Panduan eClaim BPJS 2026: Dari Submit Sampai Cair untuk Rumah Sakit

Thesar MedMinutes, Business Development MedMinutes · · 16 menit baca
Panduan eClaim BPJS 2026: Dari Submit Sampai Cair untuk Rumah Sakit

Panduan eClaim BPJS 2026: Dari Submit Sampai Cair

Setiap bulan, ribuan klaim BPJS dari rumah sakit di Indonesia tertahan, ditolak, atau dibayar di bawah tarif seharusnya. Penyebabnya bukan karena pelayanan yang buruk, melainkan karena proses eClaim yang tidak optimal: koding yang kurang tepat, dokumen yang tidak lengkap, atau kesalahan teknis pada file TXT yang disubmit.

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman operasional MedMinutes bersama 50+ rumah sakit di 8+ provinsi Indonesia. Bukan panduan teori, melainkan panduan operasional untuk tim casemix, billing, dan coder yang setiap hari bekerja dengan eClaim BPJS.

Jika Anda mencari panduan login eClaim saja, artikel ini mungkin terlalu mendalam. Tapi jika Anda ingin memahami mengapa klaim ditolak, bagaimana cara mencegahnya, dan bagaimana mempercepat proses dari submit sampai cair, Anda berada di tempat yang tepat.


Apa Itu eClaim BPJS?

eClaim BPJS (atau E-Klaim) adalah software grouper berbasis INA-CBG (Indonesia Case Base Groups) yang digunakan oleh Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) untuk mengajukan klaim pelayanan kesehatan kepada BPJS Kesehatan. Sistem ini mengkonversi diagnosis dan prosedur medis menjadi tarif paket berdasarkan kelompok diagnosis (case-based groups).

Secara teknis, eClaim berfungsi sebagai mesin grouper: Anda memasukkan data pasien, kode diagnosis (ICD-10), dan kode prosedur (ICD-9-CM), lalu sistem menghitung tarif INA-CBG yang menjadi dasar pembayaran klaim.

eClaim pertama kali diperkenalkan bersamaan dengan dimulainya program JKN pada 1 Januari 2014. Sejak saat itu, sistem ini telah mengalami beberapa kali pembaruan, termasuk penyesuaian tarif INA-CBG dan penambahan fitur verifikasi digital.

eClaim vs VClaim vs PCare: Apa Bedanya?

Banyak staf RS yang masih bingung membedakan ketiga sistem BPJS ini. Berikut perbandingannya:

AspekeClaim (E-Klaim)VClaimPCare
Fungsi UtamaGrouper INA-CBG & submit klaim FKRTLManajemen SEP & verifikasi kepesertaanPelayanan primer (Puskesmas, Klinik Pratama)
PenggunaTim casemix, coder, billing RSPendaftaran RS & FKRTLFKTP (Faskes Tingkat Pertama)
OutputTarif klaim INA-CBG, file TXTSurat Eligibilitas Peserta (SEP)Data kunjungan pasien FKTP
HubunganMenerima data dari VClaim (SEP)Menyediakan SEP untuk eClaimTidak terkait langsung dengan eClaim
Format DataFile TXT untuk analisis & rekonsiliasiAPI/web serviceAPI/web service
Basis TarifINA-CBG (case-based groups)Tidak menghitung tarifKapitasi
Poin penting: eClaim dan VClaim saling terhubung. SEP yang dibuat di VClaim menjadi "tiket masuk" klaim di eClaim. Tanpa SEP yang valid, klaim di eClaim tidak bisa diproses.

File TXT yang dihasilkan eClaim menjadi sumber data penting untuk analisis klaim. Inilah file yang dianalisis oleh tools seperti BPJScan untuk mendeteksi potensi under-coding dan optimasi tarif.


Alur eClaim End-to-End di Rumah Sakit

Memahami alur eClaim secara menyeluruh adalah kunci untuk mengidentifikasi titik-titik rawan yang menyebabkan klaim tertunda atau ditolak. Berikut alur lengkap dari pasien masuk hingga pembayaran cair:

Tahap 1: Pendaftaran dan Pembuatan SEP

Proses dimulai saat pasien BPJS datang ke rumah sakit. Petugas pendaftaran melakukan:

Titik rawan: SEP yang salah input (nama, tanggal, jenis pelayanan) akan menyebabkan masalah saat tahap klaim. Pastikan data SEP diverifikasi ulang sebelum pasien dilayani.

Tahap 2: Pelayanan Medis dan Dokumentasi Klinis

Selama pelayanan berlangsung, dokter dan tenaga medis mendokumentasikan:

Titik rawan: Dokumentasi klinis yang tidak lengkap atau tidak spesifik adalah akar masalah terbesar dalam klaim eClaim. Jika dokter menulis "Pneumonia" tanpa spesifikasi organisme atau lokasi, coder tidak punya dasar untuk memberikan kode ICD-10 yang spesifik.

Tahap 3: Koding Diagnosis dan Prosedur

Setelah pasien selesai dilayani (pulang atau pindah), tim coder melakukan:

Cara kerja INA-CBG Grouper:

INA-CBG grouper mengambil kombinasi kode diagnosis dan prosedur, lalu mengelompokkannya ke dalam salah satu dari ratusan case group. Setiap group memiliki tarif tetap yang sudah ditetapkan berdasarkan Permenkes. Faktor yang mempengaruhi tarif meliputi:

  1. Diagnosis utama: menentukan kelompok dasar (base group)
  2. Diagnosis sekunder: menentukan severity level (I, II, atau III). Semakin banyak komorbiditas/komplikasi yang valid, semakin tinggi severity dan tarif.
  3. Prosedur: beberapa prosedur dapat mempengaruhi pengelompokan atau bahkan menggeser case group.
  4. Tipe RS: tarif berbeda untuk RS Kelas A, B, C, dan D.
  5. Regional: tarif berbeda antar regional (1-5).
  6. Rawat jalan vs rawat inap: skema tarif berbeda.
Titik rawan: Under-coding (tidak mengkode semua diagnosis dan prosedur yang relevan) adalah penyebab utama tarif klaim lebih rendah dari seharusnya. Baca panduan lengkap di artikel Optimasi Koding ICD-10 untuk BPJS.

Tahap 4: Entry Data ke eClaim dan Grouping

Tim casemix atau billing memasukkan data ke aplikasi eClaim:

Setelah data diinput, klik "Grouping" untuk mendapatkan output:

Titik rawan: Perbedaan antara grouping lokal dan server sering terjadi karena perbedaan versi database grouper. Selalu pastikan aplikasi eClaim Anda menggunakan versi terbaru.

Tahap 5: Verifikasi Internal dan Submit

Sebelum submit ke BPJS, lakukan verifikasi internal:

Setelah lolos verifikasi internal, klaim di-submit ke BPJS melalui eClaim. Data dikirim ke server BPJS dalam bentuk file batch.

Tahap 6: Verifikasi BPJS dan Pembayaran

Setelah klaim disubmit:

  1. Verifikator BPJS memeriksa klaim: kesesuaian koding, kelengkapan dokumen, dan kevalidan data.
  2. Klaim yang lolos masuk ke status "Disetujui".
  3. Klaim yang bermasalah masuk ke status "Pending" atau "Ditolak" dengan catatan alasan.
  4. Klaim yang disetujui masuk ke antrian pembayaran dan dibayarkan secara berkala (biasanya bulanan).
Timeline umum:

Baca juga: Cara Mengurangi Pending Rate Klaim BPJS


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda — langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

10 Penyebab Klaim eClaim Ditolak dan Cara Mengatasinya

Dari pengalaman MedMinutes menganalisis data klaim 50+ rumah sakit, berikut 10 penyebab penolakan klaim eClaim yang paling sering terjadi, beserta dampak dan solusinya.

1. Diagnosis Utama Tidak Sesuai Resume Medis

AspekDetail
PenyebabCoder memilih diagnosis utama yang berbeda dari apa yang tertulis di resume medis DPJP. Sering terjadi karena resume medis ambigu atau coder salah interpretasi.
DampakKlaim ditolak langsung oleh verifikator. Harus re-submit dengan koreksi, menambah waktu proses 7-14 hari.
SolusiTerapkan SOP dual-review: coder dan verifikator internal cross-check diagnosis utama dengan resume medis sebelum submit. Gunakan CDSS dengan modul AI Resume Medis untuk membantu konsistensi dokumentasi.

2. Kode ICD-10 Unspecified (.9) Padahal Data Tersedia

AspekDetail
PenyebabCoder menggunakan kode "unspecified" (kode berakhiran .9 seperti J18.9 untuk Pneumonia, unspecified) padahal data klinis cukup untuk kode yang lebih spesifik (misalnya J13 untuk Pneumonia karena Streptococcus pneumoniae).
DampakSeverity level tidak naik, tarif INA-CBG lebih rendah. Potensi kehilangan revenue Rp500.000-Rp2.000.000 per kasus tergantung case group.
SolusiTraining coder untuk selalu mencari kode paling spesifik. Gunakan tools CDSS dengan modul ICD-10 AI yang memberikan saran kode berdasarkan data klinis. Lakukan audit bulanan untuk mengidentifikasi pattern penggunaan kode .9. Baca panduan lengkap di Optimasi Koding ICD-10 BPJS.

3. Prosedur ICD-9-CM Tidak Terkode

AspekDetail
PenyebabProsedur yang dilakukan (misalnya pemasangan NGT, nebulisasi, debridement) tidak dikode di eClaim. Sering terjadi karena coder fokus pada diagnosis dan melewatkan prosedur.
DampakTarif tidak mencerminkan resource yang digunakan. Beberapa prosedur dapat menggeser case group ke tarif yang lebih tinggi jika dikode.
SolusiBuat checklist prosedur per departemen. Integrasikan pencatatan prosedur di RME agar otomatis terbawa ke eClaim. Gunakan BPJScan untuk mendeteksi kasus dengan prosedur yang berpotensi belum dikode berdasarkan pola diagnosis.

4. SEP Tidak Valid atau Expired

AspekDetail
PenyebabSEP sudah melewati masa berlaku, data SEP tidak sesuai dengan pelayanan aktual (misalnya SEP rawat jalan tapi pasien naik rawat inap tanpa pembuatan SEP baru), atau SEP dibuat setelah pelayanan.
DampakKlaim otomatis ditolak oleh sistem. Tidak bisa diperbaiki hanya dengan edit klaim, harus koordinasi dengan BPJS untuk validasi SEP.
SolusiBuat SOP monitoring SEP harian. Integrasikan alert otomatis di SIMRS untuk SEP yang mendekati expired. Untuk pasien yang naik rawat inap, segera buat SEP rawat inap baru sebelum proses klaim.

5. Resume Medis Tidak Ditandatangani DPJP

AspekDetail
PenyebabResume medis sudah diisi tapi belum ditandatangani (fisik atau digital) oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan. Sering terjadi saat DPJP bertugas shift dan lupa menandatangani resume pasien sebelumnya.
DampakKlaim masuk status pending. Verifikator BPJS mengembalikan klaim sampai resume ditandatangani. Proses tertunda 7-21 hari.
SolusiImplementasi RME terintegrasi dengan tanda tangan digital. Buat dashboard harian "resume belum ditandatangani" yang dimonitor oleh kepala ruangan. Tetapkan batas waktu penandatanganan resume maksimal 1x24 jam setelah pasien pulang.

6. Mismatch Severity Level dengan LOS

AspekDetail
PenyebabSeverity level I (ringan) tapi LOS sangat panjang, atau sebaliknya severity level III (berat) tapi LOS sangat singkat. Verifikator BPJS menganggap ini sebagai ketidaksesuaian klinis.
DampakKlaim di-pending untuk klarifikasi. Jika tidak bisa dijelaskan, klaim bisa diturunkan severity level-nya atau ditolak.
SolusiPastikan semua komorbiditas dan komplikasi yang mempengaruhi LOS dikode dengan benar. Jika memang ada kondisi klinis yang menyebabkan LOS panjang tapi severity rendah (misalnya menunggu hasil kultur), dokumentasikan di resume medis. Gunakan panduan INA-CBG Grouper untuk memahami hubungan severity dan LOS.

7. Duplikasi Klaim

AspekDetail
PenyebabKlaim yang sama disubmit lebih dari sekali. Biasanya terjadi karena kesalahan teknis (submit ulang batch yang sudah pernah dikirim) atau karena ada dua episode pelayanan yang dianggap satu oleh sistem.
DampakKlaim duplikat otomatis ditolak. Jika terdeteksi sebagai fraud, bisa berimplikasi serius bagi RS.
SolusiImplementasi pengecekan duplikasi otomatis sebelum submit. Buat log tracking per nomor SEP untuk memastikan setiap SEP hanya disubmit sekali. Jika memang ada readmisi, pastikan menggunakan SEP baru dengan justifikasi klinis yang jelas.

8. File TXT Format Error

AspekDetail
PenyebabFile TXT yang digenerate dari eClaim mengandung karakter tidak valid, encoding error, atau format kolom yang tidak sesuai spesifikasi. Sering terjadi saat bridging SIMRS-eClaim tidak sempurna.
DampakBatch klaim gagal diproses. Seluruh klaim dalam batch tersebut tertunda sampai file diperbaiki.
SolusiValidasi format file TXT sebelum submit menggunakan tools otomatis. BPJScan dapat menganalisis file TXT klaim dan mendeteksi anomali format sebelum Anda submit ke BPJS. Pastikan encoding file menggunakan standar yang diminta BPJS.

9. Deadline Submission Terlewat

AspekDetail
PenyebabKlaim tidak disubmit dalam batas waktu yang ditentukan BPJS. Deadline umumnya adalah tanggal 10 bulan berikutnya untuk klaim bulan berjalan, meskipun kebijakan bisa berbeda per kantor cabang BPJS.
DampakKlaim hangus dan tidak bisa diklaim lagi. Revenue hilang permanen.
SolusiBuat calendar reminder di level tim dengan buffer 3-5 hari sebelum deadline. Prioritaskan klaim dengan nilai tinggi untuk disubmit lebih awal. Buat dashboard monitoring jumlah klaim yang belum disubmit per periode. Baca artikel kami tentang revenue hilang akibat klaim pending untuk strategi pencegahan yang lebih komprehensif.

10. Komorbiditas Tidak Dikode (Under-Coding)

AspekDetail
PenyebabDiagnosis sekunder (komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, anemia) yang tercatat di rekam medis tidak dikode di eClaim. Coder hanya fokus pada diagnosis utama dan melewatkan kondisi penyerta.
DampakSeverity level tidak naik ke level yang seharusnya. Selisih tarif antara severity I dan III bisa mencapai 50-100% dari tarif base. Dalam skala RS, under-coding bisa menyebabkan kehilangan ratusan juta rupiah per bulan.
SolusiImplementasi audit under-coding secara rutin. Gunakan BPJScan dengan 78 filter untuk mendeteksi pola under-coding dari data klaim historis. Training coder untuk selalu memeriksa hasil lab, obat yang diberikan, dan catatan keperawatan sebagai sumber informasi komorbiditas.

Tips Optimasi eClaim untuk Mempercepat Pembayaran

Selain menghindari 10 penyebab penolakan di atas, ada beberapa strategi proaktif yang dapat mempercepat proses klaim dari submit sampai cair.

Pre-Verification Sebelum Submit

Jangan langsung submit klaim setelah grouping. Lakukan pre-verification dengan checklist berikut:

RS yang menerapkan pre-verification secara konsisten umumnya memiliki pending rate di bawah 5%, dibandingkan rata-rata nasional yang bisa mencapai 15-20%.

Dual-Review Koding

Terapkan sistem dual-review di mana setiap klaim diperiksa oleh minimal dua orang sebelum submit:

  1. Coder pertama: melakukan koding berdasarkan resume medis dan rekam medis
  2. Reviewer (coder senior atau tim casemix): memeriksa kelengkapan koding, spesifisitas kode, dan konsistensi klinis

Dual-review memang membutuhkan waktu tambahan 5-10 menit per klaim, tapi secara signifikan mengurangi penolakan dan meningkatkan akurasi tarif. Investasi waktu ini akan terbayar dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk re-submit klaim yang ditolak.

Checklist Kelengkapan Dokumen per Tipe Klaim

Buat checklist standar yang berbeda untuk setiap tipe klaim:

Rawat Inap: Rawat Jalan: Rawat Jalan Spesialistik Kronik:

Monitoring Batch Klaim

Jangan hanya submit dan lupakan. Monitor status klaim secara aktif:

Gunakan data file TXT untuk analisis yang lebih mendalam. Tools seperti BPJScan dapat membantu menganalisis data klaim secara batch dan mengidentifikasi pattern yang tidak terlihat dari review manual.


Integrasi eClaim dengan SIMRS dan SatuSehat

Manfaat Bridging SIMRS-eClaim

Integrasi (bridging) antara SIMRS dan eClaim memberikan beberapa keuntungan signifikan:

Namun, bridging bukan tanpa tantangan. Pastikan mapping field antara SIMRS dan eClaim sudah benar, dan lakukan testing menyeluruh sebelum go-live.

RME Terintegrasi: Auto-Populate Data ke eClaim

Rekam Medis Elektronik (RME) yang terintegrasi dengan eClaim memungkinkan:

Dengan RME yang baik, coder tidak perlu "menerjemahkan" tulisan tangan dokter atau mencari-cari informasi di berbagai lembar rekam medis. Semua data sudah terstruktur dan siap dikode.

Kesiapan SatuSehat dan FHIR

Transformasi digital kesehatan Indonesia menuju SatuSehat membawa implikasi besar bagi proses eClaim:

RS yang belum mulai integrasi SatuSehat sebaiknya segera menjadwalkan ini sebagai prioritas, karena kebijakan terkait akan semakin ketat ke depannya.


Tools Pendukung eClaim

Proses eClaim tidak harus dilakukan secara manual sepenuhnya. Beberapa tools dapat membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi:

BPJScan: Analisis File TXT Klaim

BPJScan adalah tools analisis klaim BPJS yang dikembangkan oleh MedMinutes, digunakan oleh 50+ rumah sakit di Indonesia. Apa yang dilakukan BPJScan: Setup hanya 24 jam dari data dikirim sampai dashboard analisis siap digunakan. Tidak perlu integrasi SIMRS yang rumit karena BPJScan bekerja dari file TXT yang sudah dihasilkan eClaim. Hubungi tim kami untuk demo: wa.me/6282166504618

RME Terintegrasi: Mengurangi Error dari Hulu

Rekam Medis Elektronik yang terintegrasi dengan baik mengurangi error pada tahap paling awal:

CDSS: Saran Koding ICD-10 dari Hulu

Clinical Decision Support System (CDSS) MedMinutes memiliki 4 modul yang mendukung proses klaim:

  1. SOAP Extraction: mengekstrak informasi terstruktur dari catatan klinis
  2. ICD-10 AI: memberikan saran kode ICD-10 berdasarkan data klinis pasien, membantu coder memilih kode yang paling spesifik
  3. Drug Interaction: mendeteksi interaksi obat yang perlu didokumentasikan sebagai komorbiditas
  4. AI Resume Medis: membantu generate resume medis yang konsisten dan lengkap

Dengan CDSS di hulu, kualitas data yang masuk ke eClaim sudah lebih baik sejak awal, mengurangi kebutuhan koreksi di tahap koding dan review.


Checklist Harian Tim Casemix untuk eClaim

Untuk memastikan proses eClaim berjalan optimal setiap hari, berikut checklist yang bisa diadopsi oleh tim casemix:

Pagi (08.00-09.00): Siang (12.00-13.00): Sore (15.00-16.00): Mingguan: Bulanan:

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang eClaim BPJS

Berapa lama proses eClaim dari submit sampai cair?

Dari pengalaman di 50+ rumah sakit, rata-rata proses dari submit hingga dana cair memakan waktu 30-45 hari kerja. Rinciannya: submit ke verifikasi (1-3 hari), verifikasi ke approval (3-14 hari), dan approval ke pembayaran (14-30 hari). RS dengan pending rate rendah dan dokumen lengkap cenderung mendapat pembayaran lebih cepat karena tidak ada proses bolak-balik klarifikasi.

Apa bedanya eClaim dan VClaim?

eClaim adalah software grouper INA-CBG untuk submit dan menghitung tarif klaim FKRTL. VClaim adalah sistem untuk membuat Surat Eligibilitas Peserta (SEP) dan verifikasi kepesertaan. Keduanya saling terkait: SEP dari VClaim menjadi dasar klaim di eClaim. Pengguna eClaim adalah tim casemix/billing, sedangkan VClaim digunakan oleh petugas pendaftaran RS.

Bagaimana cara mengatasi klaim yang ditolak?

Langkah pertama adalah membaca alasan penolakan dengan cermat dari catatan verifikator. Kemudian: (1) perbaiki data yang diminta, (2) lengkapi dokumen yang kurang, (3) minta klarifikasi ke DPJP jika masalah di sisi klinis, dan (4) re-submit dengan catatan perbaikan. Untuk mencegah penolakan berulang, analisis pola penolakan secara berkala dan perbaiki dari akar masalahnya. Lihat 10 penyebab penolakan di atas untuk panduan spesifik.

Apakah bisa submit eClaim tanpa SIMRS?

Secara teknis, bisa. eClaim adalah aplikasi standalone yang bisa digunakan tanpa SIMRS. Anda cukup input data secara manual ke aplikasi eClaim. Namun, ini sangat tidak efisien untuk RS dengan volume pasien BPJS yang tinggi. Tanpa SIMRS, risiko double-entry dan inkonsistensi data sangat tinggi. Minimal gunakan bridging sederhana untuk mengurangi manual input.

Berapa batas waktu submission klaim eClaim?

Secara umum, klaim harus disubmit paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah pelayanan. Namun, kebijakan spesifik bisa berbeda antar kantor cabang BPJS dan bisa berubah sesuai regulasi terbaru. Selalu konfirmasi deadline aktual dengan kantor cabang BPJS setempat. Tips: submit jauh sebelum deadline untuk menghindari masalah teknis di hari-hari terakhir ketika server BPJS biasanya overload.

Bagaimana BPJScan membantu optimasi eClaim?

BPJScan menganalisis file TXT output dari eClaim menggunakan 78 filter untuk mendeteksi potensi under-coding, anomali data, dan peluang optimasi tarif. Misalnya, BPJScan bisa mendeteksi pasien dengan LOS panjang tapi severity rendah, yang kemungkinan ada komorbiditas yang belum dikode. Hasilnya berupa rekomendasi spesifik per kasus yang bisa langsung ditindaklanjuti oleh tim casemix. Setup hanya 24 jam, tanpa perlu integrasi SIMRS.

Ingin tahu bagaimana BPJScan dapat membantu rumah sakit Anda? Hubungi tim kami untuk demo gratis.


_Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman operasional MedMinutes bersama 50+ rumah sakit di 8+ provinsi Indonesia. Untuk panduan lebih lanjut tentang optimasi klaim BPJS, baca juga: Panduan INA-CBG Grouper untuk RS dan Optimasi Koding ICD-10 untuk BPJS._

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru