariasi. SIMRS open source (seperti Khanza) gratis dari sisi lisensi, tetapi membutuhkan investasi infrastruktur server dan tim IT internal. SIMRS pemerintah (SIMGOS) gratis untuk RS pemerintah. SIMRS komersial berkisar dari Rp2-5 juta/bulan (cloud, modul tertentu) hingga ratusan juta untuk implementasi penuh on-premise. Yang terpenting adalah menghitung Total Cost of Ownership (TCO) selama 3-5 tahun, bukan hanya biaya bulanan.

Apakah bisa optimasi klaim BPJS tanpa ganti SIMRS?

Bisa. Tidak semua solusi mengharuskan penggantian SIMRS. Contohnya, BPJScan dari MedMinutes adalah tool analisis klaim AI yang bekerja standalone — cukup upload file TXT dari E-Klaim/INA-CBG. Tidak perlu mengganti atau memodifikasi SIMRS yang sudah berjalan. Ini cocok untuk RS yang ingin segera mengoptimasi revenue klaim tanpa proyek migrasi SIMRS yang besar.

Apa bedanya SIMRS dengan RME?

SIMRS adalah sistem menyeluruh yang mencakup semua aspek operasional RS (administrasi, keuangan, pelayanan, pelaporan). RME (Rekam Medis Elektronik) adalah salah satu modul/komponen dalam SIMRS yang fokus pada pencatatan data klinis pasien secara digital. Permenkes 24/2022 mewajibkan RME, dan RME idealnya terintegrasi dalam SIMRS sehingga data klinis mengalir ke modul billing, farmasi, dan pelaporan secara otomatis.

Apa itu SatuSehat dan bagaimana hubungannya dengan SIMRS?

SatuSehat adalah platform interoperabilitas data kesehatan nasional dari Kemenkes, berbasis standar HL7 FHIR R4. SIMRS harus terintegrasi dengan SatuSehat untuk mengirim data klinis (encounter, diagnosis, prosedur, obat, hasil lab) dalam format standar. RS yang tidak terintegrasi berisiko sanksi mulai dari teguran hingga pencabutan izin operasional.

Apakah SIMRS Khanza cocok untuk RS besar?

SIMRS Khanza memiliki modul yang cukup lengkap dan telah digunakan secara luas. Namun, karena berbasis desktop (Java Swing), Khanza memiliki keterbatasan dalam akses remote, integrasi SatuSehat FHIR, dan fitur AI. RS tipe A/B dengan volume pasien besar dan kebutuhan integrasi kompleks mungkin perlu mempertimbangkan solusi yang lebih scalable. Evaluasi harus berdasarkan kebutuhan spesifik RS, bukan asumsi umum.

Bagaimana transisi INA-CBG ke iDRG memengaruhi SIMRS?

Transisi ke iDRG (dimulai pertengahan 2025) menambah 5 severity level (dari 3) dan ~1.318 DRG groups baru. SIMRS harus mampu: (1) terkoneksi dengan iDRG Grouper, (2) memperbarui database tarif, (3) mengakomodasi koding yang lebih presisi, (4) menyediakan dashboard monitoring klaim real-time. RS yang SIMRS-nya belum siap iDRG berisiko mengalami lonjakan klaim pending selama masa transisi.


Kesimpulan

SIMRS adalah tulang punggung operasional rumah sakit modern di Indonesia — bukan lagi "nice to have" tetapi kewajiban hukum dengan konsekuensi nyata bagi yang tidak comply. Dari regulasi yang semakin ketat (SatuSehat, RME wajib, iDRG) hingga tekanan finansial klaim BPJS yang mencapai Rp4,8 triliun pending, rumah sakit membutuhkan SIMRS yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar terinstal.

Tiga opsi tersedia — komersial, open source (Khanza), dan pemerintah (SIMGOS) — masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasan yang berbeda. Yang terpenting bukan memilih yang termahal atau termurah, tetapi yang paling sesuai dengan profil, kapasitas, dan kebutuhan rumah sakit Anda.


_Butuh solusi analisis klaim BPJS yang bekerja tanpa mengganti SIMRS Anda? Jadwalkan demo BPJScan — setup 24 jam, langsung bisa analisis potensi revenue yang terlewat._


Referensi

  1. Republik Indonesia. _UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit_. Pasal 11, 52.
  2. Kementerian Kesehatan RI. _Permenkes No. 82 Tahun 2013 tentang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit_.
  3. Kementerian Kesehatan RI. _Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis_.
  4. Kementerian Kesehatan RI. _KMK No. 1423 Tahun 2022 tentang Standar Konten RME_.
  5. Kementerian Kesehatan RI. _SE HK.02.01/MENKES/1030/2023 tentang Kewajiban Integrasi SatuSehat_.
  6. Badan Pemeriksa Keuangan. _Audit Klaim BPJS Kesehatan_. Maret 2026.
  7. Kementerian Kesehatan RI. _Platform SatuSehat — Spesifikasi FHIR HL7_. satusehat.kemkes.go.id.
  8. BPJS Kesehatan. _Pedoman Bridging VClaim untuk FKRTL_. 2023.
  9. YASKI. _SIMRS Khanza — Dokumentasi dan Source Code_. github.com/mas-elkhanza/SIMRS-Khanza.
  10. Kementerian Kesehatan RI (BPFK). _SIMGOS — Sistem Informasi Manajemen Generik Open Source_. keslan.kemkes.go.id/simgos.
  11. Studi Pending Klaim BPJS. _Ejournal Undip, Jurnal Urindo, JIPIKI UIMedan_. 2024-2025.
  12. _Evaluasi SIMRS Menggunakan Metode HOT-Fit_. J-PTIIK Universitas Brawijaya.
  13. _Pengaruh Power Distance terhadap Adopsi SIMRS_. Jurnal Ilmiah Informatika UNG.
  14. BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara). _Laporan Insiden Siber Nasional 2024_.
  15. Mordor Intelligence. _Indonesia Connected Healthcare Market Report 2025-2033_.
Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru