Transisi INA-CBG ke iDRG: Apa yang Harus Disiapkan Tim Casemix RS?

Vera, Healthcare Content Strategist · · 8 menit baca
Transisi INA-CBG ke iDRG: Apa yang Harus Disiapkan Tim Casemix RS?

Oktober 2025 menjadi titik balik sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia. Pemerintah melalui Perpres 59/2024 resmi menggantikan INA-CBG dengan sistem Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) — sistem pengelompokan diagnosis baru yang lebih granular, lebih ketat, dan menuntut akurasi koding yang jauh lebih tinggi.

Bagi tim casemix rumah sakit, ini bukan sekadar perubahan nama. Ini adalah perubahan fundamental dalam cara klaim dihitung, diverifikasi, dan dibayarkan.

Pertanyaannya sederhana: apakah tim casemix Anda sudah siap?

Fakta dari fase pilot memberikan gambaran yang mengkhawatirkan — hanya 4 dari 39 rumah sakit yang berhasil melewati proses onboarding selama uji coba. Artinya, mayoritas RS masih belum memenuhi standar yang dibutuhkan untuk beroperasi dalam ekosistem iDRG.

Artikel ini membahas secara detail apa saja yang berubah, apa dampaknya, dan bagaimana tim casemix bisa mempersiapkan diri.


Mengapa INA-CBG Diganti?

INA-CBG (Indonesia Case Based Groups) telah menjadi tulang punggung sistem pembayaran klaim BPJS sejak 2014. Namun setelah satu dekade implementasi, sejumlah kelemahan struktural menjadi semakin nyata:

  1. 1. Pengelompokan terlalu lebar — Banyak kasus dengan kompleksitas berbeda masuk ke satu kelompok tarif yang sama, sehingga RS yang menangani kasus berat justru merugi.
  2. 2. Severity level kurang granular — Hanya 3 tingkat severity (I, II, III) yang sering kali tidak cukup menggambarkan beban klinis.
  3. 3. Standar koding longgar — Tidak ada standar koding nasional yang ketat, sehingga variasi antar RS sangat tinggi.
  4. 4. Potensi upcoding dan undercoding — Tanpa kontrol yang memadai, koding cenderung bias ke arah tarif tertinggi (upcoding) atau justru terlalu rendah (undercoding).

Pemerintah melihat iDRG sebagai solusi untuk masalah-masalah ini, dengan pendekatan yang lebih mirip sistem DRG internasional seperti yang digunakan di Australia (AR-DRG), Jerman (G-DRG), dan Amerika Serikat (MS-DRG).


Perbedaan Mendasar INA-CBG vs iDRG

Untuk memahami besarnya perubahan, berikut perbandingan kedua sistem:

Aspek INA-CBG iDRG
Pengelompokan utama CMG (Case Mix Group) MDC (Major Diagnostic Category)
Jumlah kategori utama ~1.000+ CMG 27 MDC
Severity level 3 level (I, II, III) 5 level (0, 1, 2, 3, 4)
Struktur kode 4 karakter alfanumerik 7 digit
Standar koding ICD-10 (interpretasi lokal) ICS (Indonesian Coding Standard)
Basis pengelompokan Diagnosis utama + prosedur Diagnosis utama + komorbiditas + komplikasi + prosedur
Landasan hukum PMK 76/2016 Perpres 59/2024

Struktur Kode 7-Digit iDRG

Salah satu perubahan paling teknis adalah struktur kode baru. Kode iDRG terdiri dari 7 digit dengan format:

`

XX - XXX - XX

│ │ │

│ │ └─ Severity Level (00-04)

│ └─────── DRG Group Number

└──────────── MDC Category (01-27)

`

Contoh: Kode 04-012-03 berarti:

Perubahan dari 3 ke 5 severity level ini sangat signifikan. Artinya, koding diagnosis sekunder (komorbiditas dan komplikasi) menjadi jauh lebih krusial dalam menentukan tarif.


27 MDC: Kategori Baru yang Harus Dikuasai

Sistem iDRG menggunakan 27 Major Diagnostic Category (MDC) yang menggantikan struktur CMG lama. Setiap MDC merepresentasikan satu sistem organ atau kelompok penyakit utama:

No MDC Deskripsi
01 Sistem Saraf Penyakit dan gangguan sistem saraf
02 Mata Penyakit dan gangguan mata
03 THT Telinga, hidung, tenggorokan, mulut
04 Respirasi Sistem pernapasan
05 Sirkulasi Sistem kardiovaskular
06 Digestif Sistem pencernaan
07 Hepatobilier & Pankreas Hati, empedu, pankreas
08 Muskuloskeletal Tulang, otot, jaringan ikat
09 Kulit & Subkutan Kulit dan jaringan bawah kulit
10 Endokrin & Metabolik Hormon dan metabolisme
11 Ginjal & Saluran Kemih Sistem urinari
12 Reproduksi Pria Sistem reproduksi laki-laki
13 Reproduksi Wanita Sistem reproduksi perempuan
14 Kehamilan & Persalinan Obstetri
15 Neonatus Bayi baru lahir
16 Darah & Imunologi Hematologi dan imunologi
17 Neoplasma Onkologi
18 Infeksi & Parasit Penyakit infeksi
19 Psikiatri Kesehatan jiwa
20 Alkohol & Napza Gangguan terkait zat
21-27 Lainnya Trauma, luka bakar, transplantasi, dll.

Tim casemix harus memahami logika pengelompokan ini karena penetapan MDC yang salah akan langsung menyebabkan penolakan klaim, bukan sekadar perbedaan tarif.


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda — langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

ICS: Standar Koding Baru yang Lebih Ketat

Perubahan paling berdampak pada workflow sehari-hari adalah penerapan Indonesian Coding Standard (ICS). ICS bukan sekadar ICD-10, melainkan standar nasional yang mengatur:

  1. 1. Aturan pemilihan diagnosis utama — Tidak lagi berdasarkan interpretasi masing-masing RS, tetapi mengikuti aturan baku nasional.
  2. 2. Aturan sequencing — Urutan diagnosis harus mengikuti hierarki yang ditetapkan.
  3. 3. Aturan koding komorbiditas dan komplikasi — Setiap komorbiditas dan komplikasi harus dikode secara spesifik karena langsung memengaruhi severity level (dan tarif).
  4. 4. Aturan koding prosedur — Prosedur harus dikode dengan ICD-9-CM sesuai standar, bukan deskripsi bebas.
  5. 5. Validasi silang — Diagnosis dan prosedur harus logis secara klinis (misalnya, prosedur appendektomi harus sesuai dengan diagnosis appendisitis).

Dampak ICS pada Koder

Bagi clinical coder, ICS berarti:


Hanya 4 dari 39 RS Lolos Pilot: Apa Pelajarannya?

Data dari fase pilot iDRG menunjukkan fakta yang perlu menjadi alarm bagi semua RS: hanya 4 dari 39 rumah sakit yang berhasil melewati proses onboarding. Artinya, sekitar 90% RS gagal memenuhi persyaratan minimum.

Berdasarkan evaluasi, penyebab utama kegagalan meliputi:

  1. 1. Kompetensi koder belum memadai — Mayoritas koder belum terlatih ICS.
  2. 2. Dokumentasi medis tidak lengkap — DPJP tidak terbiasa mendokumentasikan komorbiditas dan komplikasi secara rinci.
  3. 3. Sistem informasi RS belum siap — SIM RS lama tidak mendukung struktur kode 7-digit.
  4. 4. Kurangnya koordinasi internal — Tim casemix bekerja terpisah dari tim medis dan manajemen.
  5. 5. Tidak ada proses audit internal — Klaim dikirim tanpa verifikasi pre-submission.

Dampak pada Workflow: Siapa Saja yang Terdampak?

Transisi ke iDRG bukan hanya urusan tim casemix. Dampaknya meluas ke seluruh lini operasional RS:

1. Clinical Coder

2. DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien)

3. Tim Billing dan Keuangan

4. Manajemen RS


Checklist Persiapan Tim Casemix

Berdasarkan pengalaman pendampingan 50+ rumah sakit, berikut langkah-langkah persiapan yang kami rekomendasikan:

Fase 1: Assessment (Bulan 1-2)

Fase 2: Capacity Building (Bulan 3-4)

Fase 3: Implementasi (Bulan 5-6)

Fase 4: Optimasi (Berkelanjutan)


Peran Teknologi dalam Transisi

Transisi ke iDRG tidak bisa dilakukan secara manual. Volume klaim yang besar (ratusan hingga ribuan per bulan) dan kompleksitas koding yang meningkat membutuhkan bantuan teknologi.

Automated pre-submission audit menjadi kebutuhan kritis — sebuah sistem yang dapat:

Rumah sakit yang sudah mengadopsi tools audit otomatis melaporkan penurunan rejection rate hingga 60% dan peningkatan reimbursement 10-20%.


Kesimpulan: Waktu Persiapan Sudah Menipis

Transisi dari INA-CBG ke iDRG bukan pertanyaan "apakah akan terjadi" — ini sudah terjadi. Perpres 59/2024 sudah ditandatangani, pilot sudah berjalan, dan go-live nasional sudah dimulai Oktober 2025.

Rumah sakit yang tidak mempersiapkan diri menghadapi risiko nyata:

Kabar baiknya: masih ada waktu untuk bersiap. Dan langkah pertama adalah memahami kondisi saat ini — seberapa siap tim casemix, seberapa lengkap dokumentasi medis, dan seberapa akurat koding yang dilakukan.

BPJScan membantu 50+ rumah sakit melakukan audit klaim otomatis sebelum submission ke BPJS — mendeteksi error koding, inkonsistensi diagnosis, dan potensi penolakan dalam hitungan menit.

Jadwalkan Demo BPJScan


Artikel ini ditulis oleh Vera, Healthcare Content Strategist MedMinutes, berdasarkan data riset terpublikasi dan pengalaman pendampingan 50+ rumah sakit di Indonesia.


Referensi

  1. 1. Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2024 tentang Perubahan Sistem Pembayaran Pelayanan Kesehatan.
  2. 2. Kementerian Kesehatan RI. (2024). Pedoman Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG).
  3. 3. Kementerian Kesehatan RI. (2024). Indonesian Coding Standard (ICS) — Panduan Teknis.
  4. 4. BPJS Kesehatan. (2025). Laporan Evaluasi Pilot iDRG di 39 Rumah Sakit.
  5. 5. World Health Organization. (2023). DRG Systems Across the World: A Comparative Review.
  6. 6. PERSI. (2024). Kesiapan Rumah Sakit dalam Menghadapi Transisi ke iDRG — Hasil Survei Nasional.
  7. 7. Mathauer, I., & Wittenbecher, F. (2013). Hospital payment systems based on diagnosis-related groups: experiences in low- and middle-income countries. Bulletin of the World Health Organization, 91(10), 746-756A.
Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru