📚 Bagian dari panduan: Panduan Rekam Medis Elektronik

RME Penunjang: 3 Titik Gagal Lab, Radiologi, dan Farmasi di 6 Layanan Inti

Vera MedMinutes, Content & Marketing MedMinutes · · 7 menit baca
RME Penunjang: 3 Titik Gagal Lab, Radiologi, dan Farmasi di 6 Layanan Inti

Dari enam layanan inti yang menjadi acuan kepatuhan RME rumah sakit, Layanan Penunjang (laboratorium dan radiologi) serta Farmasi paling sering jadi titik yang belum tuntas — bukan karena RS tidak punya sistemnya, melainkan karena data dari ketiganya tidak sampai utuh ke RME dan SATUSEHAT. Artikel ini membedah tiga titik gagal spesifik dan langkah konkret Wadir Pelayanan menutupnya.


Kenapa Layanan Penunjang Selalu Tertinggal

RS umumnya menuntaskan RME rawat jalan dan rawat inap lebih dulu karena volumenya besar dan langsung terlihat dalam audit harian. Laboratorium, radiologi, dan farmasi berbeda: ketiganya sering sudah punya sistem pendukung sendiri — Laboratory Information System (LIS), sistem penyimpanan gambar radiologi, dan aplikasi apotek — yang dipasang sebelum RME ada dan berjalan sebagai unit yang cukup mandiri secara operasional.

Karena sistem-sistem ini "sudah jalan" tanpa RME, integrasinya sering tidak dianggap mendesak. Ini yang membuat Layanan Penunjang dan Farmasi jadi dua dari enam layanan inti yang paling terakhir dituntaskan — dan paling sering luput dari pemantauan internal karena tampak sudah berfungsi secara operasional, meski data yang terkirim ke RME dan SATUSEHAT sebenarnya kosong atau tidak lengkap.


3 Titik Gagal yang Paling Sering Ditemukan

Titik 1 — Hasil Laboratorium Dikirim sebagai File, Bukan Data Terstruktur

Banyak RS sudah mendigitalkan laboratorium, tetapi hasilnya keluar sebagai dokumen PDF hasil cetak LIS yang di-attach ke rekam pasien, bukan sebagai data terstruktur per parameter pemeriksaan. Dokter tetap bisa membaca hasilnya, sehingga masalah ini jarang disadari secara klinis. Namun secara kepatuhan, data yang seharusnya terkirim sebagai resource Specimen ke SATUSEHAT tidak pernah terbentuk — RS tercatat tidak mengirim data laboratorium meski pemeriksaan berjalan normal dan volumenya tinggi.

Pola ini paling sering muncul ketika LIS berasal dari vendor yang berbeda dari SIMRS utama dan belum ada jalur bridging otomatis di antara keduanya, sehingga hasil hanya "dipindahkan" secara visual, bukan secara data.

Titik 2 — Laporan Radiologi Terpisah dari Gambar PACS

Radiologi punya dua komponen: gambar pencitraan yang tersimpan di PACS, dan laporan ekspertise dari dokter spesialis radiologi. Yang sering terjadi, gambar tersimpan rapi di PACS internal, tetapi laporan ekspertise-nya diketik terpisah — di Word, di sistem lain, atau bahkan masih manual — dan tidak pernah tertaut kembali ke episode pasien di RME.

Akibatnya, data radiologi yang sampai ke SATUSEHAT hanya sebagian atau tidak konsisten: kadang gambar tercatat tanpa laporan, kadang sebaliknya. Untuk kepatuhan enam layanan inti, keduanya harus saling tertaut sebagai satu kesatuan data pada episode pemeriksaan yang sama, bukan dua arsip yang berjalan sendiri-sendiri.

Titik 3 — Resep dan Penyerahan Obat Tidak Terkirim Berpasangan

Peresepan oleh dokter dan penyerahan obat oleh instalasi farmasi adalah dua peristiwa data yang berbeda dan harus terkirim berpasangan. Ketika sistem apotek berjalan terpisah dari SIMRS — misalnya untuk mengelola stok dan racikan — sistem itu kerap hanya mencatat transaksi keluar-masuk barang, tanpa mengaitkannya kembali ke resep elektronik dokter.

Hasilnya: resep tercatat di RME, tetapi bukti penyerahan obat ke pasien tidak pernah terkirim sebagai data yang tertaut, atau sebaliknya. Secara operasional pasien tetap menerima obatnya dengan benar, tetapi secara data, layanan Farmasi tercatat tidak lengkap.


Demo Gratis 30 Menit
Lihat langsung berapa
revenue RS Anda yang bocor
Dalam 30 menit, kami analisis data klaim RS Anda — langsung di depan Anda.
Jadwalkan Demo
Tanpa biaya, tanpa kewajiban

Dampak ke Klaim BPJS, Bukan Cuma ke Kepatuhan RME

Ketiga titik gagal ini bukan hanya soal skor kepatuhan RME. Berkas klaim INA-CBG membutuhkan bukti penunjang — hasil lab, hasil radiologi, dan bukti pemberian obat — yang konsisten dengan diagnosis dan tindakan yang diajukan. Ketika data ini tersebar di sistem terpisah dan tidak tertaut rapi ke RME, tim casemix harus menelusurinya secara manual saat menyiapkan berkas klaim, dan celah itu memperbesar risiko berkas tidak lengkap saat verifikasi oleh BPJS Kesehatan.

Dengan kata lain, menutup tiga titik gagal ini bukan hanya soal lolos audit MRMIK saat survei STARKES, tetapi juga soal mempercepat siklus klaim dan mengurangi potensi dispute yang berasal dari bukti penunjang yang tidak siap.


Checklist Verifikasi 3 Titik Gagal

TitikYang DiperiksaTanda Gap
LaboratoriumHasil per parameter pemeriksaan tersimpan sebagai data terstruktur di RME, bukan hanya file pindai/PDF hasil cetak LISRekam pasien hanya memuat lampiran dokumen hasil lab, bukan nilai parameter yang bisa dibaca sistem
RadiologiGambar PACS dan laporan ekspertise dokter spesialis tertaut pada episode pemeriksaan yang sama di RMEGambar tersimpan di PACS tetapi laporan ekspertise dicatat di sistem/dokumen lain yang terpisah
FarmasiSetiap resep elektronik memiliki catatan penyerahan obat yang tertaut, bukan hanya catatan stok keluar-masukSistem apotek mencatat transaksi barang tanpa kaitan ke resep elektronik dokter di RME

Cara cepat memverifikasi: bandingkan jumlah permintaan pemeriksaan/resep dari register operasional (buku permintaan lab, jadwal radiologi, resep harian) dengan jumlah data terstruktur yang benar-benar tersimpan di RME untuk periode yang sama. Selisih besar adalah sinyal salah satu dari tiga titik ini bermasalah.


Langkah Wadir Pelayanan Menutup Tiga Titik Gagal

Untuk Laboratorium — pastikan LIS memiliki jalur bridging otomatis ke SIMRS yang mengirim hasil per parameter, bukan hanya dokumen hasil cetak. Jika LIS saat ini tidak mendukung ekspor data terstruktur, ini jadi kriteria wajib pada evaluasi atau pembaruan sistem laboratorium berikutnya.

Untuk Radiologi — tetapkan alur kerja agar laporan ekspertise dokter spesialis radiologi wajib diinput langsung ke RME dan tertaut ke episode gambar PACS yang sama, bukan dikerjakan di sistem terpisah. Ini lebih banyak soal SPO dan kedisiplinan input daripada investasi sistem baru.

Untuk Farmasi — minta asesmen dari tim TI: apakah sistem apotek saat ini dapat di-bridge agar setiap transaksi penyerahan obat otomatis tertaut ke resep elektronik. Jika sistem farmasi sepenuhnya terpisah dari SIMRS, evaluasi kontrak vendor untuk memastikan integrasi ini masuk dalam cakupan layanan yang sudah dibayar.

Ketiga langkah ini adalah keputusan operasional dan anggaran yang berada di tangan Wadir Pelayanan, bukan sekadar pekerjaan teknis tim TI — karena yang menentukan prioritas dan alokasi sumber daya untuk menutup gap ini adalah level manajerial, bukan level pelaksana sistem.

Untuk checklist menyeluruh keenam layanan inti (termasuk Pendaftaran, IGD, Rawat Jalan, dan Rawat Inap), lihat panduan lengkap di RME Belum Lengkap 6 Layanan Inti: Cara Wadir Pelayanan Menutup Gap.


Dasar Hukum


Sumber

  1. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Kementerian Kesehatan RI. "Wajib Integrasi Satu Sehat, Kemenkes Desak Percepatan RME di Fasyankes." badankebijakan.kemkes.go.id. Data per Oktober 2025 — kerangka enam layanan inti sebagai acuan kepatuhan RME.
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. jdih.kemkes.go.id / peraturan.bpk.go.id.
  3. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1423/2022 tentang Pedoman Variabel dan Meta Data Rekam Medis Elektronik. Kemenkes RI.
  4. Surat Edaran Menteri Kesehatan HK.02.01/MENKES/1030/2023 tentang Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik di Fasyankes. satusehat.kemkes.go.id/platform/supporting-policies.
  5. SATUSEHAT Platform — Dokumentasi Interoperabilitas (Specimen, Imaging Study, Medication Request/Dispense). satusehat.kemkes.go.id/platform/docs/id/interoperability/.

FAQ

Kenapa Layanan Penunjang dan Farmasi lebih sering gagal lengkap dibanding Rawat Jalan atau Rawat Inap?

Rawat jalan dan rawat inap biasanya menjadi prioritas pertama saat RS membangun RME karena volumenya besar dan mudah terlihat dalam audit harian. Laboratorium, radiologi, dan farmasi sering dijalankan dengan sistem pendukung terpisah (LIS, PACS, sistem apotek) yang dipasang lebih dulu sebelum RME ada, sehingga integrasinya jadi pekerjaan tambahan yang tidak otomatis selesai ketika SIMRS utama sudah berjalan.

Apa akibatnya jika hasil laboratorium atau radiologi hanya berupa file PDF hasil pindai, bukan data terstruktur?

Secara operasional dokter tetap bisa membaca hasilnya, tetapi secara kepatuhan RS dianggap belum mengirim resource Specimen atau Imaging Study yang valid ke SATUSEHAT. File pindai tidak bisa diuraikan sistem menjadi data terstruktur, sehingga layanan penunjang tercatat sebagai tidak aktif meski pemeriksaan sudah dilakukan dan hasilnya sudah dilaporkan ke dokter.

Kenapa modul Farmasi bisa dianggap belum lengkap padahal resep dan obat sudah keluar ke pasien?

Peresepan (Medication Request) dan penyerahan obat (Medication Dispense) adalah dua data terpisah yang harus terkirim berpasangan. Jika sistem apotek berjalan sendiri di luar SIMRS dan hanya mencatat transaksi keluar-masuk stok tanpa mengaitkannya ke resep elektronik dokter, data yang terkirim ke SATUSEHAT jadi tidak lengkap meski obat sudah benar-benar diserahkan ke pasien.

Bagaimana gap di layanan penunjang bisa memengaruhi klaim BPJS?

Berkas klaim INA-CBG mensyaratkan bukti penunjang — hasil lab, hasil radiologi, dan bukti pemberian obat — yang konsisten dengan diagnosis dan tindakan yang diklaim. Ketika data penunjang tidak tercatat rapi di RME dan harus dicari manual dari sistem terpisah saat verifikasi, risiko berkas tidak lengkap naik, dan itu memperbesar peluang klaim pending atau dispute.

Share
Konsultasi Gratis
Frustasi dengan vendor
SIMRS Anda?
Ceritakan situasi RS Anda. Dalam demo 30 menit, kami tunjukkan berapa yang bisa dihemat — langsung dari data klaim Anda.
Chat via WhatsApp
Jawab < 1 jam di jam kerja

Dipercaya 60+ rumah sakit di 10+ provinsi

RSUP Dr. Hasan SadikinRSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. AndalasRS Univ. Andalas
RSD WongsonegoroRSD Wongsonegoro
RS Bethesda YogyakartaRS Bethesda Yogyakarta
RS SMC TelogorejoRS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira TamtamaRST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE MartadinataLADOKGI RE Martadinata
RS Islam Jemursari SurabayaRS Islam Jemursari Surabaya
RS Islam Arafah JambiRS Islam Arafah Jambi
RS Roemani MuhammadiyahRS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. CiptoRS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman BanjarbaruRSD Idaman Banjarbaru
RSUP Dr. Hasan Sadikin
RS Univ. Andalas
RSD Wongsonegoro
RS Bethesda Yogyakarta
RS SMC Telogorejo
RST Bhakti Wira Tamtama
LADOKGI RE Martadinata
RS Islam Jemursari Surabaya
RS Islam Arafah Jambi
RS Roemani Muhammadiyah
RS Panti Wilasa Dr. Cipto
RSD Idaman Banjarbaru