πŸ“š Bagian dari panduan: Panduan INA-CBG & iDRG

Complexity Level iDRG vs Severity Level INA-CBG: Jangan Tertukar Saat Transisi

Vera MedMinutes, Content & Marketing MedMinutes · · 3 menit baca
Complexity Level iDRG vs Severity Level INA-CBG: Jangan Tertukar Saat Transisi

Sebagian besar tim koder dan casemix RS sudah terbiasa dengan severity level INA-CBG β€” tiga tingkat I, II, III. Saat berpindah ke iDRG, istilah itu sering ikut terbawa. Padahal iDRG memakai penamaan dan skala yang berbeda: Complexity Level (CL) 0–4.

Kekeliruan yang paling sering terjadi bukan salah hitung, melainkan mencampur istilah dua sistem. Artikel ini memisahkan keduanya secara tegas agar tim tidak salah baca output grouper selama masa transisi.


Ringkas: apa milik sistem mana

INA-CBG iDRG
Nama dimensi keparahan Severity Level Complexity Level (CL)
Skala I, II, III (3 tingkat; 0 untuk rawat jalan) 0, 1, 2, 3, 4 (5 tingkat)
Notasi Angka Romawi Angka Arab
Struktur kode Alfanumerik: CMG – Case Group – Case Type – Severity Numerik 7 digit: MDC – DC – PTD – CL
Standar koding ICD-10 WHO 2010 + ICD-9-CM ICD-10-IM + ICD-9-IM

Aturan praktis: kalau Anda menyebut "severity I/II/III", Anda sedang bicara INA-CBG. Kalau menyebut "CL 0–4", Anda sedang bicara iDRG. Menyebut "severity level iDRG 0/I/II/III" mencampur dua sistem sekaligus.


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda β€” langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

Apa itu Complexity Level (CL) pada iDRG

CL adalah digit terakhir dari kode iDRG 7 digit, dan merupakan satu-satunya dimensi keparahan pada kode tersebut. Nilainya berjenjang lima:

CL Deskripsi resmi Arti klinis
0 No CC Tidak ada komplikasi/komorbiditas yang diperhitungkan
1 Mild CC Komplikasi/komorbiditas ringan
2 Moderate CC Komplikasi/komorbiditas sedang
3 Severe CC Komplikasi/komorbiditas berat
4 Catastrophic CC Komplikasi/komorbiditas katastrofik

Perhatikan bahwa penamaannya sendiri merujuk pada CC β€” komplikasi dan komorbiditas. Inilah sebabnya CL tidak berdiri sendiri terlepas dari dokumentasi diagnosis.


Hubungan CC/MCC dan CL: masukan dan keluaran, bukan dua sumbu

Ini bagian yang paling sering disalahpahami.

CC/MCC pada diagnosis sekunder adalah MASUKAN. Koder dan DPJP mengendalikan bagian ini lewat kelengkapan dokumentasi: komorbiditas yang tercatat, komplikasi yang terdokumentasi selama rawat, dan spesifisitas kode ICD yang dipilih.

Complexity Level adalah KELUARAN. Grouper yang menghitungnya. Tim koder tidak "mengisi" CL secara manual β€” CL muncul sebagai hasil dari apa yang dibaca grouper.

Konsekuensi praktisnya jelas: kalau CL hasil grouper lebih rendah dari perkiraan, yang diperbaiki adalah dokumentasi diagnosis sekunder bersama DPJP β€” bukan mencari cara menaikkan angka CL secara langsung. Sebaliknya, dokumentasi yang lengkap namun tidak terkode dengan tepat akan menghasilkan CL yang tidak mencerminkan kondisi pasien sebenarnya.


Kesalahan interpretasi yang berdampak pada klaim

Menyebut iDRG punya "severity level" terpisah dari CL. Pada berkas klaim iDRG yang berjalan, tidak ada kolom keparahan lain di luar CL. Tim yang mencari dua nilai berbeda akan salah membaca output grouper dan salah menyimpulkan penyebab selisih tarif.

Membandingkan angka lintas sistem secara langsung. "Severity III" INA-CBG bukan padanan otomatis "CL 3" iDRG. Skalanya berbeda jumlah, dasarnya berbeda, dan tarifnya dihitung dengan formula berbeda. Perbandingan tarif lama–baru harus dilakukan per kelompok, bukan per angka keparahan.

Menganggap CL bisa dinaikkan lewat kode prosedur. Karena CL adalah keluaran grouper atas dokumentasi diagnosis, mengubah kode prosedur untuk mengejar CL bukan hanya tidak efektif β€” pola semacam itu justru yang dicari auditor BPJS saat menelusuri ketidaksesuaian kode dengan rekam medis.


Panduan praktis untuk tim koder dan casemix

  1. Samakan istilah lebih dulu. Sepakati di internal: "severity" hanya untuk INA-CBG, "CL" hanya untuk iDRG. Perbaiki juga template laporan internal yang masih memakai istilah lama untuk data iDRG.
  2. Fokuskan perbaikan di hulu. Kelengkapan diagnosis sekunder di CPPT dan resume medis adalah satu-satunya cara sah menaikkan CL.
  3. Lakukan validasi sebelum submit. Bandingkan CL keluaran grouper dengan gambaran klinis di rekam medis; selisih yang besar biasanya menandakan dokumentasi yang belum terbaca, bukan grouper yang keliru.
  4. Jangan konversi angka. Saat dual-running INA-CBG dan iDRG, bandingkan tarif akhir per episode, bukan mencocokkan tingkat keparahan satu lawan satu.

Catatan status

iDRG masih dalam masa uji coba dan transisi; belum ada tanggal berlaku nasional yang ditetapkan. Angka dan struktur pada artikel ini mengacu pada dokumen resmi Kemenkes dan berkas klaim iDRG yang sudah berjalan. Rumah sakit tetap perlu memverifikasi ke edaran terbaru sebelum mengubah kebijakan koding internal.

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat β€” langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 60+ rumah sakit di 10+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSD WongsonegoroRSD Wongsonegoro
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RS Islam Jemursari SurabayaRS Islam Jemursari Surabaya
RS Islam Arafah JambiRS Islam Arafah Jambi
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSD Wongsonegoro
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RS Islam Jemursari Surabaya
RS Islam Arafah Jambi
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru