Manajemen Mutu Rumah Sakit: Panduan Indikator, Monitoring, dan Peningkatan Berkelanjutan

Vera, Healthcare Content Strategist · · 15 menit baca
Manajemen Mutu Rumah Sakit: Panduan Indikator, Monitoring, dan Peningkatan Berkelanjutan

Manajemen Mutu Rumah Sakit: Panduan Indikator, Monitoring, dan Peningkatan Berkelanjutan

Ringkasan

Manajemen mutu rumah sakit adalah sistem terstruktur yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan peningkatan berkelanjutan terhadap kualitas pelayanan kesehatan dengan mengacu pada 6 dimensi mutu WHO (safe, effective, patient-centered, timely, efficient, equitable). Di Indonesia, rumah sakit wajib memantau minimal 12 indikator mutu nasional sesuai Permenkes dan memenuhi standar akreditasi SNARS/STARKES. Manajemen mutu yang baik tidak hanya meningkatkan outcome klinis dan kepuasan pasien, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas dokumentasi klinis dan akurasi klaim BPJS.


Definisi Mutu Rumah Sakit

Perspektif ISO

Menurut ISO 9001:2015, mutu didefinisikan sebagai "degree to which a set of inherent characteristics of an object fulfils requirements" — sejauh mana karakteristik bawaan suatu objek memenuhi persyaratan. Dalam konteks rumah sakit, ini berarti sejauh mana pelayanan yang diberikan memenuhi standar yang ditetapkan dan harapan pasien.

Perspektif WHO

WHO mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan sebagai "the extent to which health care services provided to individuals and patient populations improve desired health outcomes." WHO menekankan bahwa mutu harus bersifat:

Perspektif Kemenkes RI

Kementerian Kesehatan RI melalui Permenkes Nomor 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan sebagai tingkat layanan kesehatan untuk individu dan masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal, diberikan sesuai dengan standar pelayanan, dan perkembangan ilmu pengetahuan terkini.

Integrasi Tiga Perspektif

Ketiga perspektif ini saling melengkapi dan membentuk kerangka mutu yang komprehensif:

Rumah sakit yang efektif mengintegrasikan ketiga perspektif ini dalam sistem manajemen mutu mereka.


6 Dimensi Mutu WHO

Tabel: 6 Dimensi Mutu WHO dan Implementasinya di Rumah Sakit Indonesia

DimensiDefinisiIndikator UtamaContoh Implementasi di RS Indonesia
Safe (Aman)Pelayanan yang meminimalkan risiko dan bahaya bagi pasienInsiden keselamatan pasien, medication error rate, surgical site infection rateImplementasi 6 Sasaran Keselamatan Pasien (SKP), identifikasi pasien dengan gelang warna, surgical safety checklist, hand hygiene 5 moments
Effective (Efektif)Pelayanan berdasarkan bukti ilmiah yang menghasilkan outcome optimalClinical outcome rates, readmission rate, mortality ratePenerapan clinical pathway evidence-based, formularium RS berbasis EBM, clinical audit rutin, penggunaan pedoman praktik klinis terbaru
Patient-centered (Berpusat pada Pasien)Pelayanan yang menghormati preferensi, kebutuhan, dan nilai pasienPatient satisfaction score, complaint resolution time, informed consent complianceSurvei kepuasan pasien berkala, patient experience program, HPK (Hak Pasien dan Keluarga) sesuai SNARS, edukasi pasien terstruktur
Timely (Tepat Waktu)Pelayanan tanpa penundaan yang tidak perluEmergency response time, waiting time, time-to-surgeryTarget respons IGD <5 menit untuk triase merah, antrian rawat jalan terkelola, jadwal operasi tepat waktu, hasil lab tersedia <24 jam
Efficient (Efisien)Memaksimalkan sumber daya dan menghindari pemborosanBOR, ALOS, cost per case, resource utilization rateBed management system, discharge planning dari hari pertama, formularium yang cost-effective, minimalisasi pemeriksaan diagnostik yang tidak perlu
Equitable (Adil/Merata)Pelayanan yang sama tanpa memandang karakteristik pribadi pasienDisparitas outcome antar kelompok, akses pelayananPelayanan yang sama untuk pasien BPJS dan umum, non-diskriminasi berdasarkan SARA, aksesibilitas untuk pasien disabilitas

Penerapan 6 Dimensi dalam Satu Kasus

Untuk mengilustrasikan bagaimana 6 dimensi bekerja bersamaan, berikut contoh kasus appendektomi:

  1. Safe: Surgical safety checklist dilaksanakan sebelum operasi; hand hygiene compliance 100%
  2. Effective: Clinical pathway appendektomi laparoskopi diikuti; antibiotik profilaksis sesuai guideline
  3. Patient-centered: Pasien dan keluarga mendapat edukasi pre-operasi; informed consent menyeluruh
  4. Timely: Operasi dilakukan dalam 12 jam setelah diagnosis (sesuai standar)
  5. Efficient: LOS 2-3 hari (sesuai clinical pathway); tidak ada pemeriksaan penunjang yang tidak perlu
  6. Equitable: Prosedur dan kualitas pelayanan sama untuk pasien BPJS kelas 3 maupun pasien umum kelas VIP

Indikator Mutu Wajib Kemenkes

Tabel: 12+ Indikator Mutu Nasional Wajib

NoIndikatorTargetDefinisi OperasionalUnit Penanggung Jawab
1Emergency Response Time<5 menit (triase merah)Waktu dari pasien tiba di IGD hingga mendapat penanganan pertama oleh tenaga medisIGD
2Surgical Safety Checklist Compliance100%Persentase operasi yang melaksanakan 3 fase checklist (sign-in, time-out, sign-out)Kamar Operasi
3Hand Hygiene Compliance>85%Persentase kepatuhan cuci tangan 5 moments sesuai WHO pada observasi langsungSeluruh unit (PPI)
4Patient Fall Rate<3 per 1.000 patient daysJumlah kejadian jatuh per 1.000 hari perawatanRawat Inap
5Medication Error Rate<5%Persentase kejadian kesalahan pengobatan terhadap total order obatFarmasi + Rawat Inap
6Hospital-Acquired Infection (HAI) RateSesuai standar PPIAngka infeksi yang terjadi >48 jam setelah admisi: phlebitis, ISK, VAP, IADP, IDOPPI
7Patient Identification Compliance100%Persentase kepatuhan identifikasi pasien (minimal 2 identitas) sebelum tindakanSeluruh unit
8Informed Consent Compliance100%Persentase tindakan medis yang memiliki informed consent lengkap dan ditandatanganiSeluruh unit klinis
9Clinical Pathway Compliance>80%Persentase kasus yang ditangani sesuai clinical pathway yang ditetapkanPer SMF/Departemen
10Patient Satisfaction Score>80%Skor kepuasan pasien berdasarkan survei standarSeluruh unit (Humas)
11Waktu Tunggu Rawat Jalan<60 menitWaktu dari pendaftaran hingga bertemu dokterRawat Jalan
12Kepatuhan Penulisan Resep sesuai Formularium>80%Persentase resep yang sesuai dengan formularium rumah sakitFarmasi
13Ketepatan Waktu Pelaporan Hasil Kritis Lab<30 menitWaktu dari hasil kritis ditemukan hingga dilaporkan ke DPJPLaboratorium
14Readmission Rate (30 hari)<5%Persentase pasien yang kembali dirawat dalam 30 hari dengan diagnosa samaRawat Inap

Cara Pengukuran Indikator

Setiap indikator memiliki formula pengukuran yang spesifik. Beberapa prinsip umum:


Kerangka PDCA untuk Peningkatan Mutu

Plan-Do-Check-Act (PDCA) Cycle

PDCA — juga dikenal sebagai Deming Cycle — adalah kerangka kerja fundamental untuk peningkatan mutu berkelanjutan. Dalam konteks rumah sakit, PDCA diterapkan baik untuk level organisasi maupun untuk perbaikan masalah spesifik.

