Panduan Menyusun Planning dalam SOAP:10 Langkah Membuat Planning yang Efektif

Thesar MedMinutes, Content & Marketing MedMinutes · · 15 menit baca
Panduan Menyusun Planning dalam SOAP:10 Langkah Membuat Planning yang Efektif
SOAP

Pendahuluan

Dalam dunia medis, SOAP adalah metode yang sangat penting untuk membantu tenaga medis dalam menyusun rekam medis yang terstruktur. SOAP adalah singkatan dari Subjective, Objective, Assessment, dan Planning. Di antara elemen tersebut, bagian "Planning" memiliki peran penting karena menentukan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya dalam perawatan pasien. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana menyusun planning yang efektif dalam SOAP, khususnya bagi manajemen rumah sakit yang berperan dalam memastikan perawatan pasien berjalan optimal.

Pengertian SOAP

SOAP adalah kerangka kerja yang digunakan dalam pencatatan medis untuk memastikan bahwa semua informasi terkait perawatan pasien terdokumentasi dengan baik.

Struktur SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning)

SOAP terdiri dari empat bagian utama:

  1. Subjective: Data yang diperoleh dari keluhan atau perasaan pasien.
  2. Objective: Data klinis yang diukur, seperti tekanan darah, hasil laboratorium, dll.
  3. Assessment: Diagnosa berdasarkan data subjektif dan objektif.
  4. Planning: Tindakan medis yang akan dilakukan berdasarkan diagnosa.

Fokus pada Elemen "Planning"

Bagian "Planning" dalam SOAP adalah kunci dari semua langkah sebelumnya. Planning melibatkan penyusunan rencana pengobatan, tindakan medis, serta langkah-langkah perawatan lebih lanjut.

Mengapa Planning dalam SOAP Penting?

SOAP

1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Data

Salah satu aspek terpenting dari Planning dalam SOAP adalah bahwa perencanaan tindakan medis harus didasarkan pada data yang konkret dan terukur. Dalam proses SOAP, elemen "Subjective" dan "Objective" menyediakan informasi dasar mengenai kondisi pasien, yang diikuti oleh penilaian (Assessment) yang mengarahkan pada diagnosis yang akurat. Dengan demikian, bagian Planning memberikan kejelasan mengenai tindakan yang perlu diambil untuk menangani kondisi pasien secara efektif. Tanpa perencanaan yang didasarkan pada data yang valid dan dianalisis dengan baik, perawatan pasien bisa menjadi tidak tepat sasaran atau bahkan kontraproduktif.

Contoh: Seorang pasien dengan tekanan darah tinggi memerlukan pengukuran yang akurat dari elemen "Objective," seperti tekanan darah dan hasil tes laboratorium. Planning yang efektif berdasarkan data ini mungkin mencakup pemberian obat antihipertensi, perubahan pola makan, dan pemantauan berkala untuk mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut.

2. Panduan Tindakan Medis yang Jelas

Planning dalam SOAP tidak hanya memandu dokter atau tenaga medis dalam menentukan langkah-langkah yang harus diambil, tetapi juga memastikan bahwa setiap tindakan medis yang dilakukan jelas dan sesuai dengan kondisi pasien. Kejelasan dalam rencana perawatan ini sangat penting untuk memastikan bahwa semua anggota tim medis berada pada halaman yang sama dan bekerja menuju tujuan yang sama.

Rencana perawatan yang rinci, misalnya, dapat mencakup jenis pengobatan, dosis obat, tindakan pembedahan yang mungkin diperlukan, atau prosedur diagnostik tambahan. Dengan adanya panduan yang jelas ini, risiko kesalahan medis dapat dikurangi, karena setiap tenaga medis memiliki instruksi yang spesifik mengenai apa yang harus dilakukan dan kapan tindakan perlu diambil.

3. Meningkatkan Kolaborasi Antar Tim Medis

Dalam sistem perawatan kesehatan modern, pasien sering ditangani oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter, perawat, farmasis, ahli gizi, dan spesialis lainnya. Bagian Planning dalam SOAP sangat penting untuk mendukung kolaborasi yang efektif di antara anggota tim medis tersebut. Dengan adanya perencanaan yang terstruktur, setiap anggota tim dapat memahami peran masing-masing dan berkontribusi secara efektif terhadap perawatan pasien.

Misalnya, jika seorang pasien memerlukan terapi fisik setelah operasi, rencana dalam SOAP akan mencakup jadwal terapi dan koordinasi dengan terapis fisik. Ini memastikan bahwa tidak ada tindakan medis yang terlewat, dan setiap langkah perawatan dilakukan sesuai dengan prioritas dan urgensi pasien.

4. Membantu Evaluasi dan Penyesuaian Perawatan

Tidak semua rencana pengobatan akan berjalan sesuai dengan harapan awal. Oleh karena itu, Planning dalam SOAP memungkinkan tim medis untuk melakukan evaluasi berkala dan menyesuaikan rencana pengobatan jika diperlukan. Fleksibilitas ini sangat penting dalam menghadapi kondisi pasien yang mungkin berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, jika seorang pasien yang menjalani perawatan antibiotik tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu tertentu, Planning harus segera dievaluasi dan mungkin diubah, seperti dengan mengganti obat atau menambahkan prosedur diagnostik lain.

Kemampuan untuk menilai efektivitas perawatan secara terus-menerus dan melakukan penyesuaian ini membantu meningkatkan hasil perawatan dan memastikan bahwa pasien menerima pengobatan yang optimal sesuai perkembangan kondisi mereka.

5. Memberikan Struktur dan Konsistensi dalam Perawatan Pasien

Planning dalam SOAP memberikan struktur yang penting dalam pengelolaan perawatan pasien. Dalam lingkungan medis yang sering kali sibuk dan penuh tekanan, memiliki rencana yang terstruktur memungkinkan tenaga medis mengikuti prosedur standar yang dapat diulang dan diterapkan pada berbagai pasien dengan kondisi yang serupa. Hal ini juga membantu mengurangi variasi dalam cara perawatan diberikan, memastikan konsistensi dalam kualitas perawatan yang diterima oleh pasien.

Contoh: Dalam kasus pasien dengan diabetes, struktur dalam Planning memungkinkan setiap pasien dengan kondisi serupa menerima pengelolaan gula darah yang konsisten melalui pemberian insulin, edukasi tentang diet, dan pemantauan kadar gula darah.

6. Mengurangi Kesalahan dan Meningkatkan Keselamatan Pasien

Rencana yang jelas dan terperinci dalam SOAP juga berfungsi sebagai pencegahan terhadap kesalahan medis. Dengan adanya panduan yang spesifik mengenai obat yang harus diberikan, dosis yang diperlukan, dan waktu pemberiannya, risiko terjadinya kesalahan obat dapat diminimalisir. Selain itu, dengan adanya evaluasi rutin yang terstruktur, setiap perubahan kondisi pasien dapat segera diidentifikasi dan ditangani sebelum menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

Dalam jangka panjang, perencanaan yang efektif membantu meningkatkan keselamatan pasien dan mengurangi kejadian adverse events (kejadian yang merugikan pasien akibat perawatan yang salah).

Pentingnya Planning dalam SOAP tidak bisa dilebih-lebihkan. Dari pengambilan keputusan berbasis data hingga meningkatkan kolaborasi tim medis, perencanaan yang efektif berperan dalam memastikan bahwa setiap pasien menerima perawatan yang optimal. Dengan menghindari kesalahan, memberikan panduan tindakan yang jelas, dan memungkinkan penyesuaian rencana berdasarkan kondisi yang berkembang, Planning dalam SOAP merupakan bagian esensial dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kesehatan.

Baca juga: Penerapan Metode SOAP dalam Assessment Klinis: 8 Langkah dan Faktor Penting yang Harus Diperhatikan

Langkah-Langkah Merancang Planning dalam SOAP

Akreditasi Klinik Pratama

Merancang Planning dalam format SOAP merupakan tahap kritis dalam proses dokumentasi medis. Bagian ini berfungsi sebagai panduan untuk menentukan langkah-langkah medis yang akan diambil dalam merawat pasien berdasarkan informasi yang diperoleh dari elemen Subjective, Objective, dan Assessment. Agar rencana yang disusun efektif, terarah, dan berdampak positif bagi kesembuhan pasien, beberapa langkah kunci perlu diikuti.

1. Mengumpulkan dan Menganalisis Data Subjektif dan Objektif

Langkah pertama dalam merancang Planning yang efektif adalah mengumpulkan semua data subjektif dan objektif yang relevan. Data subjektif mencakup keluhan pasien, riwayat kesehatan, serta gejala yang dirasakan, sementara data objektif meliputi hasil pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan hasil radiologi.

Dengan memiliki informasi lengkap dari kedua sumber ini, tim medis dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kondisi pasien. Misalnya, jika seorang pasien mengeluhkan nyeri dada (data subjektif), dan hasil EKG menunjukkan tanda-tanda iskemia (data objektif), maka planning yang disusun harus memprioritaskan penanganan kondisi tersebut dengan segera.

2. Mengidentifikasi Masalah Utama

Setelah data dikumpulkan dan dianalisis, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi masalah utama yang memerlukan intervensi medis. Ini merupakan bagian dari Assessment dalam SOAP, di mana diagnosis atau kesimpulan klinis dibuat berdasarkan informasi yang ada.

Pada tahap ini, penting untuk memfokuskan rencana pada masalah-masalah yang paling mendesak atau kritis. Misalnya, jika seorang pasien menderita infeksi bakteri, fokus utama planning adalah pemberian antibiotik yang sesuai, bukan hanya mengelola gejala sekunder seperti demam.

3. Menyusun Rencana Tindakan Terstruktur

Setelah masalah utama diidentifikasi, saatnya merancang rencana tindakan yang terstruktur. Rencana ini harus mencakup beberapa aspek, seperti:

Rencana tindakan harus dirinci dan spesifik, mencakup jenis obat, dosis, frekuensi, dan durasi, serta tindakan lain yang diperlukan.

4. Melibatkan Pasien dalam Proses Pengambilan Keputusan

Salah satu aspek penting dari perencanaan yang efektif adalah melibatkan pasien dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Komunikasi yang baik antara tim medis dan pasien membantu memastikan bahwa pasien memahami rencana perawatan yang akan dilakukan, serta memberikan kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan kekhawatiran atau preferensinya.

Dengan melibatkan pasien, perencanaan tidak hanya menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan medis, tetapi juga menghormati hak dan preferensi pasien. Ini dapat meningkatkan kepatuhan terhadap rencana perawatan dan hasil pengobatan yang lebih baik.

5. Mempertimbangkan Aspek Biopsikososial

Dalam menyusun rencana, penting untuk mempertimbangkan aspek biopsikososial pasien, yang mencakup faktor biologis, psikologis, dan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan. Misalnya, rencana pengobatan mungkin perlu disesuaikan jika pasien mengalami stres berat, memiliki keterbatasan finansial, atau dukungan sosial yang kurang.

Pendekatan yang komprehensif ini memastikan bahwa perawatan yang diberikan tidak hanya menyelesaikan masalah medis yang teridentifikasi, tetapi juga memperhatikan faktor-faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan pasien.

6. Memastikan Konsistensi dengan Standar Medis

Langkah penting lainnya adalah memastikan bahwa rencana tindakan konsisten dengan pedoman klinis dan standar medis yang diakui. Pedoman ini bisa berasal dari asosiasi medis, penelitian berbasis bukti, atau standar perawatan yang berlaku secara nasional atau internasional.

Misalnya, dalam merawat pasien dengan diabetes, rencana perawatan harus merujuk pada panduan terbaru mengenai manajemen gula darah, pemberian insulin, atau intervensi diet. Mengikuti pedoman yang telah terbukti dapat membantu meningkatkan hasil perawatan dan mengurangi risiko komplikasi.

7. Menyusun Jadwal Evaluasi dan Monitoring

Rencana yang baik tidak berakhir dengan penetapan tindakan medis saja; perlu ada jadwal evaluasi dan monitoring yang jelas. Monitoring berkelanjutan diperlukan untuk menilai apakah pasien merespons pengobatan dengan baik atau apakah ada efek samping yang harus diwaspadai.

Sebagai contoh, jika seorang pasien mendapatkan pengobatan untuk infeksi bakteri, jadwal monitoring mungkin mencakup evaluasi klinis setelah beberapa hari terapi antibiotik, serta tes laboratorium untuk memantau perubahan kondisi pasien.

8. Fleksibilitas dalam Perubahan Rencana

Dalam beberapa kasus, kondisi pasien bisa berubah seiring waktu. Oleh karena itu, rencana tindakan harus memiliki tingkat fleksibilitas yang memungkinkan penyesuaian jika diperlukan. Fleksibilitas ini mencakup peninjauan ulang secara berkala terhadap perawatan yang sedang berlangsung dan modifikasi jika hasilnya tidak sesuai harapan.

Sebagai contoh, jika seorang pasien tidak merespons terapi yang diberikan, rencana mungkin harus disesuaikan, seperti dengan mengganti jenis obat, menambah terapi tambahan, atau merujuk pasien ke spesialis.

9. Mengomunikasikan Rencana kepada Tim Medis

Setelah rencana disusun, penting untuk mengomunikasikannya secara jelas kepada semua anggota tim medis yang terlibat dalam perawatan pasien. Dengan begitu, setiap orang yang terlibat memiliki pemahaman yang sama mengenai tindakan yang harus diambil dan tujuannya. Komunikasi yang efektif dapat mencegah kesalahan dan meningkatkan kualitas perawatan.

Dalam rumah sakit, rencana tindakan ini biasanya dimasukkan dalam rekam medis dan diakses oleh dokter, perawat, dan spesialis lainnya, memastikan semua anggota tim dapat melaksanakan tugas mereka sesuai dengan rencana.

10. Dokumentasi yang Tepat

Langkah terakhir, namun tidak kalah penting, adalah mendokumentasikan setiap langkah rencana dalam rekam medis pasien. Dokumentasi yang akurat dan jelas sangat penting untuk memantau perkembangan pasien, melakukan evaluasi, serta menjadi acuan jika terjadi perubahan rencana di kemudian hari. Rekam medis yang terperinci juga penting untuk kepentingan hukum dan administrasi rumah sakit.

Baca juga: SOAP: 12 Teknik Mengisi Bagian Objektif dalam Panduan untuk Manajemen Rumah Sakit

Komponen Utama dalam Planning yang Efektif

Rekam medis Elektronik

Sebuah Planning dalam format SOAP yang efektif harus mengandung beberapa komponen kunci yang memastikan tindakan medis yang disusun relevan, terstruktur, dan dapat diimplementasikan dengan baik. Berikut adalah komponen utama yang harus ada dalam perencanaan tindakan medis yang komprehensif:

1. Rencana Diagnostik

Bagian ini mencakup tindakan diagnostik lebih lanjut yang diperlukan untuk memperkuat atau memastikan diagnosis. Meskipun diagnosis awal mungkin telah dibuat pada tahap Assessment, ada kalanya diperlukan tes tambahan untuk konfirmasi. Rencana diagnostik ini meliputi:

Dengan memastikan bahwa tes-tes ini tercantum secara jelas dalam Planning, tim medis dapat memantau hasil diagnostik yang diperlukan untuk pengambilan keputusan lebih lanjut.

2. Rencana Terapi

Rencana terapi adalah inti dari Planning dalam SOAP. Bagian ini mencakup detail mengenai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menangani masalah kesehatan pasien. Tindakan terapi ini meliputi beberapa jenis:

Setiap rencana terapi harus disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien dan ditulis dengan jelas agar semua anggota tim medis dapat mengikuti instruksi dengan tepat.

3. Pemantauan dan Evaluasi

Setelah tindakan medis dilakukan, perlu ada rencana untuk memantau perkembangan pasien. Pemantauan ini penting untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan memastikan bahwa pasien merespons dengan baik terhadap pengobatan. Komponen pemantauan meliputi:

Evaluasi yang baik memungkinkan dokter untuk menilai apakah rencana yang disusun perlu diubah, dilanjutkan, atau dihentikan.

4. Edukasi dan Konseling untuk Pasien

Bagian penting lain dari Planning adalah memberikan edukasi dan konseling kepada pasien mengenai kondisinya dan rencana perawatannya. Ini meliputi:

Dengan melibatkan pasien dalam proses ini, tim medis dapat memastikan bahwa pasien memahami rencana perawatan mereka dan merasa diberdayakan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan medis.

5. Rujukan ke Spesialis

Dalam beberapa kasus, kondisi pasien mungkin memerlukan perawatan atau evaluasi lebih lanjut oleh spesialis tertentu. Bagian ini mencakup rencana untuk merujuk pasien ke ahli yang lebih kompeten dalam menangani masalah medis yang kompleks, seperti ahli jantung, neurologi, atau ortopedi.

Rujukan ini tidak hanya membantu dalam memberikan perawatan yang lebih spesifik, tetapi juga memastikan bahwa pasien mendapatkan layanan medis yang terbaik sesuai dengan kebutuhannya.

Tips Menyusun Rencana Pengobatan dalam SOAP

Setelah memahami komponen-komponen utama dalam perencanaan tindakan medis, ada beberapa tips yang bisa diikuti untuk menyusun rencana pengobatan yang lebih efektif dan berdampak langsung pada kesembuhan pasien:

1. Buatlah Rencana yang Spesifik dan Terukur

Setiap tindakan yang direncanakan harus spesifik dan terukur. Hindari rencana yang terlalu umum seperti “meningkatkan kesehatan pasien” tanpa menjelaskan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya, gunakan pernyataan yang terukur, seperti “menurunkan tekanan darah pasien menjadi 120/80 mmHg dalam 2 minggu.”

2. Utamakan Kebutuhan Pasien

Perencanaan harus fokus pada kebutuhan utama pasien, bukan sekadar mengikuti protokol standar. Perhatikan kondisi fisik, psikologis, serta sosial pasien yang bisa memengaruhi keberhasilan terapi.

3. Tetapkan Prioritas

Tidak semua tindakan medis bisa dilakukan sekaligus. Tetapkan prioritas berdasarkan urgensi dan dampak terhadap kondisi pasien. Fokuskan rencana pada tindakan yang paling penting dan berisiko tinggi terlebih dahulu.

4. Selalu Sertakan Monitoring

Setiap rencana tindakan harus mencakup metode monitoring yang jelas untuk menilai apakah pasien merespons pengobatan dengan baik. Monitoring ini penting untuk penyesuaian lebih lanjut jika terapi tidak memberikan hasil yang diharapkan.

5. Gunakan Pendekatan Kolaboratif

Dalam menyusun rencana, libatkan semua anggota tim medis yang relevan, seperti dokter, perawat, farmakolog, dan terapis. Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa setiap aspek perawatan pasien dipertimbangkan secara holistik.

Contoh Planning dalam Penulisan Rekam Medis

Kasus Pasien dengan Penyakit Kronis

Pada pasien dengan diabetes, planning dapat mencakup pengaturan diet, pemberian obat insulin, dan evaluasi kadar gula darah secara berkala.

Kasus Pasien dengan Penyakit Akut

Pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan akut, rencana pengobatan bisa mencakup pemberian antibiotik, pengawasan ketat, dan evaluasi ulang setelah beberapa hari.

Kesalahan Umum dalam Menyusun Planning SOAP

Rencana yang Terlalu Umum

Rencana pengobatan yang terlalu umum tidak memberikan arahan yang jelas dan bisa menyebabkan kebingungan dalam implementasi.

Tidak Memperhitungkan Kondisi Khusus Pasien

Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, sehingga planning harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik mereka.

Manfaat Menyusun Planning SOAP yang Efektif

Sebuah Planning yang baik dalam SOAP tidak hanya memengaruhi proses perawatan pasien, tetapi juga membawa manfaat signifikan bagi tim medis dan fasilitas kesehatan secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari menyusun rencana tindakan medis yang efektif:

1. Meningkatkan Kualitas Perawatan Pasien

Dengan merancang Planning yang terstruktur dan didasarkan pada data medis yang komprehensif, kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien akan meningkat. Rencana yang baik membantu tim medis untuk fokus pada langkah-langkah yang benar-benar dibutuhkan pasien, sehingga perawatan lebih tepat sasaran dan hasilnya lebih optimal.

2. Mengurangi Risiko Kesalahan Medis

Kesalahan medis sering kali terjadi karena kurangnya komunikasi atau perencanaan yang tidak jelas. Dengan dokumentasi yang rinci dan sistematis dalam SOAP, semua anggota tim medis memiliki pedoman yang jelas mengenai langkah-langkah yang harus diambil, mengurangi risiko kesalahan atau kekeliruan dalam tindakan medis.

3. Memfasilitasi Koordinasi Tim Medis

Perencanaan yang terstruktur memudahkan koordinasi antar anggota tim medis. Dokter, perawat, farmakolog, dan spesialis lainnya dapat merujuk pada Planning yang sudah didokumentasikan dengan baik untuk memahami tugas masing-masing dan memastikan bahwa setiap tindakan saling mendukung.

4. Meningkatkan Kepatuhan Pasien

Rencana yang jelas dan disertai dengan edukasi serta konseling membantu pasien memahami pentingnya mengikuti arahan medis. Ketika pasien mengetahui dengan pasti mengapa suatu tindakan atau pengobatan diperlukan, mereka cenderung lebih patuh dalam mengikuti instruksi dan terapi yang diberikan.

5. Mendukung Dokumentasi Medis yang Baik

Dokumentasi yang terperinci dalam Planning membantu rumah sakit atau klinik dalam hal administrasi dan legalitas. Ketika setiap langkah tindakan medis didokumentasikan dengan baik, fasilitas kesehatan dapat memantau perawatan pasien dengan lebih baik, mempertahankan standar akreditasi, dan melindungi diri dari potensi masalah hukum yang mungkin timbul.

6. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Dengan adanya rencana tindakan yang jelas, tim medis dapat bekerja lebih efisien. Setiap tindakan sudah direncanakan sebelumnya, sehingga waktu yang dihabiskan untuk pengambilan keputusan di tengah proses perawatan bisa dikurangi. Ini tidak hanya mempercepat perawatan pasien tetapi juga mengurangi beban kerja staf medis.

7. Mengoptimalkan Penggunaan Sumber Daya Kesehatan

Dengan perencanaan yang tepat, penggunaan sumber daya seperti obat-obatan, alat medis, dan tenaga medis dapat dioptimalkan. Ini penting terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Penggunaan yang bijak dan efisien memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang terbaik tanpa membebani sistem kesehatan secara berlebihan.

Kesimpulan

Penyusunan planning dalam SOAP adalah langkah krusial yang memastikan bahwa perawatan pasien berjalan sesuai rencana. Dengan mengikuti panduan yang telah dijelaskan, manajemen rumah sakit dapat meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional.

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 50+ rumah sakit di 8+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. HoesinRSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah TegalRSUD Kardinah Tegal
RS William BoothRS William Booth
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSUP Dr. Moh. Hoesin
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RSUD Kardinah Tegal
RS William Booth
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru