Tim Klinis Tidak Melihat Catatan Profesi Lain: Arsitektur RME yang Terpecah
RME yang sudah terpasang bukan jaminan dokter, perawat, farmasi, dan gizi saling melihat catatan satu sama lain. Scoping review 2026 atas 22 studi menyebut "fragmented information architecture" dan "limited team-level visibility" sebagai hambatan teknologi utama kepatuhan dokumentasi RME di RS multiprofesi — akar masalah yang berbeda dari sekadar "data belum lengkap". Panduan ini untuk Wadir Pelayanan: cara mendiagnosis arsitektur yang terpecah, dan kriteria menilai apakah cukup dikonfigurasi ulang atau harus diganti.
Arsitektur RME Terpecah Itu Apa, dan Kenapa Beda dari "RME Belum Lengkap"
Arsitektur RME yang terpecah terjadi ketika data klinis sudah tersimpan di RME, tetapi setiap profesi — dokter, perawat, apoteker, ahli gizi — mengaksesnya dari modul atau layar yang terpisah, sehingga catatan satu profesi tidak otomatis terlihat oleh profesi lain pada rekam pasien yang sama. Ini berbeda dari masalah kepatuhan pengiriman data ke SATUSEHAT yang dibahas pada enam layanan inti RME — RS bisa saja sudah lengkap secara pengiriman data nasional, tapi tetap bermasalah secara visibilitas internal antar profesi.
Perbedaan ini penting karena solusinya berbeda. Gap enam layanan inti biasanya soal bridging teknis ke platform eksternal. Gap visibilitas antar profesi adalah soal bagaimana RME dirancang dan dikonfigurasi di dalam rumah sakit sendiri — siapa melihat apa, di mana, dan kapan. RS yang hanya mengejar kepatuhan pengiriman data berisiko melewatkan masalah ini sama sekali, karena dashboard kepatuhan SATUSEHAT tidak mengukur visibilitas lintas profesi.
4 Titik Buta Visibilitas Antar Profesi dalam Arsitektur RME yang Terpecah
Menurut scoping review yang ditulis Sijabat dkk. (2026) dari Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran — menelaah 608 catatan dan menyaring 22 studi empiris tentang kepatuhan dokumentasi RME di RS multiprofesi menggunakan lensa sosioteknis — hambatan teknologi yang paling sering muncul adalah "poor usability, access friction, fragmented information architecture, and limited team-level visibility" (Sijabat PB dkk., Journal of Multidisciplinary Healthcare, 2026). Empat pola konkret yang muncul dari gambaran ini di RS Indonesia:
1. CPPT terisi tapi tidak "mengalir" ke modul lain. Dokter atau perawat mengisi Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), tetapi apoteker di modul farmasi atau ahli gizi di modul asuhan gizi tidak melihat entri terbaru tanpa membuka tampilan terpisah. CPPT ada secara dokumen, tapi tidak berfungsi sebagai titik temu lintas profesi secara real-time.
2. Instruksi dokter dan validasi perawat berjalan di jalur berbeda. Instruksi medis yang dicatat dokter kadang baru terlihat perawat setelah jeda, atau sebaliknya — observasi perawat tidak otomatis muncul di layar yang dibuka DPJP saat visite. Review mencatat "access friction" sebagai hambatan yang berulang: bukan karena data tidak ada, tapi karena perlu langkah tambahan (ganti modul, cari menu, login ulang) untuk melihatnya.
3. Riwayat alergi dan interaksi obat tidak otomatis lintas profesi. Informasi yang dicatat satu profesi — misalnya alergi yang dicatat perawat saat admisi — idealnya langsung terlihat oleh dokter dan apoteker tanpa perlu dicari manual. Ketika arsitektur terpecah, informasi kritis seperti ini bergantung pada inisiatif individu untuk membuka modul lain, bukan pada desain sistem.
4. Catatan gizi dan penunjang lain berdiri sendiri. Ahli gizi, fisioterapis, atau tenaga penunjang lain sering punya modul pencatatan sendiri yang tidak terhubung ke tampilan utama CPPT yang dilihat DPJP dan perawat — sehingga asuhan kolaboratif yang seharusnya satu kesatuan tetap terasa seperti beberapa rekam medis paralel untuk satu pasien.
Review yang sama menemukan bahwa hambatan individu (variasi kepercayaan terhadap informasi digital, dokumentasi selektif) dan hambatan organisasi (akses workstation terbatas, interupsi kerja, standar yang tidak konsisten, pergantian staf) memperkuat efek arsitektur yang terpecah — artinya ini bukan murni masalah teknis vendor, tapi juga soal bagaimana RS mengelola akses dan standar di lapangan.
Mengapa Punya CPPT Saja Tidak Otomatis Menyelesaikan Masalah
CPPT diwajibkan sebagai catatan asuhan terintegrasi lintas profesi dalam Permenkes 24/2022 tentang Rekam Medis, yang mewajibkan setiap Profesional Pemberi Asuhan (PPA) mencatat pelayanan secara lengkap dan jelas dengan identitas serta waktu pencatatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) pada KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024 Bab MRMIK juga menilai asuhan terintegrasi antarprofesi sebagai bagian dari elemen penilaian kelengkapan rekam medis.
Masalahnya, baik Permenkes 24/2022 maupun STARKES mengatur kewajiban adanya CPPT — bukan cara CPPT ditampilkan di layar masing-masing profesi. RS bisa lolos elemen penilaian "CPPT ada dan terisi" sambil tetap punya arsitektur yang membuat CPPT itu tidak terlihat mudah oleh semua profesi yang seharusnya membacanya. Inilah sebabnya surveyor yang memeriksa dokumen CPPT secara sampel bisa menyatakan kelengkapan terpenuhi, padahal dalam praktik harian tim klinis tetap bekerja dari layar yang terpisah — gap yang baru terasa saat terjadi insiden keselamatan pasien akibat informasi yang terlambat sampai ke profesi lain.
Kriteria Menilai: Konfigurasi Ulang atau Ganti Sistem?
Begitu gap visibilitas terkonfirmasi, hal berikutnya yang perlu dijawab Wadir Pelayanan dan champion IT bukan "ganti SIMRS atau tidak", tapi menjawab tiga hal berurutan lebih dulu — karena ganti sistem adalah keputusan besar dengan biaya dan risiko migrasi yang jauh lebih tinggi daripada konfigurasi ulang.
| Hal yang Diperiksa | Jika Jawabannya "Konfigurasi" | Jika Jawabannya "Arsitektur Dasar" |
|---|---|---|
| Apakah vendor bisa menyatukan tampilan CPPT lintas modul? | Vendor konfirmasi tertulis bisa menyatukan dashboard lintas profesi dalam satu tampilan — lanjut ke penjadwalan konfigurasi. | Vendor menyatakan modul-modul dibangun di atas basis data terpisah yang tidak bisa disatukan tanpa pengembangan ulang signifikan. |
| Berapa biaya dan waktu dibandingkan migrasi penuh? | Biaya konfigurasi secara signifikan lebih rendah dan selesai dalam hitungan minggu, bukan bulan. | Biaya konfigurasi mendekati atau melebihi biaya migrasi karena memerlukan pengembangan modul baru. |
| Apakah akar masalahnya perilaku, bukan sistem? | Audit menunjukkan modul lintas profesi sudah tersedia tapi tidak dibuka PPA — solusinya SPO dan pelatihan, bukan teknis. | Audit menunjukkan modul yang relevan memang tidak bisa diakses PPA lain meski sudah mencoba — ini bukan soal kebiasaan. |
Langkah praktis: minta pernyataan tertulis dari vendor SIMRS tentang kapabilitas penyatuan tampilan lintas profesi sebelum membuka diskusi ganti sistem. Banyak kasus arsitektur terpecah adalah konfigurasi yang belum dioptimalkan, bukan keterbatasan platform — menjadikannya keputusan anggaran konfigurasi, bukan proyek migrasi besar.
Langkah yang Bisa Diambil Wadir Pelayanan Minggu Ini
Scoping review yang sama mencatat faktor yang memperbaiki kepatuhan dokumentasi lintas profesi: template yang sejalan dengan alur kerja, otomatisasi dan pengingat, pelatihan yang disesuaikan per disiplin, kolaborasi klinisi-TI, serta mekanisme audit dan umpan balik berkala. Diterjemahkan ke lever keputusan Wadir Pelayanan:
- Minta demo tampilan lintas profesi dari vendor — bukan demo per-modul terpisah, tapi skenario satu pasien dibuka bersamaan oleh dokter, perawat, dan apoteker untuk melihat langsung apa yang terlihat dan apa yang tidak.
- Tetapkan satu pemilik standar tampilan CPPT — biasanya Komite Rekam Medis bersama Kabag TI — agar perubahan konfigurasi tidak diputuskan sepihak oleh satu unit tanpa mempertimbangkan profesi lain.
- Jalankan audit sampel bulanan, bukan hanya saat mendekati survei akreditasi: ambil 5–10 rekam pasien aktif, periksa apakah entri satu profesi benar-benar terlihat profesi lain tanpa langkah tambahan.
- Masukkan pelatihan berbeda per peran — dokter, perawat, dan apoteker punya titik akses dan kebiasaan kerja yang berbeda, sehingga pelatihan seragam cenderung tidak menutup gap yang spesifik per profesi.
Dasar Hukum
- Permenkes 24/2022 tentang Rekam Medis — mewajibkan setiap Profesional Pemberi Asuhan mencatat pelayanan secara lengkap, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan identitas dan waktu pencatatan; Pasal 3 ayat (1) mewajibkan penyelenggaraan rekam medis secara elektronik di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
- KMK HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) — Bab Manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (MRMIK) menilai kelengkapan dan integrasi asuhan antarprofesi dalam rekam medis sebagai elemen penilaian survei akreditasi.
Sumber
- Sijabat PB, Somantri I, Komariah M, Aziz MA, Afriana R. "Barriers and Facilitators to Electronic Health Record Documentation Compliance in Multidisciplinary Hospital Settings: A Scoping Review." Journal of Multidisciplinary Healthcare. 2026;19:620050. doi:10.2147/JMDH.S620050 — diakses via PubMed (PMID 42453547).
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. jdih.kemkes.go.id.
- Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit, Bab MRMIK. jdih.kemkes.go.id.
FAQ
Apa beda "RME belum lengkap" dengan "arsitektur RME yang terpecah"?
"RME belum lengkap" berarti ada layanan yang datanya belum terkirim ke SATUSEHAT — masalah kepatuhan pengiriman. "Arsitektur RME yang terpecah" adalah masalah berbeda: datanya sudah masuk RME, tapi dokter, perawat, farmasi, dan gizi mengaksesnya dari layar atau modul yang terpisah sehingga tidak saling terlihat. RS bisa dinyatakan lengkap secara SATUSEHAT tapi tetap bermasalah secara visibilitas antar profesi.
Bagaimana cara mendeteksi apakah RME kami punya masalah visibilitas antar profesi?
Minta satu DPJP, satu perawat, dan satu apoteker membuka rekam yang sama pada waktu yang sama, lalu tanyakan apakah mereka melihat catatan terbaru profesi lain tanpa pindah modul atau login ulang. Tanda gap paling umum: CPPT yang terisi tapi tidak muncul di layar farmasi, instruksi dokter yang baru terlihat perawat setelah jeda, atau catatan gizi yang hanya bisa dibuka dari menu terpisah.
Apakah masalah ini bisa diperbaiki tanpa ganti SIMRS?
Sering bisa. Banyak kasus adalah konfigurasi modul yang belum disatukan dalam satu tampilan CPPT, bukan keterbatasan platform. Vendor SIMRS umumnya punya opsi menyatukan tampilan lintas modul; pertanyaan pertama adalah ke tim TI dan vendor, bukan langsung ke keputusan ganti sistem. Ganti sistem baru dipertimbangkan jika vendor mengonfirmasi keterbatasan arsitektur dasar yang tidak bisa dikonfigurasi ulang.
Apa yang harus diperiksa sebelum memutuskan ganti sistem RME karena masalah visibilitas ini?
Periksa tiga hal: pertama, apakah keterbatasan ada di level konfigurasi atau arsitektur dasar platform (minta pernyataan tertulis dari vendor). Kedua, berapa biaya dan waktu konfigurasi ulang dibandingkan migrasi penuh. Ketiga, apakah masalah sebenarnya di perilaku pengguna — PPA tidak membuka modul yang tersedia — bukan di sistemnya. Ganti sistem adalah keputusan besar dan sebaiknya jadi opsi terakhir setelah dua hal pertama dipastikan bukan solusinya.
Siapa yang seharusnya memimpin penyelesaian masalah visibilitas antar profesi ini?
Ini keputusan tata kelola, bukan hanya teknis, sehingga pemiliknya adalah Wadir Pelayanan bersama Komite Rekam Medis — bukan tim TI sendirian. Tim TI mengeksekusi konfigurasi; Wadir dan Komite Rekam Medis menetapkan standar tampilan CPPT lintas profesi, memastikan pelatihan berbeda per peran, dan membangun mekanisme audit berkala agar perbaikan tidak kembali terdegradasi setelah beberapa bulan.
Dipercaya 60+ rumah sakit di 10+ provinsi