Tabel: Implementasi PDCA di Rumah Sakit

FaseAktivitasOutputTools yang DigunakanContoh RS
PlanIdentifikasi masalah, analisis data, tentukan akar masalah, rancang intervensiRencana perbaikan dengan target, timeline, dan PICFishbone diagram, Pareto chart, 5-Why analysis"Hand hygiene compliance hanya 65%. Target 85% dalam 3 bulan. Intervensi: reminder visual + audit harian."
DoImplementasikan intervensi, edukasi staf, dokumentasikan prosesIntervensi berjalan, staf terlatihSOP baru, materi edukasi, pilot project"Pasang poster 5 moments di setiap wastafel. Latih 100% perawat. Pilot di 2 bangsal selama 1 bulan."
CheckMonitor hasil, bandingkan dengan target, identifikasi gapData hasil pengukuran, analisis gapRun chart, control chart, audit checklist"Setelah 1 bulan: compliance naik dari 65% ke 78%. Belum capai target 85%. Gap: shift malam masih rendah."
ActStandarisasi jika berhasil, modifikasi jika belum mencapai target, lanjutkan siklusStandar baru atau revisi rencanaStandardisasi SOP, revisi rencana, siklus baru"Tambah audit khusus shift malam. Beri reward unit dengan compliance tertinggi. Target review bulan depan."

PDCA di Level Organisasi

Di level organisasi, PDCA berbentuk program kerja tahunan komite mutu:

  1. Plan (Q1): Review data mutu tahun lalu, identifikasi 5 prioritas perbaikan, susun rencana kerja
  2. Do (Q1-Q3): Implementasi program perbaikan per prioritas
  3. Check (Q3): Evaluasi mid-year, review capaian indikator
  4. Act (Q4): Standarisasi perbaikan yang berhasil, revisi yang belum tercapai, siapkan rencana tahun depan

PDCA di Level Unit

Di level unit, PDCA digunakan untuk menyelesaikan masalah spesifik. Siklus biasanya lebih pendek (1-3 bulan):


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda — langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

Struktur Organisasi Mutu Rumah Sakit

Hierarki Manajemen Mutu

Struktur organisasi mutu rumah sakit yang efektif terdiri dari beberapa level:

1. Direktur Utama / Direktur RS

2. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP)

3. Tim Mutu Unit

4. Sub-Komite Terkait

Reporting Line

`

Direktur RS

└── Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP)

├── Sub-komite Peningkatan Mutu

├── Sub-komite Keselamatan Pasien

├── Sub-komite Manajemen Risiko

└── PJ Mutu Unit (setiap unit)

└── Champion mutu di setiap shift

`

Frekuensi Pertemuan

LevelFrekuensiAgenda Utama
Rapat KMKP dengan DirekturBulananReview indikator mutu, insiden kritis, progres program
Rapat KMKP internal2x per bulanKoordinasi program, analisis data, persiapan laporan
Rapat PJ Mutu UnitBulananPengumpulan data, sharing best practice, diskusi masalah
Rapat insidentalSesuai kebutuhanInvestigasi insiden serius, respons terhadap temuan akreditasi

Akreditasi dan Manajemen Mutu

Standar SNARS/STARKES

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) yang kini bertransformasi menjadi STARKES (Standar Terakreditasi Kemenkes) memiliki beberapa bab yang secara langsung terkait manajemen mutu:

Bab PMKP (Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien):

Bab SKP (Sasaran Keselamatan Pasien):

  1. Identifikasi pasien dengan benar
  2. Komunikasi efektif
  3. Keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert medications)
  4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
  5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
  6. Pengurangan risiko pasien jatuh

Bab MKI (Manajemen Komunikasi dan Informasi):

Evaluasi Akreditasi terhadap Manajemen Mutu

Surveyor akreditasi mengevaluasi manajemen mutu melalui:

  1. Telusur dokumen — Kebijakan, pedoman, SOP, laporan mutu
  2. Telusur fasilitas — Observasi langsung di unit pelayanan
  3. Wawancara staf — Pemahaman tentang indikator mutu dan peran mereka
  4. Review data — Trend indikator mutu, analisis insiden, bukti perbaikan
  5. Case study — Menelusuri satu kasus dari admisi hingga discharge untuk melihat kepatuhan standar

Clinical Audit dalam Manajemen Mutu

Apa Itu Clinical Audit?

Clinical audit adalah proses evaluasi sistematis terhadap pelayanan klinis dengan membandingkan praktik aktual terhadap standar yang ditetapkan (clinical pathway, pedoman praktik klinis, atau evidence-based guidelines).

Siklus Clinical Audit

  1. Pemilihan topik — Berdasarkan volume tinggi, risiko tinggi, atau masalah teridentifikasi
  2. Penetapan standar — Tentukan kriteria dan standar yang digunakan
  3. Pengumpulan data — Retrospektif dari rekam medis atau prospektif dari observasi langsung
  4. Analisis — Bandingkan praktik aktual dengan standar; identifikasi gap
  5. Implementasi perbaikan — Edukasi, revisi SOP, intervensi lainnya
  6. Re-audit — Ukur ulang setelah perbaikan untuk memastikan efektivitas

Frekuensi dan Metodologi

AspekDetail
FrekuensiMinimal 2x per tahun per topik
SampelMinimal 30 rekam medis per audit
Sumber dataRekam medis (RME/konvensional), data SIMRS, observasi langsung
PelaksanaTim audit medis (sub-komite mutu atau KSM/SMF)
LaporanDiserahkan ke KMKP dan dibahas dalam rapat mutu
Topik prioritas10 diagnosa terbanyak, kasus komplikasi, kasus kematian

Hubungan Clinical Audit dengan Dokumentasi RME

Kualitas clinical audit sangat bergantung pada kualitas dokumentasi dalam Rekam Medis Elektronik (RME). RME yang baik memungkinkan:


Patient Safety dan Manajemen Mutu

Insiden Keselamatan Pasien

Insiden keselamatan pasien (IKP) diklasifikasikan menjadi:

  1. KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) — Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien
  2. KNC (Kejadian Nyaris Cedera) — Insiden yang hampir mengenai pasien tetapi berhasil dicegah
  3. KTC (Kejadian Tidak Cedera) — Insiden yang mengenai pasien tetapi tidak menimbulkan cedera
  4. KPC (Kondisi Potensial Cedera) — Kondisi yang berpotensi menimbulkan cedera tetapi belum terjadi insiden
  5. Sentinel Event — Kejadian tidak terduga yang mengakibatkan kematian atau cedera serius

Sistem Pelaporan

Rumah sakit wajib memiliki sistem pelaporan insiden yang:

Root Cause Analysis (RCA)

RCA adalah metode investigasi mendalam yang digunakan untuk insiden serius (KTD dan Sentinel Event):

Langkah-langkah RCA:

  1. Identifikasi insiden dan bentuk tim investigasi
  2. Kumpulkan data dan fakta (timeline, wawancara, review rekam medis)
  3. Petakan kronologi kejadian
  4. Identifikasi contributing factors
  5. Tentukan root cause menggunakan fishbone diagram atau 5-Why
  6. Susun rekomendasi perbaikan
  7. Implementasikan perbaikan
  8. Monitor efektivitas perbaikan

FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)

Berbeda dengan RCA yang bersifat reaktif (setelah insiden terjadi), FMEA bersifat proaktif — mengidentifikasi potensi kegagalan sebelum terjadi:

  1. Pilih proses berisiko tinggi (misal: pemberian obat high-alert)
  2. Identifikasi semua langkah dalam proses
  3. Untuk setiap langkah, identifikasi potensi kegagalan (failure mode)
  4. Nilai setiap failure mode berdasarkan: Severity (S), Occurrence (O), Detection (D)
  5. Hitung Risk Priority Number (RPN) = S x O x D
  6. Prioritaskan failure mode dengan RPN tertinggi
  7. Rancang intervensi untuk mengurangi risiko

Dashboard Mutu Rumah Sakit

Komponen Dashboard Mutu

Dashboard mutu yang efektif harus menampilkan informasi yang actionable, bukan sekadar data:

Panel 1: Indikator Mutu Utama

Panel 2: Keselamatan Pasien

Panel 3: Kepuasan Pasien

Panel 4: Kinerja Klinis

Sumber Data

SumberData yang DiambilFrekuensi Update
SIMRS/RMELOS, diagnosa, tindakan, outcome, mortalitasReal-time
Sistem pelaporan insidenIKP per kategori, status investigasiReal-time
Survei kepuasanSkor kepuasan, feedback pasienHarian/Mingguan
Audit kepatuhanHand hygiene, identifikasi pasien, surgical checklistMingguan/Bulanan
Laboratorium/FarmasiWaktu pelaporan hasil kritis, medication errorReal-time
PPIHAI rate per jenis infeksiBulanan

Frekuensi Review


Hubungan Mutu dengan Klaim BPJS

Quality Documentation = Accurate Coding = Optimal Claims

Hubungan antara manajemen mutu dan klaim BPJS bukan hubungan langsung, melainkan melalui rantai sebab-akibat:

  1. Mutu dokumentasi klinis yang baik (indikator mutu: clinical pathway compliance, rekam medis lengkap)
  2. Menghasilkan resume medis yang akurat dan lengkap (SOAP konsisten, diagnosa terdokumentasi)
  3. Memudahkan coding yang tepat (coder memiliki informasi yang cukup untuk menentukan kode)
  4. Menghasilkan klaim yang akurat (diagnosa, prosedur, dan severity level sesuai kondisi klinis)
  5. Klaim diverifikasi tanpa hambatan (clean claim rate meningkat)

Tabel: Dampak Mutu terhadap Klaim BPJS

Aspek MutuDampak pada DokumentasiDampak pada Klaim
Clinical pathway compliance tinggiResume medis terstandar dan lengkapCoding lebih akurat; klaim lebih konsisten
Hand hygiene compliance tinggiMenurunkan HAI → LOS lebih pendekLOS sesuai standar; tidak ada LOS outlier
Medication safety baikTidak ada komplikasi akibat medication errorTidak ada perpanjangan LOS akibat iatrogenik
Patient identification complianceData pasien konsisten di semua dokumenSEP dan berkas klaim tidak inkonsisten
Surgical safety checklist complianceDokumentasi operasi lengkapKlaim prosedur bedah didukung dokumen lengkap
Clinical audit rutinIdentifikasi gap dokumentasi → perbaikanUndercoding berkurang; potensi optimasi teridentifikasi

Penalti Readmission BPJS

BPJS Kesehatan memantau readmission rate (pasien kembali dirawat dalam 30 hari dengan diagnosa sama). Readmission yang tinggi mengindikasikan masalah mutu pelayanan dan dapat berdampak:

Manajemen mutu yang fokus pada discharge planning, edukasi pasien, dan follow-up post-discharge dapat menurunkan readmission rate secara signifikan.

Mutu Coding sebagai Indikator Mutu RS

Akurasi coding seharusnya juga menjadi salah satu indikator mutu yang dipantau:


Optimalkan Mutu Pelayanan dan Klaim Rumah Sakit Anda

Manajemen mutu yang baik menciptakan efek domino positif: dokumentasi klinis berkualitas, coding yang akurat, klaim yang bersih, dan pembayaran yang lancar. Investasi pada mutu bukan biaya — ini adalah fondasi operasional yang sehat.

BPJScan membantu 50+ rumah sakit di 8+ provinsi melakukan audit mutu klaim dengan 78 filter pemeriksaan otomatis. BPJScan mengidentifikasi potensi optimasi klaim yang mungkin terlewat, inkonsistensi coding, dan pola klaim yang memerlukan perhatian.

Jadwalkan Demo BPJScan

Untuk meningkatkan kualitas dokumentasi klinis dari sisi dokter, MedMinutes Clinical Assistant (CDSS) menyediakan 4 modul:

Pelajari Clinical Assistant


FAQ: Manajemen Mutu Rumah Sakit

1. Apa saja indikator mutu wajib yang harus dipantau rumah sakit?

Rumah sakit wajib memantau minimal 12 indikator mutu nasional yang ditetapkan Kemenkes, termasuk: emergency response time (<5 menit untuk triase merah), surgical safety checklist compliance (100%), hand hygiene compliance (>85%), patient fall rate (<3 per 1.000 patient days), medication error rate (<5%), hospital-acquired infection rate, patient identification compliance (100%), informed consent compliance (100%), clinical pathway compliance (>80%), patient satisfaction score (>80%), waktu tunggu rawat jalan (<60 menit), dan kepatuhan penulisan resep sesuai formularium (>80%). Selain itu, RS juga harus menetapkan indikator mutu unit dan indikator mutu prioritas.

2. Bagaimana cara memulai program manajemen mutu di rumah sakit yang belum memilikinya?

Langkah awal: (1) Bentuk Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP) dengan SK Direktur, (2) Susun kebijakan dan pedoman mutu RS, (3) Identifikasi 5 prioritas mutu berdasarkan data — bukan asumsi, (4) Tetapkan indikator mutu nasional wajib + indikator prioritas RS, (5) Buat sistem pengumpulan data yang sederhana tapi konsisten, (6) Mulai dengan siklus PDCA untuk 1-2 masalah prioritas, (7) Lakukan review bulanan dan perbaikan berkelanjutan. Mulailah dari yang sederhana dan bertahap — jangan berusaha menyempurnakan semuanya sekaligus.

3. Apa hubungan antara akreditasi dan manajemen mutu?

Akreditasi (SNARS/STARKES) adalah evaluasi eksternal yang menilai apakah rumah sakit memiliki dan menjalankan sistem manajemen mutu yang memadai. Manajemen mutu adalah proses internal yang berkelanjutan. Keduanya saling terkait tetapi tidak identik: RS bisa lulus akreditasi tetapi manajemen mutu sehari-harinya lemah jika hanya mempersiapkan diri menjelang survei. Sebaliknya, RS dengan budaya mutu yang kuat biasanya tidak perlu persiapan khusus menjelang akreditasi karena standar sudah dijalankan dalam keseharian.

4. Bagaimana manajemen mutu berdampak pada klaim BPJS?

Hubungannya melalui rantai kualitas: (1) Mutu dokumentasi klinis yang baik menghasilkan resume medis yang lengkap dan konsisten, (2) Resume medis berkualitas memudahkan coder menentukan kode ICD-10 yang tepat dan spesifik, (3) Coding yang akurat menghasilkan klaim dengan severity level yang sesuai, (4) Klaim yang akurat diverifikasi BPJS tanpa hambatan. Selain itu, mutu pelayanan yang baik menurunkan readmission rate — yang menjadi salah satu parameter monitoring BPJS dan berpotensi menjadi penalti jika tinggi.

5. Apa perbedaan antara RCA dan FMEA?

RCA (Root Cause Analysis) bersifat reaktif — dilakukan setelah insiden keselamatan pasien terjadi untuk menemukan akar masalah dan mencegah terulangnya. FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) bersifat proaktif — dilakukan sebelum insiden terjadi untuk mengidentifikasi potensi kegagalan dalam suatu proses dan merancang pencegahan. Keduanya merupakan tools penting dalam manajemen mutu: RCA untuk belajar dari kesalahan, FMEA untuk mencegah kesalahan sebelum terjadi.

6. Seberapa sering dashboard mutu harus di-review?

Frekuensi review tergantung level: (1) Harian untuk indikator kritis seperti emergency response time dan bed availability, (2) Mingguan untuk insiden keselamatan pasien dan keluhan pasien, (3) Bulanan untuk semua indikator mutu nasional dan clinical pathway compliance, (4) Kuartalan untuk analisis trend dan benchmarking, (5) Tahunan untuk evaluasi komprehensif dan perencanaan program. Yang terpenting bukan frekuensi review-nya, tetapi adanya tindak lanjut nyata dari setiap review.


Referensi

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit.
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien.
  3. World Health Organization. (2018). Handbook for National Quality Policy and Strategy.
  4. World Health Organization. (2006). Quality of Care: A Process for Making Strategic Choices in Health Systems.
  5. Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1.1.
  6. ISO 9001:2015 — Quality Management Systems: Requirements.
  7. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
  8. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien.
  9. Institute for Healthcare Improvement (IHI). Plan-Do-Study-Act (PDSA) Worksheet.
  10. Joint Commission International. (2020). International Patient Safety Goals.
Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru